Rindu dalam sepotong steak

“Dimana loe? Gue telponin susah amat.”
“Sorry, sorry, tadi gue lagi di jalan. Sekarang gue lagi makan nih.”
“Steak lagi…?”
“He..he..he..loe tahulah kesukaan gue.”
“Gila loe adict banget sih, seingat gue baru tadi siang loe makan tuh steak.”
“Masih pengen gue, lagian ini warung steak baru cuy, penasaran gue sama rasanya.”
“Aduuh…selalu pakai alasan yang sama, basi loe. Ingat tuh perut sama kantong loe, katanya mau irit tapi tetep tengah bulan gini loe makan steak. Payah loe. Awas loe ye no suntikan dana lagi.”
“Ya elah gitu aja ngambek loe…iye ini terakhir kok.”
“Yakin terakhir…”
“Untuk bulan ini…hahaha…”
“Sialan loe, emang ngga bisa dipercaya.”
“Ada apa loe nyari gue, kangeeen ya…kan baru 5 jam yang lalu kita ketemuan.”
“Iiihh…sorry ye…rugi gue kangen sama loe. Gue cuman mo ingetin doang, besok kita bakalan presentasi, jangan lupa proposal sama bahan presentasinya plus ngga pake telat. Ini proyek pertama kita, ngga boleh sampai gagal. Gagal gue ngga bakalan ngomong sama loe sebulan.”
“Siap putri manis, perintah akan hamba laksakan dengan sangat baik. Apa sih yang ga untuk putri semanis Gadis ini tapi apa bener Sang putri bakalan kuat ga ngomong sama hamba…”
“Jangan mulai lebay deh loe, kali ini gue sungguhan, gue ga bakalan ngomong selama sebulan. Kalau gue bohong loe gue traktir steak selama sebulan.”
“Wah..serius loe…asyiiikk…gue pasti menang.”
“Maksud loe…loe nyumpahin projek kita gagal?”
“Yah…salah ngomong lagi gue.”

Tuuuuuutttt….Gadis menutup teleponnya dengan perasaan kesal.

“Lho…kok ditutup sih. Dasar Gadis, ngga sopyan tuh anak.”

Kamu tahu dengan baik sekali diri ku Biru, aku memang tak akan bisa tak bicara denganmu. Seberapa besar usahaku untuk menjauhimu justru semakin menguatkan perasaanku padamu. Sadarkah kamu Biru…entah sampai kapan aku bisa menahan perasaan ini.

********

“‘dis, gue denger di daerah Palmerah ada resto steak baru lho, katanya sih enak banget, ke sana yuk?”
“Biru, bukannya minggu yang lalu loe dah makan steak, sekarang lagi…”
“Yah,,,’dis kita ‘kan belum ngerayain kesuksesan menangin itu projek.”
“Kalau itu gue setuju, tapi gue ga mau steak, bosan tau…tiap jalan sama loe steak lagi, steak lagi. Emang loe ga merhatiin muka loe tuh dah kayak steak.”
“Hahahaha…tapi loe tetep suka kan…”
“Pede tingkat tinggi loe.”
“Ah…ngaku aja loe suka sama gue.kan…kan…kan…”
“Apaan sih loe. Kita makan tapi resto lain.”
“Tapi di sana ada menu lain juga kok, loe tenang aja. Please…’dis.”
“Iyah, iyah kita ke sana. Puas loe.”
“Thank you Gadis, you’re very sweet.”
Aku memang tak akan pernah bisa menolak keinginan loe ‘ru, yang terpenting dalam hidupku saat ini adalah membuat loe bahagia.

********

“Kenapa muka loe? Loe baik-baik aja kan ‘ru?”
“Hu…belum sesuai harapan.”
“Apanya yang belum sesuai harapan?”
“Rasa steak ini?”
“Ha…maksud loe? sini gue cobain…”
“Nih.”
“Enak ah, dagingnya ngga terlalu matang ngga mentah juga, rempah-rempahnya berasa. Pas kok. Apanya yang kurang?”
“Tetap ngga sama.”
“Gue makin ngga ngerti deh…”
“Loe tahu kenapa gue suka banget datangi tiap resto steak?”
“Loe ngga pernah cerita Biru jadi mana gue tahu.”
“Ini gue lakuin untuk mengobati kerinduan gue. Kerinduan yang teramat sangat. Udah selesai belum loe? pulang yuk…”
“Apaaan…pulang…’kan loe belum selesai cerita.”
“Udah selesai ceritanya”
“Ha…Biru, loe jangan buat gue penasaran deh… lanjutin ceritanya.”
“Kan, gue bilang udahan ceritanya.”
“Biru, kita dah temenan lebih dari 3 tahun. Tapi loe ngga pernah sedikit pun cerita percintaan loe. Loe ngga percaya sama gue, loe ngga percaya sama persahabatan kita.”
“Bukan gitu ‘dis, gue percaya kok sama loe, loe sahabat terbaik gue.”
“Terus….”
“Penyesalan memang selalu di akhir, tak akan pernah mampir lebih dulu. Dia wanita baik, sangat baik malah, tulus mencintai dan meyayangi gue. Selalu ada saat gue butuhin, ngga pernah sedikit pun menjauh. Ngga pernah protes sama hobby gue yang ngga jelas, ngga pernah ngeluh meskipun gue ngga ada di sisinya, ngga pernah maksa gue jadi orang lain, dia berhasil menjadikan gue yang lebih baik tanpa gue harus jadi orang lain. Banyak hal yang udah dia kasih tapi sedikit banget yang bisa gue balas. Gue cuma bisa kasih goresan luka dalam di hatinya. Gue emang bodoh, terlalu bodoh, gue lepasin dia, gue biarin dia pergi menjauh hanya untuk sebuah keinginan gue yang semu.”
“Terus hubungan kerinduan loe sama steak.”
“Namanya, Rintik. Dia selalu berusaha buat gue bahagia. Dia tahu gue pecinta steak hingga suatu hari dia kasih kejutan manis. Dia kirim kotak makan siang berisi steak lengkap dengan kentang goreng dan sayurannya. Gue benar-benar ngga nyangka. Steak itu adalah steak buatannya sendiri yang khusus untuk gue karena ini adalah steak pertama yang dia buat.”
“Mmmmhhh…gue mulai paham. Terus, loe ngga berusaha untuk ngomonginnya lagi?”
“Gue mau banget ‘dis, gue mau dia nemenin sisa hidup gue.”
“Udah loe lakuin?”
“Setiap hari gue lakuin ‘dis.”
“Tapi, dia ga berubah, tetap dengan keputusannya? Wow…kayaknya Rintik benar-benar benci loe ‘ru.”
“Sepertinya.”
“OK, kalau gitu temuin gue sama dia. Biar gue yang ngomong. Gue ngga mau lihat sahabat gue terus memendam kerinduan.”
“Percuma ‘dis. Gue yakin usaha loe juga bakalan sia-sia.”
“Kok loe ngomong gitu sih, ‘kan belum dicoba. Loe ngga boleh pesimis gitu dong.”
“Gue ngga pesimis dan ngga pernah gue pesimis. Tapi memang kenyataannya usaha loe bakalan nemuin jalan buntu juga.”
“Biru…gue mohon, kasih gue kesempatan, please….”
“Gue sudah bilang percuma ‘dis, percuma. Dia udah pergi jauh.”
“Yah, loe cari dong. Gue bakalan bantuin loe terus sampai loe nemuin Rintik.”
“Dia sudah pergi ke tempat yang lebih membahagiakan, ‘dis. Tempat dimana ngga akan ada lagi orang yang bakalan nyakitin perasaannya lagi.”
“Jadi maksud loe?”
“Iya ‘dis.”
“Maafin gue Biru. Gue ngga bermaksud.”
“Sudah hampir satu tahun ini gue masukin banyak resto steak berharap menemukan sepotong steak dengan rasa yang sama, ketulusan sebagai pengobat kerinduan gue.”

********

Biru…mendengar dirimu menceritakan itu semua, rasanya hati ini benar-benar kacau. Aku marah, benci, kesal, bingung dan tak tahu harus aku apakan hati ini, perasaan ini.

Masihkah aku menyayangimu, masihkah aku mencintaimu, masihkah aku merindukanmu?

Tapi yang satu pasti aku akan selalu menjadi sahabat terbaikmu dan…kan ku buat steak baru special dengan rasa aku…

Advertisements

Mungkinkah…

Satu bulan sudah diriku tak menuliskan apapun…lahanku kering kerontang, sama sekali tak ada yang menghijau..
huuuffttt…sangat memprihatinkan..tak layak untuk ditiru..*sapa juga yang mau niru :p *

Kucoba kembali memberikan sedikit pupuk…mudah-mudahan bisa subur…Amiin..

*******

“Please, jangan pernah berubah. Kita pasti bisa lalui semua ini kok, selama kita percaya dan yakin dengan hubungan ini.”

Satu kalimat yang membuatku bertambah tak menentu. Satu sisi aku bahagia, kau begitu yakin akan diriku, memperjuangkan aku. Tapi di satu sisi aku takut,takut akan banyak orang yang tersakiti. Jauh di sudut hatiku yang masih menyimpan baik nama dan kenangan akan dirinya berharap kalimat itu dari dirimu,pria yang mungkin masih aku cintai.

Apakah memang seperti ini sikap seseorang yang benar-benar mencintaimu dengan tulus, menerima dirimu apa adanya, tetap melangkah maju terus berjuang untuk dirimu meskipun dunia tak lagi bersahabat?
Apakah bukan sebuah kekonyolan dan kebodohan belaka mengorbankan semua kebahagiaan dirinya untuk seseorang yang bukan siapa-siapa, bahkan tak adasedikit pun keistimewaan di dalamnya yang patut dibanggakan?

Aku mengenalnya tujuh tahun yang lalu dalam sebuah pertemuan kecil para penyuka fotografi. Perkenalan yang biasa saja, tak ada kesan istimewa sedikitpun yangbisa dikenang. Hingga suatu hari perusahaan tempatnya bekerja menjalin sebuah kerjasama dengan perusahaan tempat aku bekerja dan ternyata aku diberi tanggung jawab penuh untuk menanganinya sehingga mau tidak mau aku banyak berhubungan dengan dirinya karena dia adalah salah satu pemimpin perusahaan tersebut. Inilah yang membuat hubungan kami lambat laun menjadi akrab.

Pikirannya yang terbuka membuat kami bisa bertukar pikiran akan banyak hal ditambah lagi kedewasaan dan kesabarannya menghadapi aku yang masih cukup egoisini memberikan nilai lebih dihadapan ku. Hubungan kami pun meningkat dari hanya sekedar rekan kerja kini menjadi sahabat yang bercerita apapun termasuk masalah pribadi. Aku sudah menganggapnya sebagai seorang kakak laki-laki yang memang tak pernah aku miliki, karena aku adalah anak tunggal dan kedua orang tuaku meninggal sejak usiaku 9 tahun dalam sebuah kecelakaan. Aku pun dibesarkan oleh kakak dari almarhumah ibuku.

Dirinya sangat memperhatikan dan menjaga aku dengan sangat baik. Hingga pada satu titik semua perasaan ini berubah menjadi lebih mendalam dan hubungan kami menjadi lebih dari sekedar sahabat.

“Sejak kapan kau miliki rasa itu padaku?”

“Sejak pria itu terus menyakitimu, mempermainkan cinta tulusmu. Hatiku tidak terima kau diperlakukan seperti itu dan akhirnya rasa sayang ini pun terus tumbuh dan tumbuh. Perasaan ingin menjadi imammu pun menguat, menjagamu selalu, membuatmu terus merasakan kebahagiaan. Kamu marah ‘ra? kamu benci aku ‘ra?”

“Aku ga benci karena aku ga bisa menyalahkanmu, tak ada yang sanggup menahan apa yang ada di hati. Rasa sayang dan cinta tak pernah diundang, dia datangtiba-tiba. Aku hanya meminta jangan biarkan rasa itu terus tumbuh dan menguat lagi ya hingga akhirnya berakar dan tak mau pergi.”

“Kamu terlambat ‘ra…kamu terlambat…rasa ini sudah terpancang kuat. Akarnya sudah menjalar kemana-mana.”

“Tapi…”

“Kamu belum siap dengan takdirmu?”

“Jujur iya, aku belum siap.”

“Insya Allah aku bisa adil.”

“Aku ragu, bukan adil dalam hal materi tapi kasih sayang, waktu. Seorang ibu pun pasti ada yang lebih disayanginya.”

“Rara, please jangan tinggalin aku!”

“Yang aku pikirkan perasaan ibu, I don’t care what the people say, only my mom. Meskipun beliau bukan ibu kandungku tapi beliaulah yang merawatku dengan penuh kasih, aku ga mau menghancurkan perasaan beliau.”

“Apa aku perlu bicara dengan ibumu?”

“Jangaaan…itu sama saja kau membunuhku.”

“Tapi, aku ga mau kamu cari imam lain, hanya aku, cuman aku ‘ra.”

“Samudra…kamu keras kepala…”

“Please ‘ra…aku mohon…mmmhh…baiklah, meskipun ini tidak adil dan berat buatku, izinkan aku menjadi imammu sampai kamu menemukan imammu.”

Dua tahun sudah berlalu dan dirimu masih menjadi imamku. Aku tak tahu kemana hubungan ini akan berlabuh dan sampai kapan akan tetap seperti ini. Kau yang tak pernah pernah berubah sedikitpun, masih menyayangiku dan menjagaku, memastikan aku selalu bahagia dan nyaman bersamamu telah berhasil membuatku semakin terlena dan tak ingin menjauh dari kehidupanmu.

Mungkinkah ini benar-benar takdirku?
Mungkinkah kau imamku yang kutunggu selama ini?
Mungkinkah aku harus setia pada sang waktu hingga memberikan jawaban?

Andai Saja….

Produktivitas di tengah kegalauan emang ajiiibbb…qiqiqiqi.. 😉

*****

“Kenapa lagi kamu nduk? Pagi-pagi tuh bibir udah manyun.” Sebuah suara membuyarkan lamunan.

“Ngga ada apa-apa kok.” Berusaha menutupi tapi air mata menggenang.

“Jangan bohong….” Sambil tangannya terus mengusap kepala Pelangi, hal yang paling Pelangi sukai, ”Ayo cerita…” terus saja memaksa.

”Hehehe…beneran ngga apa-apa” senyum kecut berhasil menghias wajah Pelangi.

”Ahhh…pria ini, sekuat apapun aku mencoba menutupinya, tapi ia selalu berhasil membaca apa yang sedang aku pikirkan, apa yang sedang aku rasakan. Aku ngga pernah bisa bohong padanya.” ucap Pelangi dalam hati.

”Semalam, entah kenapa perasaan saya tiba-tiba nggak enak, mmmmhhh…Pelangi.”

”Masa sih?!”

”Ayo bilang nduk!”

”Ini“ hanya bisa menyerahkan handphone yang selalu setia di tangannya. Dirinya tak mampu untuk bercerita.

Raut wajah serius pun terlihat, membaca dan memahami kalimat per kalimat yang tertulis di handphone Pelangi.

”Udah ngga usah nangis lagi. Ayo senyum.” wajahnya terus mencoba membuat mimik yang lucu berharap sebuah senyum melingkar di wajah manis Pelangi.

”Mau main apa ayo, disuruh ngapain aja saya rela deh yang penting senyum. Ntar ngga jadi pelangi lagi dong kalau sedih gitu. Ayo, tunjukin senyummu yang lucu itu dong, sedikiiit aja, biar dunia cerah kembali.” wajah menggodanya terus saja bermain.

”Ihhh…lebay deh.” Lidah menjulur meledek, dalam hati berharap Badai yang mengucapkan kalimat-kalimat itu.

Pria yang selalu berusaha membuatnya tersenyum. Pria yang tak pernah bosan dan lelah mendengar celotehan Pelangi yang tak pernah ada habisnya. Pria yang selalu sabar menghadapi kejahilan-kejahilan Pelangi. Pria yang selalu memberikan nasehat-nasehat bijaknya. Pria yang bersedia berdiskusi tentang banyak hal dan bersedia mengalah dengan pendapat Pelangi yang terkadang nyeleneh. Bahkan jika Pelangi sakit pun, tak segan-segan menelpon hanya untuk memastikan Pelangi sudah meminum obatnya atau belum.

”Andai saja dia bukan milik orang lain, mungkin aku akan sangat mencintainya, seperti aku mencintai Badai. Andai saja Badai pria itu, mungkin tak akan pernah ada luka di hati, tak ada air mata di pipi. Sosok pria yang aku hanya bisa menyayanginya sebagai seorang kakak laki-laki yang tak pernah aku miliki, sosok seorang ayah yang selalu kurindukan yang kehadirannya telah menghilang 5 tahun lalu. Pria yang sanggup memenuhi kerinduanku akan sosok seorang pria yang bisa menjaga aku, melindungi aku, bersedia meminjamkan punggungnya untuk ku.” Pelangi masih asyik bermain dengan pikirannya.

“Sebelum turun dari Bis, jangan lupa baca Bismillah dan berjanji untuk menjadi Pelangi yang dulu. Pelangi yang selalu berbagi warna cerianya untuk orang-orang di sekelilingnya. Oke!” Ucapnya dibarengi dengan kedipan mata.

Pelangi hanya menjawabnya dengan senyuman tipis dan anggukan kecil.

Andai saja…..

Hatimu…

Sudah…cukup…hentikanlah, jangan lagi kau lakukan itu

Tapi aku ingin dan Insya Allah aku ikhlas melakukannya. Menyenangkan seseorang melalui tindakan bukankah lebih baik daripada ribuan kali menundukkan kepala dalam doa, apalagi untuk seseorang yang spesial.

Dirimu ikhlas tapi aku tidak, aku sedih jika kau melakukan itu, batinku tak menerimanya. Apa yang kau lakukan itu sia-sia, itu hanya membuat dirimu seperti orang bodoh. Memalukan

Aku mohon…ikhlaskan hatimu…tolonglah, bukan untuk siapa aku melakukannya tapi ikhlaskan hatimu karena aku yang melakukannya. Kau benar aku memang bodoh, terlalu bodoh malah, logikaku memang mati suri, aku hanya mengikuti kata hatiku.

Salahkah…

Jangan kau tunjukkan wajah melasmu itu, aku semakin terluka bila kau melakukannya. Aku akan mencoba seperti dirimu, tapi aku tak bisa berbohong, aku benar-benar kesal pada dirimu yang seperti ini.  Kata hati memang tak pernah berbohong, tapi kau benar-benar harus bedakan, benarkah itu hatimu atau hanya emosi yang berjiwakan hati…

Tapi, aku benar-benar tulus padanya…

Sungguh kau tulus padanya…

Insya Allah…aku tulus dan jujur padanya.

Ini yang pertama untuk aku, aku tak pernah merasakan seperti ini sebelumnya, jadi aku tidak akan mungkin berbohong pada hatiku sendiri.

Jika kau tulus dan ikhlas, kau tak akan pernah berharap untuk mendapatkan balasan.

Sekarang tanyakan pada hatimu apakah kau berharap dirinya akan membalasmu…

Aku akan jujur menjawabnya

mmmhhh…dulu iya…aku sangat berharap padanya tapi kini tak lagi, cinta tak akan menyakiti, cinta justru akan memberikan bahagia. Aku hanya berusaha memberikan yang terbaik.

Tapi sekarang kenapa kau menangis…menangis saat dirinya tak mengingatmu, menangis saat dia tak lagi peduli padamu, menangis tiap kali kau mengingatnya.

Air mata ini air mata kerinduan…dia tak menyakitiku, aku yang telah menyakiti diriku sendiri

Kau memang  keras kepala, dia tak pantas untuk airmatamu. Menangislah untuk orang yang selalu membuatmu tersenyum bukan dia yang selalu membuatmu menangis.

Tapi dia memberiku keduanya, senyuman dan tangisan, lalu apa yang harus aku lakukan…

Oh ya…kamu yakin…sekarang kau tanya apa yang harus kau lakukan?

Hanya dirimu yang punya jawabannya.

Hatiku?

Ya, tanyakan lagi pada hati nurani yang belum ternodai.

Jangan terlalu naif, dia memanfaatkanmu, dia datang hanya saat dia butuh, kehadiranmu bukan udara untuknya. Kau tak menyadari sikapnya seperti apa padamu sekarang…

Aku tak berbohong,  aku memang naif. Aku tahu, aku memang dimanfaatkan tapi bukankah manusia ada agar bisa memberikan manfaat untuk sesamanya?

Aku memang bukan udara yang kehadiranku selalu dibutuhkan tapi setidaknya aku bisa menjadi  bulan yang bisa memberikan sedikit terang di kegelapan, hadir  saat dirinya mengalami kesusahan. Aku sangat menyadari  sikapnya sekarang seperti apa, cuek, masa bodoh, menjauh, tapi aku yakin ia melakukannya agar aku tak lagi menaruh harapan padanya, tak ingin menyakitiku.

Dia melakukan itu, karena memang dia seperti itu. Dirimu tak pernah ada di hatinya. Dirimu sama seperti bunga-bunga lainnya.  Dia hanya tertarik pada warnamu, ia memetikmu, kau layu, dan ia membuangmu.

Jangan kau katakan itu, pikiranmu jahat sekali.

Aku berpikir seperti apa yang aku lihat kawan…

Sudahlah, jangan lagi kau salahkan dirinya. Bukan dirinya pemilik hati sepenuhnya, dia tak punya hak atas apa yang ada di hatinya. Tuhan yang meniupkan semua rasa yang ada dihatinya. Jikapun hatinya bukan untuk aku, itu berarti karena memang Tuhan yang mengingikannya. Sekarang aku hanya bisa memohon padaNya, mau sedikit berbaik hati padaku

Aku bukan dirimu yang dulu, yang selalu ceria, tersenyum ringan tanpa beban.

Aku masih sama kawan…tak ada yang berbeda dari diriku. Senyum ringan itu masih ada, keceriaan itu belum menghilang.  Sekarang, aku hanya lebih mengenal siapa diriku, seperti apa diriku.  Aku bersyukur, Allah masih berkenan memberikan aku kesempatan itu dan kesempatan itu melalui dirinya.

Terus saja bela dirinya, sepertinya apa yang kukatakan akan sia-sia.

Tak ada yang sia-sia dalam hidup ini kawan…aku pun bersyukur memiliki dirimu. Kau selalu setia menemaniku, kau tak pernah pergi, dan sedikit pun tak ada niat meninggalkanku. Jangan pernah lelah ya kawan… Doakan saja kawanmu ini untuk bisa kuat menghadapinya.

Aku selalu berdoa untukmu kawan… Semoga kebahagiaan selalu mengiringi langkahmu…

Sayup-sayup lagu Maliq D’essential pun terdengar menemani lamunan mereka…

Ketika kurasakan sudah ada
ruang di hatiku yang kau sentuh…oh
dan ketika kusadari sudah
tak selalu indah cinta yang ada..uwo..o..o
mungkin memang ku yang harus mengerti
bilaku bukan yang ingin kau miliki
salahkah ku bila
kaulah yang ada di hatiku
oh…

adakah ku singgah di hatimu
mungkinkah kau rindukan adaku
adakah ku sedikit di hatimu ?
bilakah ku mengganggu harimu
mungkinkah tak inginkan adaku
akankah ku sedikit di hatimu ?

bila memang ku yang harus mengerti
mengapa cintamu tak dapat kumiliki
salahkah ku bila
kaulah yang ada di hatiku
kau yang ada di hatiku

bila cinta kita tak kan tercipta
ku hanya sekedar ingin tuk mengerti
adakah diriku oh singgah di hatimu
dan bilakah kau tau
kaulah yang ada di hatiku
kau yang ada di hatiku
adakah ku di hatimu?

Miss that words….

Entah mengapa tiba-tiba kumerindukan 4 kata itu, 4 kata yang biasa kau kirimkan sebelum berangkat kerja dan sebelum beranjak dari kantor di sore hari. 4 empat kata yang sebenarnya tidak terlalu istimewa, sangat biasa, siapa pun bisa mengatakannya tanpa mengenal batasan usia. Tapi karena dikirimkan dari seseorang yang sangat berarti menjadi sangat istimewa. Sebuah perhatian kecil yang mempunya arti mendalam.

Masih terekam dengan baik di hati dan pikiran Ratih, 4 kata itu. 4 kata yang selalu menghantui hari-harinya terutama saat kata-kata itu harusnya sudah diterimanya. Sudah enam bulan sejak peristiwa itu, Ratih benar-benar tak pernah menerimanya, Danang benar-benar telah berlalu dari kehidupannya, menghilang. Jalinan silaturahmi yang pernah ditawarkan Danang pun sama sekali tak terbukti, Ratih tak pernah menerima kabar apa pun dari Danang. Jangankan sepucuk surat, satu pesan singkat pun tak ada yang mampir di telepon genggamnya, walaupun hanya sekedar basi-basi.
“Mungkin memang seharusnya seperti ini ya mas, benar-benar terputus, kau tak lagi mengirimkan kabar apa pun padaku, sehingga tak ada lagi ruang kosong dan harapan  padamu yang tersisa sedikit pun”. Tarikan napas Ratih benar-benar berat, seakan beban itu tak ingin beranjak dari punggungnya.  Ratih benar-benar tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan dengan perasaannya.

Perasaan yang harusnya sudah ia kubur dalam-dalam, perasaan yang seharusnya tidak lagi mengganggu kehidupannya, perasaan yang ternyata masih selalu ia jaga dengan setiap kenangan yang melekat untuk pria yang telah mengisi hari-harinya hampir satu tahun setelah 4 tahun lebih jiwanya tak lagi merasakan cinta seorang pria. Cinta yang membuatnya kembali bersemangat, warna baru yang kembali menceriakan kehidupannya.

Hari-harinya selalu dipenuhi dengan ocehan tentang pria itu, mas Danang yang begini, mas Danang yang begitu, mas Danang yang suka ini, mas Danang yang tidak suka itu. Ratih…Ratih…tersirat jelas dirimu sedang benar-benar jatuh cinta pada pria itu.

Kerinduannya yang makin hari makin memuncak akhirnya berhasil mengalahkan logikanya, bahwa pria itu bukanlah untuk dirinya, pria itu tak cukup pantas menerima semua pengorbanannya, ketulusan dan kebaikan hatinya.
”Assalamu’alaikum…apa kabar mas? Baik-baik saja kan?! Gimana dengan pekerjaanmu?” pesan singkat itu pun akhirnya dikirimkan Ratih.

Cemas Ratih menunggu balasan pesan singkat itu, dan satu jam pun berlalu, jawaban belum diterimanya juga, ”Ahhh…mungkin memang mas Danang sedang sibuk, sepertinya sms ku kurang tepat dikirimkan pada jam segini.” Ratih mencoba berpikiran positif.

Hari pun sudah berganti, jawabannya yang dinantinya tak kunjung hadir, ”Sepertinya memang dirimu sudah melupakan aku, diriku sudah benar-benar tidak ada lagi di hatimu, harusnya aku bisa sepertimu, ajari aku mas”, desahnya dalam hati.

Ya Allah, Engkau yang memberikan rasa ini, maka cabutlah kembali rasa ini, rasa yang seharusnya hilang dan gantilah dengan yang lebih indah yang akan setia menemaniku hingga ujung waktuku.

Sebulan telah berlalu sejak sms terakhir yang dkirimkannya tanpa balasan pun, kerinduannya pada empat kata itu masih bertahan, belum berubah sedikit pun.Tiba-tiba handphonenya berbunyi, dengan gerakan lambat dan malas Ratih mengambilnya, tapi seketika itu mata Ratih langsung berbinar, raut wajah penuh senyum, dalam hanphone jelas tertulis, sms dari pria yang telah ditunggunya.
”Maaf, mohon dengan sangat untuk tidak lagi mengirimkan sms ataupun menelpon ke nomor ini lagi. Terima kasih.”
Ratih hanya termangu tak percaya apa yang tertulis di sana, berulang kali ia melihatnya, berulang kali pula ia tak percaya, tubuhnya benar-benar lemas, seluruh tulangnya seperti telah tercabut dengan paksa, tak ada tenaga yang tersisa, lidahnya kelu, tubuhnya menggigil, hanya air mata yang berhasil menghiasi bola matanya yang indah dan bayangan akan sosok pria itupun bermunculan.
”Ya Allah, aku benar-benar telah salah, tidak seharusnya. Beri aku kekuatan. Aku hanya merindukan empat kata itu dan kata itu benar-benar tak akan pernah lagi aku dengar ‘hati-hati ya de’ dan ‘hati-hati ya mas’ kini hanya bisa terucap dalam hati dan semoga dirimu masih bisa mendengarnya.”

Bukan ‘aku sayang kamu’, bukan ‘aku cinta kamu’, bukan ‘aku rindu kamu’…just that simple words…

Dimulai dari sebuah keindahan akan warna cinta, hidup penuh dengan keceriaan dan kebahagiaan karena dua jiwa telah menyatu. Tuhan menyisipkan kerinduan ke dalam hati terdalam. Sebuah nama telah terukir, hembusan napaspun menyeru namanya, wajahnya hadir dalam setiap tatapan, saat tidur dan bangun pun ingatan tertuju pada kekasih hati. Rindu, rasa yang selalu berisi bahasa kalbu akan cinta, bagai meneguk segelas anggur, mabuk dibuatnya, mabuk akan cinta. Cinta adalah kebahagiaan dan kesedihan yang akan selalu menghiasi kehidupan.

Jika kau mencintai seseorang, ungkapkanlah.. Jika kau merindukan seseorang, katakanlah.. Sebelum terlambat dan ia semakin hilang, karena waktu tak akan pernah kembali, ia kan terus bergulir menjemputnya dan membawanya kian menjauh pergi. Jangan kau dekap erat sang duka. Usah kau simpan lara sendiri. Maka, jemputlah sang cintamu.

Nyatakah ini…

Entah mengapa tiba-tiba aku terbangun, ku lihat jam dinding, pukul 2 pagi, ada perasaan tak menentu bergejolak dalam hati, rasanya ingin meledak, benar-benar ingin meledak. Ku ambil wudhu bermunajat padaMu, ku ingin menghilangkan segala rasa yang menghantuiku.

Harus kukatakan, iya aku sudah tak sanggup lagi menahannya. Apapun hasilnya Insya Allah akan aku terima, tapi kapan aku akan mengatakannya, besok pagi? Aku tak ingin mengganggunya bekerja hanya untuk masalah pribadi, aku tak ingin. Apa menunggu dirinya pulang kerja, ahhh…pasti dia sudah lelah, penat dengan segala tugas kantor yang menguras tenaga dan pikiran, aku tak ingin membebaninya. Lalu kapan…entahlah tapi aku sudah tak tahan…

Ya Allah, berikan petunjukMu…

Ku coba mengecek si bebe, ternyata dirinya baru saja memperbarui foto. Alhamdulillah, Engkau mengabulkan permohonanku, dia ternyata terbangun. Apakah ini saat yang tepat…

Akhirnya aku beranikan diri untuk menanyakannya.

“Mas, dirimu baik-baik aja kan?”
“Aku baik-baik aja, kenapa?”
“Entahlah aku merasa dirimu tidak sedang baik, perasaanku mengatakan hal yang berbeda. Perasaanku tak pernah bohong, jika ada hal yang berubah padamu, aku tahu.”
“Aku memang baik-baik aja kok.”
“Jujur aja mas, kalau kamu bohong justru menyakitiku.”
“Baiklah”

Akhirnya dirimu menyerah, dan perasaan aneh ini semakin menghebat.

“Orang tua ku tak merestui hubungan kita. Aku tak ingin menyakitimu dengan terus melanjutkan hubungan ini. Semakin dalam perasaan ini akan semakin menyakitkan.”
“Baiklah, orang tua memang selalu menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Aku akan mencoba menghormati keputusanmu. Kau tak ingin berjuang?”
“Aku tak ingin menyakiti mereka. Aku jarang berada di sisi mereka, setidaknya dengan menerima keputusannya, sedikit bisa melegakan hati mereka.”

Kucoba menguatkan hati dan menahan air mata ini, tapi kekuatanku tak banyak, air mata ini terus mengalir, mengalir tanpa henti.

Kau tak menjelaskan mengapa orang tuamu tak merestuiku, aku pun tak menanyakannya hanya asumsiku yang menjawabnya.

Apakah orang tuamu benar-benar tak merestui hubungan ini atau karena dirimu memang sudah tak menginginkanku? Ternyata ketulusan, kesetiaan, dan pengorbanan belumlah cukup. Amarahku tak puas.

Ku coba ikhlas menerimanya tapi nyatanya aku belum bisa, kekecewaanku terlalu besar bukan karena orang tuamu yang tak merestui hubungan ini. Aku tak marah pada mereka, aku hanya kecewa pada sikapmu, sedikit pun kau tak ingin berjuang atau bahkan untuk mencoba pun kau enggan. Semakin menyiksa rasanya.

Aku tak memintamu melawan mereka hanya untuk aku, tidak, tidak sama sekali. Aku tidak mau membuatmu menjadi anak durhaka, akan sangat berdosa diriku menjadikan dirimu seperti itu. Aku tak akan membiarkanmu menunjuk-nujuk muka mereka sambil bertolak pinggang dan mengeluarkan sumpah serapah pada mereka. Tidak akan pernah kubiarkan kau melakukannya.

Yang kumau bukan perjuangan seperti itu, itu hanyalah perjuangan orang-orang bodoh, perjuangan orang-orang yang berputus asa.

Aku hanya minta kau berjuang untuk aku, berjuang untuk kita…dan berkata, “Genggamlah tanganku, jangan kau lepaskan sedikit pun, temani aku berjuang, beri aku kekuatan, kita akan berjuang bersama.”

kriiiiiiiiiiing……..jam weker berbunyi, aku langsung terbangun kaget dan terduduk lunglai….ahhhh…mimpikah aku tapi seperti nyata…
Ya Allah akankah dirinya mengucapkannya jika ini benar-benar terjadi….

Beliau tetap bapak ku…

Masih terasa dinginnya kulit saat terakhir kali ku cium pipinya, 2 tahun yang lalu, tak ada balasan meskipun hanya senyuman tipis. Ku tarik napas dalam dan berat dari pipi jenazah Bapak.

Penantian panjang kami berakhir, Bapak telah kembali setelah lebih dari 3 tahun tak pernah mengunjungi kami, Ibu, aku, dan Kedua adikku.

Pulang terbujur kaku, tak bernyawa, menyisakan guratan lelah di pipi, dingin.

Ya Allah, tiap malam ku bermunajat kepadaMu, memohon agar Bapak bisa segera berkumpul dengan kami, Alhamdulillah Engkau telah penuhi janjiMu tapi dalam keadaan sungguh diluar harapan kami.

Perjalanan Bapak telah berakhir dengan menyisakan luka yang cukup mendalam di hati kami, terutama Ibu yang telah setia menemani bapak selama lebih dari 27 tahun.

Ya, luka itu telah tergores sejak Ibu mengetahui Bapak telah menikah lagi dan mempunyai dua anak perempuan.

Pernikahan kedua yang telah berlangsung 4 tahun, dan selama itulah semua terbungkus rapi demi sebuah kebohongan. kecewa, marah, sakit hati, bingung, tak percaya, semuanya menyatu dan meledak menjadi kebencian. Rasanya kuingin segera bangun dari mimpi buruk ini.

Peristiwa ini benar-benar membuat Ibu terpuruk mental dan fisik sepanjang aku bersamanya. Berat badan turun drastis, wajah menua dan kuyu, mata meniyipit karena hanya tangis yang selalu dijadikan teman berbagi sepanjang hari.

“Nasi telah menjadi bubur, yang bisa dilakukan sekarang hanyalah membuat bubur itu lebih terasa nikmat, bubur ayam spesial”, tanpa bumbu kemunafikan, yah…benar kukatakan kepada Bapak setelah pengakuan yang menyakitkan.

“Yang kuminta hanyalah Bapak bisa berbuat adil, adil dalam segala hal, waktu, materi dan kasih sayang.”

Semoga Ibu termasuk seorang yang dijanjikan masuk surga dengan mengikhlaskan diduakan seperti janjiNya

Aku tak mungkin meminta menceraikan istri keduanya meski batin ini mengatakan harus, karena ku mau senyuman, tawa dan canda ibu kembali, tapi apa inikah yang disebut adil?

Bukankah yang di sana juga perempuan? Yang pastinya punya pikiran sama denganku saat ini.

Ah tidak..aku tak sekejam itu, apalagi anaknya masih cukup kecil, belum pantas rasanya untuk paham arti sebuah kebencian dan keadilan. Aku bukan orang yang egois tapi aku juga manusia dan lebih-lebih Ibu adalah perempuan yang mau dicintai lebih…

Rasanya tak ada satupun mahluk perempuan di dunia ini yang mau berbagi kasih sayang.

Tahun demi tahun pun berlalu, ternyata Bapak tak berhasil memenuhi janjinya. Keadilan terasa jauh diwang-awang.

Bapak lebih banyak menghabiskan waktunya dengan keluarga barunya dan memenuhi semua kebutuhan mereka, sedangkan kami….. ah berat terasa.

Tapi dia tetap suami Ibuku, Bapakku, dan benar janjiNya, keadilan hanya milikNya….

Masih adakah asa itu…

“Bagaimana keputusannya?” tiba-tiba sebuah sms masuk.
Langsung saja wajah Aya berubah pias dan panik, akhirnya keputusan terberat dan terpahit dalam hidupnya harus diambil.
”Maaf, sepertinya aku tak bisa mengabulkan permohonanmu. Sebaiknya kau urus saja semuanya.”
”Kau yakin dengan jawaban mu”, sms Aya langsung mendapatkan respon.
”Iya, aku sudah yakin.”
”Baiklah jika itu memang sudah keputusanmu, aku tak bisa memaksamu lagi. Aku akan segera mengurus semuanya.”
**************************

Tiga bulan setelah sms itu, Aya tak pernah lagi mendengar kabar tentang lelaki itu dan memang dirinya tak ingin lagi mendengar apapun tentang lelaki itu. Aya hanya ingin hidupnya kembali normal seperti sebelum lelaki itu memasuki kehidupannya. Tapi hari ini, wanita dengan wajah sayu dan kerutan-kerutan kecil di ujung matanya mengembalikan memorinya tentang lelaki itu.

”Bagaimana nduk, sudah ada keputusan?”

Aya hanya menjawab dengan mengangkat kedua bahunya, malas untuk membicarakannya. Wanita ini seakan mengetahuinya, dan terus mendesaknya,
”Kamu harus tegas ndok, mau sampai kapan kamu begini terus? Dia sudah ndak pernah mengunjungimu lagi, memberimu nafkah lahir maupun batin. Ibu tahu, kamu ndak
usah tutup-tutupin. Sudah waktunya kamu ambil keputusan. Mau sampai kapan kamu digantung?”
”Sudahlah bu, dia sudah janji dia yang akan urus semuanya. Aku udah ga mau peduli lagi.”
”Kalau dia memang mau urus semuanya, tapi ya kok sampai sekarang ga ada beritanya ndok…”
”Entahlah bu…”
”Kamu berhak mendapatkan kebahagian yang lain ndok, kalau kamu digantung kayak gini, sama saja kamu menggantungkan kebahagianmu. Ambil tindakan.”

Aya hanya bisa menarik napas dalam berharap begitu napas dikeluarkan, semua beban langsung menghilang bersama hembusan angin.
*************************

Tiga bulan sudah aku sudah jalani proses ini, tapi belum juga ada titik terang kapan Pak Hakim akan mengetokkan palunya. Benar-benar melelahkan, menguras tenaga dan pikiran, proses yang tak pernah terpikirkan akan seperti ini. Ya Allah…berikanlah hambaMu kekuatan untuk melewati ini semua. Hamba yakin semua ujian yang Engkau berikan sudah disesuaikan dengan kemampuan umatMu.

Alhamdulillah, setelah hampir 6 bulan proses ini kujalani, berakhir juga. Status baru resmi kusandang, walaupun bukan ini yang ku inginkan. Tak pernah terbersit sedikitpun untuk mengalami ini semua, menikah di usia 23 dan harus berakhir di usia 24, itu pun sudah termasuk proses pengadilan. Jadi, hanya beberapa bulan saja aku menikmati indahnya melayani seorang imam, terbangun di tengah malam hanya untuk memasak nasi goreng karena melihat sang suami yang meringis kelaparan, harus bangun lebih awal untuk membuatkan sarapan meskipun terkantuk-kantuk, atau seharian di kantor hanya berpikir tentang menu sarapan dan makanan apa yang akan aku sajikan untuk besok. Subhanallah….

Ya Allah…kapan lagi Engkau ijinkan aku menikmati itu semua. Aku ingin menjadi seorang pelayan bagi suami dan anak-anak ku. Menjadi pengindah bagi kehidupan mereka.
*********************

Satu tahun yang lalu, tiba-tiba dia mengajakku menikah, lelaki yang dulu menjadi teman mainku di masa kanak-kanak, sudah hampir 6 tahun kami tak pernah bertemu dan, kini telah menjelma menjadi seorang lelaki dewasa. Lelaki dengan paras yang sangat jauh berbeda, jujur aku sedikit tertegun melihatnya atau mungkin aku jatuh hati…mmmhhh…entahlah…

Yang pasti tak lama setelah dirinya menyampaikan maksudnya, aku menerima pinangannya, walaupun jujur dalam hatiku belum ada perasaan yang mendalam tapi karena niatku Lillahita’ala, Insya Allah, Sang Pemilik hati akan berbaik hati padaku selain itu karena ia sudah mengetahui benar kondisi keluargaku yang sedang bermasalah, berharap aku bisa bersandar dan merebahkan sejenak kepalaku di pundaknya, memberi aku sedikit kekuatan untuk bisa melewati masalah pelik ini.

Tapi ternyata harapan ku terlalu tinggi padanya, aku terjatuh saat ia tak sanggup memenuhi harapanku. Kesalahan terbesar, jangan pernah berharap pada manusia meskipun ia orang terdekatmu. Dan ketidakpercayaanku bahwa di dunia ini masih ada pria baik pun kembali terpotong hanya menyisakan secuil asa yang hampir hilang.

Aku berharap hanya Ayah yang menyakiti aku, tapi kini teman hidupku pun melakukan hal yang sama. Kembali terluka, di saat luka sebelumnya belum juga mengering. Sepertinya, ada yang salah dalam melaksanakan niatku ini, ada cara-cara yang tidak disukaiNya sehingga kami belum diijinkan berlayar hingga maut menjemput.

Harapan tertinggi memang harus hanya padaMu, pemilik apa yang ada di bumi tanpa terkecuali, termasuk diriku.

Berharap Engkau kan segera menyembuhkan luka ku
Berharap Engkau kan kembalikan senyumku lagi
Berharap Engkau kan kembalikan kehidupan terindahku
Berharap Engkau kan hadirkan Ia yang ada dalam setiap doa-doa malamku
Berharap Engkau kan menjadikanku pelayan bagi kebaikan-kebaikan yang mengindahkanku.
Berharap Engkau kan menghebatkanku di setiap kejadian yang kau anugerahkan padaku.

Sujud panjangku hanya untukMu pemilik hati dan ragaku.

Saat terakhir…

Ku beranikan diri untuk memeriksa telepon genggamnya, entah ada kekuatan apa yang merasuki tubuhku. Aku cek satu persatu pesan yang masuk…tidak ada yang aneh, semuanya biasa saja, tapi…Ya Tuhan, aku menemukannya, jantungku berdetak lebih cepat, dadaku sesak, tubuhku lemas, tak ada tenaga yang mengaliri kakiku, hanya ada sesuatu yang kurasakan menjalar di hati, sakit, sakit rasanya, air mata ini rasanya ingin tumpah, aku harus tahan, aku harus tahan, dia tak boleh tahu apa yang telah aku lakukan.

Sebuah sms dengan nama seorang wanita di dalamnya berjanji bertemu dan ini baru 2 minggu yang lalu…Ya Tuhan…inikah petunjukMu…

Alhamdulillah, aku segera menyadari siapa diriku, aku memang bukan siapa-siapanya lagi, tak berhak aku melarangnya, kau memang bukan punyaku, kau memang bukan milikku.

Ku coba berlaku seperti biasanya, tetap dengan senyuman terurai menyiapkan minuman hangat dan menunggunya selesai bersiap untuk melakukan shubuh berjamaah. Yah,,,mungkin ini shubuh berjamaah terakhir dengan dirinya.

Aku sudah putuskan, iya ini yang terakhir, tak akan ada lagi jamaah denganmu meskipun hati kecil ini masih berharap kau akan terus menjadi imamku.

Kesediaanmu yang tersisa untuk mengantarku hingga halte terdekat meskipun tanpa harus menunggu bis yang akan mengantarku ke kantor itu tiba, aku tetap sangat berterima kasih dan menghargainya. Segera ku raih dan ku cium tangan mu sebagai tanda perpisahanku, entah kau menyadarinya atau tidak karena kau langsung berlalu pergi. Ciuman hormat dan terima kasih terakhirku untuk semua hal yang telah kau berikan. Ku biarkan kau pergi karena aku tahu kau tak ingin menunggu, kau ingin segera mengakhirinya.

Kini aku hanya bisa menatap punggungmu yang terus menghilang, punggung yang tak akan ku lihat lagi dan menyisakan penyesalan bahwa di pagi ini aku tidak sempat membuatkanmu sarapan, menyemir sepatumu, dan mencium tanganmu setelah shalat shubuh tadi.

Ku masih menunggu sms mu, menanyakan apakah aku sudah tiba atau belum, walaupun hanya sekedar basa-basi tapi hingga hampir satu hari berlalu pun tak kunjung masuk sms darimu. Ku coba menarik napas panjang, mungkin memang ini yang terbaik, tak ada lagi sms dari mu, sehingga aku tak harus mengingkari janji yang telah ku buat sendiri.

Terima kasih Tuhan, permintaanku Engkau terima, menghabiskan satu malam terakhir dengannya, tak akan ada lagi malam-malam berikutnya, karena malam terakhir itu sudah berlalu, hilang tak berbekas, seperti diriku yang telah menghilang di hatinya, berlalu bersama angin.

Hidupmu memang akan lebih bahagia tanpa aku di sisimu.

Jemputlah kebahagiaanmu yang sebenarnya.

Indah ku bersamamu

Bahagiamu bahagiaku

Doaku selalu mengiringi setiap langkah kakimu

.

*nyerpen gantung on the monday 🙂 … maapp ye bozz nyolong lagi diriku…qiqiqi..*