Travelling dadakan…

Inilah travelling dadakan pertama kali dalam hidup *lebay* hanya dalam hitungan jam saja…2 tahun yang lalu, 31 Desember 2010. The first never been forgot.

Dimulai dari malam 30 Desember 2010, iseng mengecek facebook dan melihat status salah satu teman yang mencari orang untuk berlibur bersama. Ikutan nimbrung kasih komentar dong…

“Kapan ‘my?”

“Besok”

“Hah….besok…….”

Kenapa agak-agak shocking…karena saat itu jam sudah menunjukkan kisaran jam 11 malam, dan kalau pun mau ikutan maka aku harus stand by di stasiun kota pukul 6 pagi,  sedangkan lokasi rumah di BSD (Bekasi Sonoan Dikit) dan di tanggal 31 pun sebenarnya aku masih harus bekerja plus uang saku agak-agak cekak meskipun gajian dah mampir.  Teman dengan entengnya bilang,

“Ya udah loe ke kostan gw aja.”

“Gila loe, ini dah udah hampir tengah malam, gw mau naik apaan?! Plus nyokap ga bakalan ngasih izin.”

Akhirnya kebimbangan pun melanda…

Dipikir-dipikir….gimana doooong….

Setelah beberapa menit berlalu, keputusan pun didapat, keputusan yang masih diliputi kegalauan..qiqiqi…dan berpacking ria pun tetap dilanjutkan.

31 Desember 2010

Ba’da shubuh langsung cabut ke stasiun Bekasi, mengecek jadwal keberangkatan kereta Jakarta-Kota yang paling pagi, karena aku tidak hapal si jadwalnya maklum sudah pensiun jadi anker sejak 3 tahun yang lalu. Jika tidak ada kereta pagi, otomatis aku akan langsung ngantor, seragam pun sudah siap kubawa juga.

Ternyata ada kereta pagi…langsung cabut ke Tidung deh, maaf ya Pak Bos…diriku bolos dulu ya… 😀

Sesampai di Kota, pukul 6.15, maaf ya teman agak sedikit terlambat…

Kami pun berangkat menuju Muara Angke, ternyata kami pergi berempat, dua wanita dan dua pria. Jujur, teman aku hanya si wanita ini, sedangkan para pria adalah teman dari teman wanitaku, Karena dadakan teman pun cabutan, siapa saja yang punya waktu luang dan dana berlebih atau kami memang tergolong kelompok yang mentok ga tahu mesti ngapain lagi… 😀

Emmy dan teman cabutannya 🙂

Tiba di Pulau Tidung sekitar pukul 11 siang dan langsung menuju penginapan, ingin bersantai sejenak sambil mengisi baterai yang sudah agak-agak mencemaskan. Sesampai di penginapan, cukup terkejut karena ternyata penginapannya besaaarr, bisa menampung 20 orang sedangkan kami hanya berempat, kebayang dong kamar kosong yang tersisa. Dengan tarif 400rb/malam sudah plus makan, masih cukup ringan di kantong lah…tapi coba kalau yang ikutan 10 orang atau lebih bisa lebih menghemat lagi kan….

Tidung kecil & Jembatan Cintanya

Setelah cukup mengisi perut, penyusuran Tidung pun dimulai…menikmati angin pantai sore hari dengan bersepeda ternyata cukup menguras tenaga…huuufffttt…ditambah lagi sudah lama juga kaki ini tidak pernah mengayuh…parareugel euy…

d sunset

Amazing experience in the end of 2010 and beginning of 2011…new place new people…

Bertahun baru di pinggir pantai Pulau Tidung kecil beralaskan bumi dan beratapkan langit bersama teman-teman yang sebagian baru saja dikenal, menikmati kembang api yang tak ada habisnya, hampir dua jam lebih.

Tahukah kawan…untuk mencapai Pulau Tidung kecil ternyata tidaklah mudah, apalagi di malam hari, tak ada penerangan sama sekali, Alhamdulillah, salah satu teman membawa senter kecil, sedikit tertolong. Jembatan yang menghubungkan Tidung Besar dan Kecil ternyata cukup membahayakan, banyak kayu yang telah lapuk, harus ekstra hati-hati. Mudah-mudahan saat ini pemerintah setempat sudah memperbaikinya mengingat tidak sedikit wisatawan yang telah mengunjungi lokasi ini.

menikmati kembang api dari Tidung kecil

Lebih dari 2 jam kami menikmati pergantian tahun di pinggir pantai, itu pun karena air laut sudah mulai pasang, kalaupun tidak ada pasang mungkin kami masih akan tetap bertahan… 🙂

Low budget ga ngaruuhh…tetep seru cuuuy…plus spontanitas itu memang menyenangkan… 😉

Ragusa ooh Ragusa…

Akhirnya…kesampaian juga mencicipi cita rasa es krim asli sekaligus menikmati suasana tempo doeloenya.

Pastinya sudah pada tahu dooong….yupppzzz dialah si es krim Italia “Ragusa” yang sudah terkenal seantero Indonesia *lebay* 🙂

Es krim wajib yang harus dicicipi saat mengunjungi kota Jakarta.

Tampak depan

Sudah cukup lama berkeinginan mengunjungi Jl. Veteran I No. 10 Jakarta Pusat ini tapi selalu saja ada halangan dan di akhir pekan yang special pun terpenuhilah…yipppiiieee…

Jujur, aku belum tahu persis lokasinya ada dimana meskipun sebenarnya tidak jauh dari Jl. Ir. H. Juanda dan Juanda ini sudah cukup sering aku lewati. Peta pun berulang kali ditengok dan begitu tiba di lokasi…ternyata eee ternyata…ya ampyooon…ngga jauh dari stasiun Juanda dan pemberhentian busway Juanda dan persis di samping Masjid Istiqlal.

Untuk yang dari Bekasi, cukup naik commuter line Jakarta-Kota Rp. 8.500 turun di stasiun Juanda lalu nyebrang deh. Untuk yang busway, naik ke arah Harmoni lalu turun Juanda lalu nyebrang juga deh…gampang kok…

Berhubung aku datang di malam minggu…weleh…weleh…antrinya booowww…ditambah tempatnya yang ternyata tidak luas dah hanya ada dua kipas angin membuat suasana jadi agak-agak gimana gitu…belum lagi asap rokok dan penjual sate ayam yang ada persis di depan toko.  Lengkaplah sudah…meskipun sudah jelas-jelas ada keterangan dilarang merokok, untuk yang mencari kenyamanan…mmmhhh…

Ini lho suasananya…

Meja pun ternyata rebutan, tidak ada registrasi untuk waiting list atau si pelayan bakalan mencarikan meja untuk kita…qiqiqi…jadi harus aktif and muka tembok lho…”Permisi bu, makannya udahan atau baru mulai?”

Setelah berkeliling mencari meja, memperhatikan orang-orang yang kira-kira akan menyelesaikan hidangannya…bingoo…dapat juga, meskipun posisinya agak mojok di dalam tapi lumayanlah. Oh iya…jangan sekali-sekali memesan sebelum kita dapat meja, karena si empunya ngga akan melayani, kalimat pertama yang akan dilontarkan, “sudah dapat meja?”

mojok…mojok…

Meja pun didapat tapi es krim masih jauh diangan-angan…aku harus menunggu sekitar 45 menit untuk menikmati es krim spaghetti dan es krim mix…hufffttt…perjuangaaaaan…meskipun dalam penantian ditemani sepiring sate ayam yang dihargai Rp. 23.000 dan asinan juhi Rp. 10.000 tetep rasa kesel silahturahmi, aku hanya menunggu dalam diam. Selalu berharap pelayan yang membawa nampan itu adalah sang pembawa pesananku…yah…bukaaan…yah…lewat lagi…

Di detik-detik si kesel sampai di puncaknya, yaitu aku bakalan kabur, sang bintang utama pun hadir…

Ini dia….

Es krim spaghetti

 

Es krim mix

Begitu tersaji di meja, asyik memandanginya tiba-tiba sebuah tangan tersodor dari tangan seorang ibu yang mungkin salah satu pemilik mengajak bersalaman sambil berkata, “Terima kasih ya bu…sudah bersabar, kalau pelanggan yang lain sudah teriak-teriak.” Dengan tersenyum bingung menyambut tangannya, “Iya bu.”

Hahaha…ternyata si ibu yang dari tadi mondar-mandir melewati di depan mejaku memperhatikan juga.

Rasanya…mmmhhhh…home made banget dan tidak bisa lama-lama dinikmati karena dalam pengolahannya tidak menggunakan bahwa pengawet so bakalan cepat banget mencair apalagi yang berniat untuk dibawa pulang…wassalam deh…qiqiqi…apalagi packaging take away nya ngga mendukung. Alhasil, waktu menunggu dengan menikmatinya sungguh ngga sebanding…

Untuk harga sendiri mulai di kisaran Rp. 17.000 hingga Rp. 30.000, masih terjangkau kan…

Es krim yang telah berdiri dari tahun 1932 ini merupakan peninggalan jaman kolonial Belanda yang hingga saat ini masih mempertahankan suasana nuansa nostalgia tempo doeloenya. Tapi sayangnya, identitas visualnya kurang memiliki konsistensi. Mulai dari logo, buku menu, peralatan makan, seragam pelayan, packaging take away, brosur, website. Padahal citranya sebagai es krim home made Italia 1932 sangatlah penting dan itu semua akan semakin menunjang dan memperkuat. Meskipun jadul tapi tetap bisa mengikuti perkembangan jaman.

Berburu Sunrise

Ini dia satu cerita yang terselip saat mengunjungi kampung halaman di bulan Maret kemarin.

*****

Pengalaman pertama berburu si sunrise…so excited…

Tepat pukul 4 pagi waktu indonesia tengah, harus sudah bangun padahal tubuh masih ingin tenggelam di pulau kapuk, demi si Sunrise harus bisa.

Mandi selesai, menyiapkan perbekalan sudah, tinggal menunggu adzan shubuh, shalat langsung capcus.

Di pukul 5 perburuan pun dimulai, seorang diri menaiki si matic menyusuri jalan-jalan pedesaan yang masih gelap dan sepi, menerka-nerka agar tidak tersasar maklum belum terlalu akrab dengan jalan di Desa Suda Kanginan-Nyitdah Kediri Tabanan Bali, meskipun ini bukan pertama kalinya pulang kampung mengunjungi kakek.

Sunrise perdana adalah Pantai Sanur…

Pernah baca katanya Pantai Sanur menjadi salah satu pantai terindah di dunia karena ombaknya yang tenang, sangat cocok untuk bermain-main air dengan keluarga dan menghilangkan kepenatan.

Jalanan utama Gerobokan lalu by pass di pagi hari ternyata tak berbeda jauh dengan pedesaan, sepi…motor dengan kecepatan 100 mil/jam pun tak terasa…qiqiqi…apalagi ditambah kejaran dengan waktu…jadi makin deh…

Saking asyiknya melewati jalanan by pass yang sepi ngga nyadar kalau sudah salah jalan, tiba-tiba masuk pintu gerbang Nusa Dua, waduuuuhhh…ngga beres, bablas ini judulnya. Mau ngga mau ya harus putar balik…hufftt…

Jadi, aku harus belok di sebelah mana ya…berharap bisa menemukan seseorang yang bisa aku tanyai. Alhamdulillah bertemu seorang ibu penyapu jalanan.

Aduuuhh…matahari jangan dulu dooong….
Kecepatan pun terus bertambah…

Alhamdulillah…sampai juga, tetapi… 😦  hujan turun dan pastinya sang matahari pun tak ada…
Belum beruntung…

Paling tidak aku bisa menikmati suasana yang menenangkan Sanur di pagi hari, tetap bikin betah dan ngga mau beranjak sedikit pun.

This slideshow requires JavaScript.

Subhanallah…harus tetap disyukurin… 😉

Dieng Plateu Trip

Finally…I’m here….Dieng Plateu…

Setelah menempuh perjalanan panjang kurang lebih 12 jam melalui jalur selatan yang sangat melelahkan…Alhamdulillah ya…

Ini keinginan aku dari tahun lalu…Alhamdulillah kesampaian juga dan ini adalah second trip aku di tahun ini…yeaahhh…
padahal jaraknya baru sebulan lho..aduuuhhhh..kapan bisa nabung yah…qiqiqiqi..di perut aja deh nabungnya…qiqiqi..

Untuk trip kedua kali ini aku ditemani sahabatku kembali Orin dan sang mataharinya…qiqiqiqi..jadi tukang poto lagi deh..

Kesan pertama…Subhanallah…sepanjang mata memandang hanya hamparan perbukitan yang menghijau yang dipenuhi tanaman sayuran dengan hasil utamanya adalah kentang dan kubis.

Dataran tinggi Dieng berada di ketinggian lebih dari 2092m dari permukaan laut so pasti sudah bisa ditebak dong suhunya seperti apa. Suhu di siang hari di kisaran 12-17 derajat dan di malam hari dingiiiiin gilaaaa…menusuk sampai ke tulang..asap pun berhamburan keluar setiap kali bicara #norak mode on# Khusus di bulan Juli – Agustus suhu di malam hari bisa mencapai titik beku…bbbbrrrrr…Embun yang menempel di dedaunan akan mengkristal..ngga usah jauh-jauh ke luar negeri, latihan dulu di sini..qiqiqiqi…

Dingin yang benar-benar menakjubkan ditambah hujan yang terus mengguyur semalaman..mampat dibuatnya hidung aku ini. 2 selimut, 1 jaket tebal, 1 sweater, kaos kaki, sarung tangan hanya mengurangi beberapa persen saja dari si duper dingin ini.

Cukup untuk laporan di hari ini ya..karena kami akan bersiap-siap bertempur melawan cuaca dingin di jam 4 pagi ini untuk menikmati sunrise di Sikunir…CeMAngKA…

Mudiiiiiik….

Alhamdulillah, finally…hari ini tiba juga setelah menunggu hampir 10 bulan, sejak pembelian tiket promo di bulan Mei 2011..I’m going to Bali…

Yupzz, going to Bali is mean I’m mudik….meet my grandfather….Tapi, di perjalanan mudik kali ini akan sangat berbeda karena aku pergi bersama teman-temanku bukan dengan keluarga tercintaku.

Kami akan berada di Bali selama 5 hari, lumayan kan…daripada lumanyun…
Berbagai macam tempat pariwisata sudah dimasukan dalam daftar penjelajahan.

Ini adalah kali ketiga, aku dan teman-temanku melakukan trip setelah sebelumnya kami menjelajahi Bandung dan Yogyakarta. Tapi, sayang perjalanan kali ini kami kehilangan salah satu teman, dirinya mendadak tak bisa ikutan karena secara tiba-tiba juga Ayahanda tercintanya masuk ICU, semoga lekas sembuh ya ‘ta. We’re gonna miss u for this trip. Hopefully, you will join for the mext trip. Amiiiin…

Let’s cap cuuuuuzzz….

Looking for The Inspiration

Demi mencari secerca inspirasi yang sempat terputus hampir satu bulanplus mencairkan rasa malas yang telah membatu, akhirnya aku putuskan untuk mengunjungi Islamic Book Fair di Istora Senayan.

Islamic Book Fair ini sebenarnya bukan hal aneh untuk aku, hampir setiap tahun pasti aku sempatkan untuk mengunjunginya. Berharap menemukan bukuatau novel incaran dengan harga miring…qiqiqi…#tetep nyarinya diskonan# 🙂

Tapi untuk kunjungan kali ini misi sedikit berubah dan walaaaa…ternyata bagai gayung bersambut, misi ini bisa dikatakan cukup sukses karena ternyata aku datang di hari yang tepat. Aku berhasil bertemu dengan Bang Darwis alias Tere Liye penulis novel anak-anak, yang salah satu novelnya sudah difilmkan, “Hapalan Shalat Delisa”…film yang berhasil membuat seorang preman penuh tato menangis di pojokan bioskop…qiqiqi…dan novel-novel lainnya yang sudah dibuat sinetronnya dan sudah tayang di salah satu televisi swasta “Anak Kaki Langit”

Dalam bedah buku yang meskipun tidak terlalu lama ini, tetap banyak ilmu yang bisa diperoleh dan salah satunya pencarian inspirasi. Seorang Tere Liye pun ternyata pernah tak menulis sama sekali selama 6 bulan…owwww…owwww…dan setiap penulis pastinya memang pernah mengalami ini ya…apalagi diriku yang bukan penulis beneran…qiqiqi…

Menulislah bukan karena paksaan, menulislah karena menulis memang sebuah kegiatan yang menyenangkan maka si ide pun akan tetap ada, jangan pernah tanyakan darimana sebuah ide itu datang, karena pasti seorang penulis hebat pun akan kebingungan menjawabnya. Tidak jauh berbeda saat kita menanyakan kepada Ibunda tercinta kenapa masakannya bisa begitu lezat karena pasti beliau juga akan kebingungan menjawabnya, akhirnya hanya menjawab “ya dimasak aja” atau “tinggal masuk-masukin aja kok terus kasih bumbu deh.” sekarang tinggal kita deh yang kebingungan. Cukup untuk bisa memberikan diriku sebuah pencerahan.

Bonus lain dari kunjungan kali ini adalah…book signing by Asma Nadia…yeaaahhh…#norak mode on# plus bisa futu bareng…qiqiqi…#adooohh tambah norak# 😀

Asma Nadia merupakan salah satu penulis favoritku, pertama kali aku mengenalnya saat masih duduk di Sekolah Menengah Atas, mungkin karena bahasanya yang sangat mudah dicerna untuk aku yang dulu tak terlalu suka membaca alias cepat bosan…qiqiqi…plus banyak cerpen yang menceritakan kisah-kisah romantis islami ala anak abg…qiqiqi…

Alhamdulillah sekali ya…sesuatu…
Jalan pasti selalu terbuka untuk mereka yang mau mencari dan terus berusaha.

Oh iya…mumpung belum lupa, pameran ini berlangsung dari tanggal 09 – 18 Maret 2012 so masih ada waktu kok yang weekend ini belum punya acara.

Rasa itu…

*The journey  that I like  and hate to*

Rasa itu kembali datang, seperti ada sesuatu yang tergores di hati…nyessssss…berat, pedih, benar-benar tak nyaman.  Ugghh…aku ngga suka rasa ini, benar-benar benci rasa ini. Kenapa harus ada rasa ini sih?! Kenapa ngga rasa vanila, strawberry atau coklat aja sih?! Geramku dalam hati.

Kalimat yang meluncur keluar dari bibirnya dan nyatanya bukan untuk aku, dan tak pernah dia katakan itu padaku sebelumnya benar-benar sudah memunculkan rasa yang aku benci.  Berulang kali menarik napas berharap mengurangi apa yang ku rasa justru membuatku semakin terasa sesak, sesak sekali, tak ada satu pun udara yang bisa aku hirup.

Why I become so sensitive ?

Yeah…It’s started since I know you, since I have this feel for you.

Ya Allah…

Ku coba mengabaikannya, pura-pura acuh, mencoba mencari kesibukan, pengalihan atas apa yang berkecamuk di hati dan pikiran.

“Inilah jalan terbaik untuk aku. Ikhlas…ikhlas…ikhlas…Dia bukan untukmu. Inilah resiko yang harus kamu tanggung atas harapan yang kembali kau gantungkan pada orang yang tidak tepat, kekecewaan. Please, don’t cry, don’t cry, don’t cry, tangisanmu hanya pantas untuk mereka yang selalu membuatmu tersenyum bukan untuk mereka yang telah menggoreskan luka di hatimu.Kau ingin bahagia kan?! Mungkin inilah salah satu episode yang harus kamu lewati, terkadang untuk bahagia kamu harus melepaskan orang yang kamu sangat inginkan. Ingatlah ada orang lain yang sedang menunggumu untuk menyembuhkan lukamu dan seorang pria sejati tak akan mampu mematahkan hati seorang wanita.” gumamku tak henti terus memberikan kalimat-kalimat penyemangat untuk diriku sendiri hingga tanpa terasa air mata pun menetes satu persatu.

Semakin ku tekan rasa ini justru membuatnya semakin menguat, seperti layaknya menekan sebuah stereoform yang terapung dalam air, semakin kuat tekanan semakin kuat penolakan.

Hati yang sering terluka harusnya membuatku lebih tegar, mampu untuk menghadapinya,tapi ternyata tidak berhasil untuk kali ini.

Dicintai mungkin pantas untuk ditinggalkannya
Mencintai dengan setulus hati pun ternyata sama, ditinggalkannya.
Haruskah tetap mencinta?

إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

Ya, cinta kepada Sang Khalik. Cinta tanpa takut terluka, cinta tanpa pernah mengajukan syarat apa pun, cinta yang tak pernah berkurang sedikit pun. Diri semakin mendekat Engkau pun akan semakin mendekat lagi, saat diri menjauh pun ternyata Engkau tak pernah benar-benar menjauh, Engkau tetap setia menemani.

فَبِأَيِّ آَلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

Inilah kesedihan terpanjangku dan Allah pasti benar-benar marah…rrrrggghhh….dan bodoh sekali jika aku terus mempertahankannya.

Ya Allah..aku pasti bisa melewatinya kok, aku yakin pasti bisa, meskipun orang-orang yang paham dan menyayangiku setulus hati sangsi tapi aku akan terus berusaha karena aku pasti bisa, akan ku buktikan kalau aku bisa.

Terima kasih untuk rasa yang pernah Engkau titipkan di hatiku untuknya, meskipun bukan untuk selamanya.

فَبِأَيِّ آَلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

Gurindam Muharam Plus 33

Akhirnya bisa meramaikan perhelatannya mba Keke dan mba Thia, setelah beberapa malam hanya terbayang Gurindam seorang 🙂

Langit memerah matahari pun tenggelam
Siang menghilang berganti malam
Muharam akhirnya datang
Pribadi baru pun siap dijelang

Meraih cintaNya memang butuh pengorbanan
Jangan menyerah munculkan keberanian
Jadikan rintangan sebagai kesempatan
Menggapai mimpi dan kebahagiaan

Gurindam bukan ya…*thinking mode on 🙂 *

Ini dia…11 hal tentang diri dan keluarga yang sebagian memang masih fresh from the oven.

  1. Pertama kalinya punya blog…*boleh dicek kok* 😉
  2. Langsung sok-sok an ikutan kontes jadi tidak mengharap untuk menang.
  3. Pertama kalinya dapat kado sandal lucu warna ungu muda yang jarang.
  4. Pertama kalinya nyasar salah bioskop dan baru sadar setelah10 menit akan mulai, tiket pun sudah dibeli *memalukan…tapi lucu…* 🙂
  5. Pertama kali ikutan kopdar padahal belum punya blog. *kok bisa…qiqiqi…*
  6. Pertama kali menjalin sebuah hubungan meskipun bukan cinta pertama tapi tetap berjuta rasanya.. 😉
  7. Pertama kalinya merayakan ulang tahun dengan seseorang yang istimewa 🙂
  8. Pertama kali pergi tamasya ke Taman Buah Mekar Sari bareng Ibu dan Oppa Mymy plus gratisan. 😉
  9. Pertama kali tahu rasanya putus cinta. *sakit juga ternyata ya…ga penting…qiqiqi..*
  10. Pertama kali berat badan turun 3 kg dalam 1 bulan….*ga ada hubungannya sama putus cinta ya…*
  11. Ternyata kami sekeluarga berkacamata, tak heran berbagai macam warna dan bentuk kacamata bergelimpangan di rumah.

exist with glasses

11 keinginan yang teramat, semoga Allah berbaik hati mengabulkannya..Amiin.. *please.. Ya Allah…*

  1. Dapat sekotak coklat merk ”Dapur Coklat” dari seseorang yang sekarang sedang dirindu. *jiaaahhh…*
  2. Membelikan Ibu sebuah microwave biar makin betah di dapur.
  3. Pengen banget bisa puasa daud, sampai saat ini ada saja yang membuatnya gagal.
  4. Thesis selesai, wisuda deh.
  5. Jadi Diplomat biar bisa keluar negeri gratis… 🙂
  6. Pengen banget jadi istri dan ibu,
  7. Pengen ribet nyiapin sarapan dan makan malam
  8. Punya usaha sendiri dengan memberdayakan bakat 2 orang adik saya.
  9. Backpacker dan wisata kuliner keliling Indonesia.
  10. Pergi haji menemani bunda tercinta.
  11. Beasiswa ke Jepang atau Perancis bareng suami dan anak tercinta.

11 hal yang pengen banget dihindari dan ga mau diulangi lagi aaahh….

  1. Patah hati….*jiaaahhh….*
  2. Merepotkan ibunda tercinta, terutama di pagi hari dengan membuatkan sarapan dan bekal.
  3. Jadi orang pelupa dan teledor
  4. Tidur sambil nyanyi alias ngorok…qiqiqi…
  5. Menahan uneg-uneg
  6. Iseng plus ngejahilin orang.
  7. Becicilan (ga bisa duduk dengan tenang)
  8. Ngomong ga dipake filterannya alias asbun (asal bunyi).
  9. Tertawa dengan lebar..*serasa dunia punya sendiri…adooohh…*
  10. Ga mau mengalah, selalu saja punya alasan untuk berkelit….ckckck…
  11. Memotong pembicaraan orang *ga sopan emang*

“Tulisan ini saya ikut sertakan di acara Gurindam Muharam Plus 33 yang diselenggarakan oleh Yunda Hamasah dan Lyliana Thia.”

‘Marunda Kepu’, Sisi ‘manis’ kota Jakarta (part 1)

Mungkin postingan kali ini sedikit memiliki hubungan dengan postingan saya sebelumnya “Being care and sensitive”.

18 Februari 2011 (sudah basi ya,,,maklum belum punya blog :)),  merupakan pengalaman saya pertama kali melakukan sensing. Sensing berasal dari bahasa Inggris sense yang berarti penginderaan atau merasakan, memahami atau mendalami sesuatu hal sehingga kita bisa ikut merasakan dan memahaminya (definisi sendiri, boleh protes kok… 🙂 qiqiqi :)), hal ini kami dilakukan agar ide-ide program yang kami berikan bisa tetap sasaran, sesuai dengan apa yang dibutuhkan oleh warga.

Sensing Journey  ini saya lakukan bersama 2 orang teman saya, Pak Teguh and Pak Jano, seharusnya ada satu lagi Bang Toga, tapi kebetulan beliau sedang ada urusan kepemerintahan jadi sulit untuk mengatakan tidak, maklum salah satu staff menteri :), terpaksa deh bertiga saja. Mereka adalah teman satu kelas kuliah saya dan kebetulan kami memang satu kelompok.

Sensing Journey ini memang sengaja kami lakukan sebagai salah satu tugas kuliah praktek “Atkinson Tools” yang materinya sudah kami dapatkan 2 minggu sebelumnya. Lokasi yang kami pilih untuk melakukan sensing ini adalah sebuah desa tua yang pada abad 16 M merupakan basis penyerangan Mataram atas Batavia, dengan posisi di ujung timur kota Jakarta berbatasan dengan Kabupaten Bekasi, yuppzz, Marunda Kepu, Marunda dari Markas yang tertunda , Kepu, asalnya dahulu banyak terdapat pohon Kepu di desa ini yang sekarang menjadi aliran BKT (Banjir Kanal Timur).

Marunda Kepu, desa nelayan yang beberapa tahun belakangan ini sering sekali diberitakan (sering banget nongol di koran nasional) dan banyak dijadikan projek bagi program kerja para LSM atau NGO. Jadi, pasti sudah banyak artikel yang membahas Marunda Kepu. Saya mengetahui desa ini pun dari Pak Jano yang memang bekerja di salah satu LSM terkenal dan desa ini juga merupakan salah satu area kerjanya.

Kami berangkat dari kantor Pak Jano yang lokasinya berada di daerah Cilincing, sekitar pukul 9 pagi dan langsung menuju lokasi dengan menggunakan mobil Pak Teguh. Tak sampai satu jam kami sudah tiba di lokasi. Jujur… saya tertegun, speachless, tanya kenapa??

Setelah tersadar, saya ga bosan-bosannya bertanya pada bapak-bapak ini, “Pak ini masuk Jakarta?, ga salah?, di Jakarta ada yang beginian juga?” (norak.com #adooohh…tepok jidat deh#)

air laut yang tenang and angin cepoi-cepoi

Ini merupakan pintu masuk menuju Marunda Kepu yang jalannya cukup lebar tapi sayang masih tanah liat, jadi kebayang dong kalau turun hujan dan saya punya cerita yang tak terlupakan terkait hal ini yang bakalan saya ceritakan di part 2. Dari jembatan ini, kami harus masih berjalan kurang lebih 200 meter. Cuaca cukup panas tapi anginnya cepoi-cepoi cukup untuk bikin mata kreyep-kreyep. Dalam 200 meter ini kami disuguhi kanal yang sepanjang sisi kanannya banyak ditumbuhi tanaman eceng gondok tapi di sisi kiri berdiri beberapa bangunan rumah susun, pas kan,,,qiqiqi,,,

Jalanan yang punya story lucu plus,,,,,,

Eceng gondok dan rusun...mmmhhhh....

Akhirnya, kami tiba juga di Desa Marunda Kepu, ini dia…..

rumah warga kepu

rumah masih dengan dinding anyaman bambu

Desa yang terdiri dari bangunan-bangunan yang saya pikir belum bisa dikatakan sebuah rumah yang belum layak huni.

saluran pembuangan air yang bergabung

Sanitasi yang buruk, lingkungan yang kotor dan kumuh. Tempat pembuangan sampah dan rumah yang saling berdekatan serta tersebar di beberapa titik.

salah satu tempat pembuangan sampah warga

Tapi, tak menjadi masalah untuk anak-anak ini, mereka masih bisa santai bermain kok….huuufffttt….

asyik kok main di sini....

dan ternyata juga hampir seluruh rumah yang ada di desa ini berdiri di atas daratan yang mereka bentuk sendiri, yaitu dari tumpukan sampah ini. Mesti kagum atau………

Saya hanya bisa nyengir meringis plus bingung…..

So what do you think guys, still need the next story…….

*udah keseringan nguap plus mata juga menurun watt nya*