Menikahlah Denganku

“Menikahlah denganku?” pintamu berulang kali dan berulang kali pula aku katakan tidak, ya aku selalu menolaknya tapi sepertinya tak pernah ada kata menyerah dalam kamusmu. Kau selalu mengulanginya…lagi, lagi dan lagi.

Kau tahu pasti alasan aku menolakmu walaupun dalam hati aku ingin sekali berteriak memelukmu mengatakan iya. Tapi kau tak perduli, cintamu padaku telah membuatmu tak bisa berpikir tentang masa depanmu lagi. Kaulah pria terbodoh yang pernah aku kenal.

Aku tak ingin belas kasihmu, aku tak ingin membebanimu, aku tak ingin kehidupanmu yang telah sempurna menjadi rusak hanya karena aku. Aku tak mau hidupmu kau habiskan hanya untuk melayaniku, menemaniku dari satu operasi ke operasi lainnya, dari satu terapi ke terapi lainnya. Aku tak ingin dan tak mau. Aku tak ikhlas membuatmu merasakan penderitaan yang aku rasakan.

Aku bukanlah wanita sempurna, kau paham benar tentang itu, tapi kau tetap ada di sisiku, selalu setia menemaniku melewati hari-hari terberatku, tak pernah sedetik pun beranjak dari sisiku.

”Izinkan aku menemanimu! Izinkan aku merasakan penderitaanmu! Aku mencintaimu bukan karena apa yang terjadi padamu aku mencintaimu karena dirimu adalah Pelangi, pelangi hatiku.” kalimat yang senantiasa kau ucapkan saat rasa sakit di payudara ini datang menyerang memberikan sedikit kedamaian dan ketenangan di jiwaku yang hampir putus asa.

Aku benar-benar lelah dengan apa yang kau telah kau lakukan, hatiku menyerah kau berhasil meyakinkan hati dan penyakitku bahwa aku memang butuh dirimu sebagai kekuatanku.

Tapi hari ini aku menyesalinya, sangat menyesalinya, andai saja aku terus melawan keegoan hatiku, tetap gigih dengan logikaku untuk tidak menerimamu pasti kau telah berhasil menjemput impian-impian hebatmu, menjadi kesatria bagi semua orang bukan di sini di dalam gundukan tanah yang gelap, dingin dan pengap.

Kebodohanmu yang selalu ingin terus menemaniku merasakan penderitaan ini membuatmu tak berpikir tentang kesehatanmu yang dari hari ke hari semakin menurun, tak ada gurat kesakitan yang menghias hanya tawa lepas yang tersisa. Kau lebih menderita dari aku. Aku memang jahat, berhasil memasukanmu dalam penjara penuh penderitaan.

Maafkan aku Tuhan…

*Judul kedua di hari ke 15 #15HariNblogFF*

Advertisements

Kalau Odol lagi Jatuh Cinta

*Nyumbang untuk hari ke 13 #15HariNgeblogFF makin parrrraahhh 🙂 *

*****

I’m in love… ya akhirnya aku merasakannya juga, perasaan yang katanya indah tapi sanggup berbuat kejahatan…mmmhh…masa sih…perasaan yang telah mengetuk tiap centi lekuk tubuhku membuatku merasakan kehidupan sebenarnya.

Aku jatuh cinta padamu…

Dirimu yang telah membuatku semakin menyadari mengapa aku dihadirkan, aku sangat menikmati setiap menit bersamamu, tubuhmu yang tinggi langsing aduhai dengan bulu-bulu tipis menggoda yang ternyata cukup kuat untuk menahan beban tubuhku meskipun aroma tubuhku begitu menyengat.

Tak pernah sekalipun kulihat bulu-bulumu mengkerut saat aku mulai mendekatimu. Bulu-bulumu selalu terlihat sumringah menyambut kedatanganku tak ada sedikit pun lelah yang tergurat. Aku makin mencintaimu.
Karena dirimu juga aku berhasil mengenalnya, si cantik putih menawan. Sungguh terkagum aku dibuatnya hingga tak bosan rasanya untuk terus menatapnya. Aku benar-benar tergoda dengan kilaunya dan dalam hati aku pun berjanji untuk selalu menjaganya, menjaga putihnya, menjaga aroma tubuhnya, menjaga agar dirinya tetap ada di sana.

Tak akan kubiarkan siapa pun, apapun untuk menularkan bakterinya hingga membuatnya merasakan sakit berkepanjangan dan akhirnya dia pergi meninggalkan aku. Jika itu terjadi aku merasa gagal, benar-benar gagal.

Aku cinta dirimu dan dirinya…

Tak bisa aku memilih karena aku mencintai kalian, tak bisa hidup tanpa kalian, kalian cinta pertama dan terakhirku. Izinkan aku membagi cintaku ini hanya pada kalian berdua. Kalianlah pelengkap hidupku. Aku butuh kalian, kalian pun membutuhkanku.

Mencintai kalian memang mengasyikkan, membuatku benar-benar bersemangat, rindu yang tak ada habisnya. Sehari saja tak bertemu kalian tak mampu aku membayangkannya….

Tetaplah di sisiku selamanya….

“Sikat gigi aja kok lama banget sih bunda…”

“Hehehe….”

“Pasti ngelamun aneh lagi.”

“Kalau papa jadi odol bakalan milih siapa? Si sikat atau si gigi?”

“Mmmhh…pertanyaan jebakan nih….”

“Ayo jawab dong pah….”

“Yang pasti istri dan anakku adalah pelengkap hidupku. Tetaplah di sisiku ya bunda.”

Merindukanmu itu memang seru!

Menatap kalender yang setelah kuhitung-hitung ternyata sudah hampir 1 bulan, ya 1 bulan sejak pertemuan terakhir kita di bioskop itu, pertemuan manis yang diakhiri dengan satu kecupan manis di bibirku dan sejak saat itu pula tak ada kabar apapun darimu.

Aku hampir putus asa, jiwaku hampa tak bertuan. Biasanya hanya 1 atau 2 hari saja kau menghilang dan kau menggantinya dengan menghabiskan waktu seharian bersamaku tetapi ini waktu terlama yang berhasil kau pecahkan. Hebat.

Kembali ku tatap satu foto dirimu yang terpajang apik di handphoneku berharap bisa sedikit mengobati kerinduanku, mata bulat bersinar dengan senyum lepas semakin memperjelas lekukan di pipi kananmu membuat wajahmu terlihat semakin manis, aku terbius hingga tak menyadari handphoneku bergetar dan…

Maaf ‘yang untuk 1 hingga 3 bulan ke depan kita tak bisa bertemu lagi. Keluargaku sepertinya mulai mencurigai kita dan mereka benar-benar mengawasi setiap gerak-gerikku. Jangan menghubungiku di nomor ini lagi. Aku yang akan menghubungimu. Jadi tunggulah. Aku sangat merindukanmu.  

Aku pun merindukanmu mas. Merindukanmu membuatku menangis, merindukanmu menyakitkan, merindukanmu membuatku tersenyum bahagia karena merindukanmu membuat adrenalinku tertantang, aliran darahku serasa mengalir lebih cepat.

Merindukanmu itu memang seru, merindukanmu itu memang ngeselin, merindukanmu itu memang nyebelin dan aku sangat menikmati setiap bagiannya.

“mah…sarapannya udah siap belum? mah…mah…”

“Maaaff ‘pah.”

“Kok pagi-pagi udah bengong sih? Sms dari siapa mah? kok wajahnya berubah gitu sih?”

“Temen mamah ‘pah, cuma temen kok ‘pah.”

“Oooohhh…”

“Ayo pah kita sarapan!”

Merindukanmu membuatku semakin menyayangi suamiku.

*Khayalan gazebo lagi setelah 2 hari bed rest huuufffttt akhirnya nyambung #15HariNgeblogFF lagi 😉 *

Day 9: “Inilah Aku Tanpamu”

*Bertekad harus sampai finish #15HariNgeblogFF, biar telat ga peduli…#maksa# tetep semangat 😉 *

*****

Sudah kuputuskan, berat dan tidak mudah memang tapi harus, aku harus berani, meski hati ini harus terluka dan merasakan perih, tapi setidaknya aku telah berjuang, berjuang untuk kehidupanku sendiri, berjuang untuk masa depanku. Bukankah tiada seorangpun yang bisa merubah kehidupan kita jika bukan kita sendiri yang melakukannya dan inilah hari penentuan itu.

Aku sengaja datang 1 jam lebih awal dari waktu yang telah dijadwalkan, selain karena tak ingin telat, aku ingin segera mengakhirinya. Mengakhiri penderitaanku dan memulai kehidupan baru. Tak peduli lagi dengan gelar atau sindiran yang akan aku terima. Karena akulah pemilik kehidupanku.

Jantungku seakan berdetak sangat cepat saat kaki-kaki ini melangkah mendekati sebuah bangunan yang tidak terlalu besar dengan cat hijau samar hampir mendekati warna dasarnya. Bangunan yang dalam impianku pun tak ingin aku datangi. Bangunan yang sangat dihindari oleh setiap pasangan.

Ya Tuhan ringankanlah langkahku, aku menyadari pasti Engkau membenci cara yang aku pilih. Tapi, Engkaulah yang Maha mengetahui mengapa aku memilih jalan ini.

Ternyata, aku datang tidak lebih pagi, sudah banyak orang yang mengantri di sana. Masya Allah…ternyata tidak sedikit yang mengambil keputusan yang sama dengan diriku. Mengapa harus ada pertemuan jika akhirnya harus terpisah.

…dan diantara keramaian itu, aku seperti mengenal satu sosok wajah itu.

“Sudah siap kau?”

“Insya Allah. Aku pikir dirimu tak akan datang memenuhi undangan itu.”

“Aku pasti datang tapi bukan memenuhi untuk undanganmu tapi menjemputmu. Kau masih bisa merubah keputusanmu dan aku akan siap menerimamu kembali.” pintamu angkuh.

“Maaf, aku tak bisa.”

“Aku mohon…aku akan berubah, aku akan menjadi seperti yang kamu mau. Aku janji sayang.”

“Maaf, jangan lagi kau umbar janjimu. Aku tetap dengan keputusanku.”

“Wanita keras kepala, kamu ga akan bisa hidup tanpa aku. Bukankah itu yang selalu kamu ucapkan?!”

“Ya inilah aku yang sekarang. Inilah aku hari ini. Dirimu takkan temukan Nuke yang dulu. Nuke yang bodoh, Nuke yang naif, Nuke yang penurut.”

“Tapi Radit butuh aku, kamu jangan lupa itu!”

“Kamu memang ayahnya, tapi Radit tidak butuh kamu.” Aku pun berlalu dari hadapannya, membiarkannya merasakan kekalahannya.

*****

Inilah aku dengan kehidupan baruku, kehidupan tanpa rasa takut yang selalu saja berhasil menyelinap masuk memenuhi setiap ruang tubuhku.

Kini aku tak perlu bersembunyi lagi saat kau mengetuk pintu dengan keras memaksa masuk bersama satu botol alkohol di tanganmu. Aku tak perlu meminjam uang tetangga hanya untuk membayar utang-utang taruhanmu yang tak pernah ada akhirnya. Aku tak perlu lagi menangis memohon belas kasihmu untuk berhenti memukul Radit hanya karena ia menangis. Aku tak perlu lagi menerima tamparanmu saat aku telat menyajikan sarapan pagi. Aku tak perlu lagi berbohong pada kedua orang tuaku saat mereka melihat luka lebam di wajahku.

Inilah aku tanpamu, kebahagiaan yang seharusnya sejak dulu aku miliki. Aku telah menjemput impianku.

Day 8 : “Aku Benci Kamu Hari ini”

Aku benci kamu hari ini, benci kamu yang kemarin, kemarin, dan kemarinnya lagi. Aku benci…..

“Sudah lama kamu di sini?”, tanya pria setengah baya yang tampak makin terlihat tua, garis-garis kerutan di keningnya semakin memperkuat usianya yang sudah setengah abad, ditambah rambut putih yang menguasai hampir seluruh bagian atas kepalanya.

“Belum pak”, jawabku meraih tangan dan menciumnya.

Tangan ini, entah sudah berapa lama aku tak menciumnya. Tangan yang dulu sering memandikanku sebelum dirinya berangkat kerja. Tangan yang dulu menuntunku untuk bisa berdiri, berjalan dan akhirnya berlari. Tangan yang selalu membacakan dongeng sebelum tidur, tangan yang mengajariku menulis,dan membaca. Tangan yang mengajariku mengenal dunia.

“Rapatnya belum selesai, kamu ke kamar aja ya. Ini.” Tangannya menyerahkan sebuah kartu, dan amplop putih cukup tebal, “Ga banyak tapi lumayanlah. 405 ya.”

“Terima kasih pak”.

“Menginap saja ya?” Pintanya mengharap

“Aku ga bawa baju pa, besok masuk pagi”. Tolakku halus.

“Ya, sudah. Tunggu di kamar aja dulu”, tampak bulir-bulir kekecewaan itu hadir mengusik.

“Iya pa.” anggukku menyetujui.

“Maaf nak, sepertinya meetingnya akan sampai larut malam. Terserah kalau kamu mau tetap menunggu”.

“Aku pulang aja deh pa”

“Ya sudah, kuncinya kasih ke receptionist saja ya”

*****

“Bapak ga ada”, teriak suara di seberang sana.

“Bapak emang ga ada”, langsung terputus. Aneh, Bapak memang tidak ada di sini, sudah hampir 2 tahun bapak tidak tinggal dengan kami dan rasanya hampir semua orang mengetahuinya.

”Kakaaak….” Teriakan ibu membuyarkan lamunanku.

”Bapakmu…,” tangis ibu meledak pilu.

*****

”Puas sekarang kamu, puas…lihat apa yang sudah kamu lakukan. Betapa egoisnya dirimu. Manusia sombong. Aku benci kamu hari ini, kemarin, kemarin dan kemarinnya lagi. Kenapa kau hanya mencium tangannya? Kenapa tak peluk dirinya? Dia membutuhkanmu. Kenapa kau tidak menunggunya saja hingga meeting selesai? Kenapa kau tidak terima saja ajakannya untuk menginap? Kau pasti bisa menolongnya saat serangan jantung itu datang. Kenapaaaaaa…..?”

”Diaaaammmmmmmmm…..” teriakku histeris dan melemparkan gelas yang ada di dekatku ke dirinya, sebagian wajahnya hancur tak beraturan.

”Kebencian benar-benar telah merusak hatimu.” ucapnya sebelum ia benar-benar menghilang bercampur dengan serpihan

*Jarang-jarang nih bisa ngirim #15HariNgeblogFF saat matahari masih seneng nangkring 🙂 *

Sepucuk surat (bukan) dariku

Inilah akhir dari penantian panjang kami sebagai sepasang kekasih, cinta kami akan segera terukir di dalam buku hijau. Cinta kami akan benar-benar menyatu dalam satu ikatan resmi.

Entah berapa kali aku melihat jam yang melingkar di tangan kiriku, sepertinya jarum-jarum ini bergerak sangat lambat sangat tidak seirama dengan detak jantungku yang bergerak begitu cepat. Huuffft…aku benar-benar gugup, keringat ini sepertinya tak mau berhenti, terus saja bercucuran, tak menyadari hampir satu bungkus tissue aku habiskan.

“Tenanglah Satria, Insya Allah semuanya akan berjalan lancar. Serahkan semuanya pada Allah”, ibu berusaha menenangkanku dengan usapan lembut di punggungku lalu mencium keningku. Ahhh ibu…kau benar-benar membaca kegugupanku.

“Satria, ayo masuk”, ajak Ayah menuntunku memasuki Masjid

“Hapus keringatmu, nanti bedaknya luntur”, canda ibu.
Ya Tuhan, kenapa jantungku semakin tak beraturan, kenapa Masjid ini tiba-tiba menjadi sangat panas.

“Yang ini pengantin prianya?”, tanya Pak penghulu sambil menyodorkan tangan mengajak bersalaman.

“Iya pa, saya Satria”, jawabku gugup menyambut tangan Pak Penghulu..

“Mana pengantin wanitanya?” tanya penghulu

“Sebentar pak, sedang berjalan kemari”, jelas calon ibu mertuaku dan selang 5 menit kemudian

“Nah, itu dia pengantin wanitanya pak”.

Ya Tuhan, apakah itu kamu Mentari, pupil mataku membesar dan bergerak mengikuti gerakan tubuhmu yang mengalun indah. Mentari benar-benar cantik, aku hampir tak mengenalnya.

Rasanya aku makin tak percaya kalau dirimu bersedia menghabiskan sisa umurmu bersamaku. Bersedia menjadikan aku sebagai Ayah bagi anak-anakmu kelak, bersedia menjadi makmumku. Mentari…

Masih segar diingatanku pertama kali kita bertemu, dan selang 3 bulan kemudian kau menerima pernyataan cintaku dan tiga bulan yang lalu kau menerima pinanganku.

“Sudah siap semuanya…”, kalimat Pak penghulu mengagetkanku.

“Siaaappp”, jawab hadirin seretak.

“Baiklah kita mulai”.

“Tunggu Pak Penghulu, ada yang kurang”, kalimatku mengagetkan Mentari dan seluruh hadirin.

“Maaf Mentari, aku tak bisa meneruskannya”.

“Maksudmu apa mas?” wajah Mentari panik, bingung, airmata mulai menggenangi matanya yang indah.

“Iya, bukan aku  yang seharusnya ada di sini. Aku sangat mencintaimu, sangat menyayangimu, tapi ternyata aku lebih menyayangi mas ku, Mas Aryoku, pria cacat yang telah menjadikanku seorang pria hebat”.

“Apa yang kau lakukan Satria, jangan gila”.

“Aku tak ingin menjadi seorang pengecut mas, bukankah itu yang kau ajarkan padaku.

“Mas Aryo, dirimulah yang lebih pantas untuk menemani Mentari. Aku tahu kau pasti akan menjaganya dengan baik, sangat baik. Aku yakin itu”.

“Mas, apa-apaan sih kamu?” Mentari semakin panik tapi kali ini ada amarah di matanya.

“Maaf Mentari, aku tak bisa menyimpannya lagi. Sepucuk surat itu bukan dari aku. Ya, surat yang selalu kau jaga dengan baik itu bukan dariku. Puisi-puisi cinta itu, kata-kata indah itu bukan aku penulisnya”.

Kau hanya diam mematung, tak ada satu pun kata yang mampu keluar dari bibirmu, hanya matamu yang tetap bicara, ya seketika cinta itu telah berubah.

Maafkan aku Mentari, maafkan aku Mas Aryo….

Mentariku kini telah berlalu tergantikan lembayung senja yang bersiap  berteman dengan Mentari baru.

Kau pun pergi  bersama luka yang telah kami torehkan.

*Di tengah hujan dan mati lampu plus batere laptop yang tinggal seemprit, akhirnya ikut ngeramein hari ke tujuh #15HariNgeblogFF * 🙂

Ada Dia di Matamu

”Kamu tunggu di sini dulu ya Mar. Aku mau ketemu temenku dulu. Dia yang bakal kasih kamu pekerjaan. Kalau ada yang macem-macem kamu tinggal teriak aja, yah…”

“Iya mas, aku ndak akan kemana-mana kok, wong aku ndak tau Jakarta. Aku akan setia menunggumu”.

”Kamu ini bisa aja, kamu memang calon istri yang baik”.

Marni tersenyum manja mendengar rayuan Karto, “Jangan lama-lama ya mas, aku udah lapar nih”, sambil mengusap-usap perutnya.

“Iya  ndak lama kok Diajeng”, kedipan mata kiri Karto membuat Marni tenang.

Akhirnya Marni sampai di Ibukota Jakarta mencoba mengadu nasib dengan bermodal ijazah SMP, Marni berangan-angan memiliki pekerjaan yang lebih layak. Marni ingin membantu bapak yang hanya seorang buruh tani dengan penghasilan tidak tetap bahkan terkadang jika panen gagal, uang sepeser pun tak diterimanya ditambah kondisi bapak sekarang yang sering sakit-sakitan.

Kepergian ibunya lima tahun lalu ke negara Arab yang tak kunjung kembali membuat Marni sebagai anak tertua harus mampu menjadi ibu bagi adik-adiknya.

Dan Karto, Pria yang telah membuat Marni tak ingin menolaknya menjadi suaminya berhasil membawanya meninggalkan kampung halaman, bapak, dan kedua adiknya.

Marni yang tak ingin sedetik pun berjauhan dengan Karto.

“Kamu Marni ya?!” tanya seorang pria tinggi besar dengan banyak tato di kedua tangannya, kepala botak dengan satu anting di telinga kirinya, matanya nanar menatap Marni dari ujung kaki hingga kepala.

“Iya pa, saya Marni”, jawab Marni ketakutan bahkan nyaris tak terdengar, suaranya terjepit di kerongkongan.

Seketika itu juga pria di hadapannya langsung menyambar tubuh Marni dan menaruhnya di bahunya. Marni spontan berteriak dan meronta-ronta, kakinya menendang-nendang tak beraturan, tangannya terus memukul punggung pria itu, mencakar, mencubit, bahkan sesekali giginya turut beraksi. Segala usaha dikerahkannya untuk lepas dari genggaman pria itu, tenaganya hampir habis tapi pria itu sama sekali tak merasakan sakit, bergeming pun tidak. Sia-sia saja usaha Marni.

“Tolooooooong….Mas Kartooooo toloooooong……”, teriak Marni sekuat tenaga tapi sepertinya tak ada yang mendengarnya.

“Hahahaha…..percuma kamu minta tolong….hahaha….simpan saja tenagamu cah ayu”, tangannya menepuk-nepuk pantat Marni yang berada tepat di samping pipinya.
“Lepaasssss….Mas Kartoooooo”, hilang sudah suara Marni, tenaganya benar-benar terkuras, sungguh tak berdaya.

“Dimana aku ini, kepalaku pusing, berat, haus”, Marni terbangun lemas setelah lebih dari 4 jam pingsan. Marni mencoba mengingat kembali peristiwa apa yang baru saja menimpa dirinya, dan Marni terkejut mendapati tubuhnya dengan pakaian sangat minim warna merah tanpa lengan, “bajuku…mana bajuku, baju apa nih, baju siapa ini?” teriak Marni bingung dan histeris.

Lalu masuklah sesosok pria buncit, berambut gondrong dikepang dengan leher dan tangan yang dipenuhi perhiasan mencolok.

“udah bangun kamu cah ayu?”, senyum pria itu dengan wajah penuh nafsu.
“Siapa kamu? Dimana mas Karto? Dimana aku?” teriak Marni ketakutan dan tangis mulai pecah.
“Mas Karto? Hahaha…dia sudah pergi dan kamu dititipkannya padaku…hahaha…” tawanya
“Pergi?”
“Iya pergi”.
Marni duduk terkulai lemas, meratap, memanggil Karto…
“Tidaaaakkk….Mas Karto jangan tinggalin aku”.

***

Enam bulan yang lalu kau ke Jakarta dan sekembalinya kau berubah mas. Sehebat apapun aku berusaha tetap hanya dia.  Hanya ada dia di matamu, hatimu, pikiranmu dan kau sukses mengorbankan aku untuknya, rintih Marni dalam hati penuh kebencian.

*Huuuu….selesai juga hari ke enamnya #15HariNgeblogFF dengan kata hampir mendekati 500*

Jadilah milikku, mau?

*Selesai di detik-detik terakhir, baru hari ke lima #15HariNgeblogFF udah gazebo (ga zelas boooww) 🙂 *

***

”Hai, loe tinggal di sini? Kayaknya baru hari ini deh gw lihat loe”, sapa Bintang sok akrab.

“Hai juga, tidak, sudah hampir satu minggu kok aku tinggal di sini”, jawabnya agak terkejut.

“Kok gw ga pernah lihat loe ya. Oh ya, gue Bintang”, Bintang menyodorkan tangannya mengajak berkenalan.

”Aku Matahari.”

”Wiiihh…silau man…keren juga nama loe.”

”Terima kasih, mamah yang kasih nama itu”.

“Ohh…”

”Rumah kamu yang sebelah mana?”

“Itu yang ada pohon mangganya. udeh ye, gw cabut dulu. Udah telat nih. Selamat datang tetangga baru“.

”Terima kasih”.

Sejak saat itu persahabatan mereka terjalin. Umur mereka yang tidak terpaut jauh membuat mereka cepat akrab, Bintang 3 tahun lebih tua tapi tak menjadikannya lebih dewasa daripada Matahari. Seperti matahari dan bintang mereka adalah dua karakter yang sangat jauh berbeda. Bintang yang sangat pemberani, ceplas-ceplos, tak beraturan, dan mudah tersulut emosinya. Sedangkan Matahari, sungguh sangat pemalu, tertutup, lemah lembut, tutur katanya teratur dan halus.

Bintang selalu hadir untuk Matahari, Bintang selalu menjadi pelindung Matahari. Matahari dengan kelembutannya selalu berhasil meredakan kemarahan Bintang yang meluap-luap dan bertindak semaunya tanpa aturan. Bintang yang selalu berhasil membuat Matahari tersenyum dengan gurauan-gurauannya.

“Bintaaaang….”, Matahari berlari dan langsung memeluk Bintang.

”Ya ampun ‘ri, kenapa bibir loe? Bokap loe mukulin loe lagi? Harus dikasih pelajaran”, wajah Bintang memerah marah dan tangan kanannya mengepal semakin kencang.

”Jangan, biar bagaimana pun dia tetap Ayahku”, halang Matahari dalam tangisnya menahan sakit dengan suara yang hampir hilang. Darah segar terus mengucur dari bibirnya yang sobek.

”Apa loe bilang, Ayah? Loe masih anggap dia Ayah? Gila loe ye, sampai kapan loe bakalan belain dia? Sampai kapan ‘ri?” Bintang benar-benar berteriak-teriak marah, gemrutuk giginya terdengar menahan kesal yang teramat.

”Hanya dia yang kupunya Bintang, hanya dia”, tangis Matahari meledak, “Aku tahu dia jahat, dia bukan ayah yang baik, sejak ibuku meninggal hanya dia yang kupunya. Jika kau menyayangiku, aku mohon jangan sakiti ayahku, Bintang”.

Matahari terus menangis mengiba, kedua tangannya menyatu, memohon Bintang mengurungkan niatnya, Bintang tak kuasa, amarahnya mencair, ia melemah dan tangannya pun menarik tubuh Matahari ke dalam dekapannya, “Jadilah milikku, mau?” tiba-tiba kalimat berbisik itu meluncur begitu saja, melesat tanpa jeda, “maka aku pun akan menjadi milikmu dan kau tak perlu tinggal dengan si tua keparat itu. Jadilah Matahariku”.

Matahari langsung mengendurkan dekapannya, menatap tajam ke arah mata Bintang. Mereka pun saling berpandangan, wajah mereka bergerak semakin mendekat hingga  desahan napas terasa menerpa wajah mereka…

****

“Jadilah milikku, maukah kau?”
“Jadilah matahariku…”

Hanya kalimat-kalimat itu yang selalu diucapkan karena hanya kalimat-kalimat itu yang masih membekas di hatinya dan tersimpan manis di memorinya. Tatapan kosong, wajah sayu, tubuh yang mengecil, tipis dan kuyu.

Aku hanya bisa menatapnya pilu, sakit. Matahariku telah tertutup awan, matahariku tak akan bersinar terang. Matahariku…

“Maaf mbak, jam besuknya sudah habis”.

Aku maunya kamu. Titik!

*Akhirnya selesai juga untuk hari keempat #15HariNgeblogFF, sepertinya pas 500 🙂 *

***

“Mas, aku taruh di tempat biasa ya…”

“Taruh apa ‘de?”

“Udah, mas tinggal ambil aja kok”.

“Kamu bawain makanan lagi?”

“Hehehe…kebetulan aku ada perlu, jadi sekalian aja”.

“Besok-besok jangan lagi ya”.

“Iya, ga lagi kok”.

“Ini yang terakhir ya”.

Maafkan mas ya de, mas tahu kamu pasti kecewa dengan jawaban mas. Mas memang jahat, tapi ini yang terbaik, mas ngga mau kamu berharap, harapan yang ngga mungkin mas bisa penuhi.

Biru mencoba menghabiskan makan siang yang telah dibawakan Jingga untuknya, sambil sesekali menghapus air mata yang mengalir di pipinya. Perasaan bersalah Biru semakin menghebat.

Mas tahu kamu berbohong, kamu sengaja membawakan ini untuk mas, kenapa kau lakukan ini ‘de?

Kamu terlalu baik untukku, sudah terlalu banyak hal yang telah kau beri dan tak ada satu pun yang bisa mas balas. Maafkan mas…

Kau yang tak pernah menuntut, kau yang selalu saja menyediakan maaf untuk kesalahan-kesalahanku, keceriaanmu selalu hadir menemaniku, celoteh-celoteh nakalmu, gurauan garingmu memberikan hiburan tersendiri di hati mas. Aaahhh…hatimu terlalu indah untukku dan rasanya tak sanggup untuk menyakitimu ‘de.

Masih jelas teringat wajah manisnya tetap tersenyum saat aku katakan tak bisa melanjutkan hubungan ini. Jingga hanya berkata, “Maafkan aku ya mas”, ahh…kata maaf selalu menghiasi bibirnya meskipun aku tahu dia tak bersalah, “aku tak pernah meminta apapun padamu mas, tapi kini aku meminta, hanya satu hal, aku mohon perjuangkan aku”.

Aku hanya diam mematung, tak tahu harus menjawab apa. Jingga…satu permintaanmu itu teramat berat bagiku, tak mungkin bisa aku penuhi, Tuhan maafkan aku…

“Lupakan mas ya de, carilah pria yang lebih baik. Pria itu pasti akan sangat beruntung memilikimu”.

“Tapi kenapa mas ga mau jadi pria beruntung itu?  Mas, aku maunya kamu. Titik!”

***

Tanpa sengaja mata Biru tertuju pada sebuah kotak makan orange, dan dari bibirnya langsung terucap, “Jingga, ahhh…gadis itu, apa kabar ya…?”

Ternyata sudah hampir satu bulan aku tak pernah mendengar kabar Jingga dan aku pun tak pernah lagi menelpon ataupun mengirimkan pesan singkat sekedar menanyakan kabarnya,  inilah yang terbaik tapi tiba-tiba kerinduanku akan sosoknya hadir menyergap. Mas kangen ade, mas sayang ade, mas butuh ade.

Kontan saja Biru langsung mengemas kotak makan itu dan menancap gas motornya kesetanan.

Iya, mas akan mengabulkan permintaanmu ‘de, mas akan berjuang untukmu, tunggu mas ‘de.

***

“Assalamu’alaikum…”

“Wa’alaikumsalam…”

“Nak Biru….”,  wanita setengah baya terkejut menyambut kedatangan Biru.

“Jingga ada tante?

Bingung dan terdiam sesaat, “Ada, mari ibu antar. Jingga sudah 1 minggu lebih tidak tinggal dengan tante lagi”.

Aku terus berjalan bingung mengikuti langkah Ibunda Jingga.

“Kita sudah sampai ‘nak Biru”.

“Tante…ini….?”, aku benar-benar bingung.

“Iyah, sekarang Jingga tinggal di sini”, tiba-tiba ketenangan wajah Ibunda Jingga lenyap.

Aku langsung terjatuh, lemas, tenaga di kakiku lenyap, pandanganku hanya tertuju pada satu nama yang tertulis di batu nisan itu.

“Jinggaaaaaaa…”, teriakku dalam tangis, “Ya, aku pun hanya mau kamu. Titik!”.

 ***

 “Mas, kamu baik-baik saja kan?!”, tiba-tiba sebuah sms masuk, “Jingga kangen mas”.

“Alhamdulillah, mas baik kok”, jawabku, aku pun kangen kamu Jingga tapi tak kusampaikan, karena tak ingin membangkitkan harapanmu lagi.

Ternyata ini sms terakhirmu, andai saja aku tahu….

Kamu manis kataku…

*453 di hari ketiga untuk #15HariNgeblogFF  tapi hari kedua untuk aku 🙂 *

*****

Dear Diary….

Sudah lama sekali aku menginginkanmu, teramat sangat. Apalagi di saat-saat seperti ini, saat kesedihan melanda, kegundahan hati menyerbu…huffft…aku benar-benar membutuhkanmu, sungguh-sungguh memerlukan dirimu, keinginan untuk memilikimu menjadi semakin menggila.

Sejak pertama kali kulihat dirimu 10 tahun yang lalu, aku sudah sangat tertarik, aku tergoda, aku terbius. Dirimu tak pernah sedetik pun menghilang dari pikiranku. Tuhan…kapan aku bisa memilikimu, dan menikmatimu. Aku hanya bisa berharap dan semoga Engkau berbaik hati Tuhan, mengirimkan dia untukku.

Pernah suatu saat, tak sengaja aku melewatimu, kau tampil begitu menakjubkan, ingin rasanya  segera turun dan berlari merengkuhmu tapi itu tidak mungkin, rasanya aku belum mampu dan tak sanggup untuk menggapaimu, aku bukanlah siapa-siapa. Mungkin memang sudah menjadi takdirku hanya bisa melihatmu dari kejauhan, menyedihkan.

Saat Lintang menjanjikan akan menghadirkan dirimu 2 bulan lalu, aku tak sanggup untuk menolaknya, aku langsung mengiyakan dan sejak saat itu pula aku menjadi semakin sering memimpikanmu. Dalam mimpiku, kau terus saja berlari memanggil menggodaku dengan warna dan aroma tubuhmu.

Detik berlalu berganti menit menghapus jam dan hari-hari pun menghilang, janji Lintang belum juga terpenuhi, Lintang belum sanggup juga menghadirkan dirimu dan aku tak mungkin untuk memaksanya.

Tuhan, apa aku memang tak pantas untuk memilikinya, menikmati sedikiiiit saja?

Apa mungkin aku sembunyikan saja rasa ini, kukunci dalam kotak berlapis, kubuang penguncinya hingga tak mungkin ditemukan lalu sang kotak kukubur dalam. Ya…memang harus seperti itu, harus berani aku lakukan. Aku harus mencari pengganti dirimu. Aku tak ingin dirimu terus mengganggu kehidupanku, aku tak mau rasa ini membunuhku sedikit demi sedikit, aku mau melanjutkan kehidupan indahku walau mungkin dengan kehadiranmu akan lebih indah.

*****

“Seruni….”, teriak lintang memanggilku.

Aku hanya mematung bingung.

“Ini”, suara lintang terengah-engah.

“Apa ini?”, wajah bingungku makin nampak.

Lintang hanya menjawab dengan senyuman dan kedipan mata saja, aku semakin penasaran.

“Lintang….ini?”, menunggu jawaban Lintang.

“Iya untukmu, maaf baru hari ini aku bisa memenuhi janjiku, dan maaf juga aku telah lancang membaca diary mu kemarin. Ternyata kau benar-benar menginginkannya dan aku hanya menganggapnya angin lalu. Kau tak pernah melupakan janjiku”, wajah sedih penuh penyesalan pun hadir.

“Lintang…”, mata Seruni mulai berkaca-kaca tak sanggup untuk meneruskan.

“Ayo nikmatin….”, perintah manis Lintang.

“Mmmmhhh…”, kamu manis kataku lirih sambil menikmati apa yang telah Lintang berikan.

“Apa…coba kamu ulangi?”, senyum nakal Lintang menggoda.

“Coklat ini manis, geer kamu”, ledek Seruni sambil mendaratkan cubitan manja di pinggang Lintang.

Kamu manis kataku, meleleh di mulut dan di hatiku, kau seperti apa yang kubayangkan dan semakin manis karena yang telah menghadirkanmu adalah Lintang, pria manis yang selalu hadir menemani hari-hari indahku dan memang hanya dia yang aku harapkan menghadirkan dirimu.

Sebuah kotak cantik, berpita merah jambu berisi lima butir coklat dengan rasa berbeda: Caramel Candy, Dark Truffle, Peach Mango Candy, Nut Nougat dan Almond Square.

Kamu manis kataku lantang….Lintang….