Mungkinkah…

Satu bulan sudah diriku tak menuliskan apapun…lahanku kering kerontang, sama sekali tak ada yang menghijau..
huuuffttt…sangat memprihatinkan..tak layak untuk ditiru..*sapa juga yang mau niru :p *

Kucoba kembali memberikan sedikit pupuk…mudah-mudahan bisa subur…Amiin..

*******

“Please, jangan pernah berubah. Kita pasti bisa lalui semua ini kok, selama kita percaya dan yakin dengan hubungan ini.”

Satu kalimat yang membuatku bertambah tak menentu. Satu sisi aku bahagia, kau begitu yakin akan diriku, memperjuangkan aku. Tapi di satu sisi aku takut,takut akan banyak orang yang tersakiti. Jauh di sudut hatiku yang masih menyimpan baik nama dan kenangan akan dirinya berharap kalimat itu dari dirimu,pria yang mungkin masih aku cintai.

Apakah memang seperti ini sikap seseorang yang benar-benar mencintaimu dengan tulus, menerima dirimu apa adanya, tetap melangkah maju terus berjuang untuk dirimu meskipun dunia tak lagi bersahabat?
Apakah bukan sebuah kekonyolan dan kebodohan belaka mengorbankan semua kebahagiaan dirinya untuk seseorang yang bukan siapa-siapa, bahkan tak adasedikit pun keistimewaan di dalamnya yang patut dibanggakan?

Aku mengenalnya tujuh tahun yang lalu dalam sebuah pertemuan kecil para penyuka fotografi. Perkenalan yang biasa saja, tak ada kesan istimewa sedikitpun yangbisa dikenang. Hingga suatu hari perusahaan tempatnya bekerja menjalin sebuah kerjasama dengan perusahaan tempat aku bekerja dan ternyata aku diberi tanggung jawab penuh untuk menanganinya sehingga mau tidak mau aku banyak berhubungan dengan dirinya karena dia adalah salah satu pemimpin perusahaan tersebut. Inilah yang membuat hubungan kami lambat laun menjadi akrab.

Pikirannya yang terbuka membuat kami bisa bertukar pikiran akan banyak hal ditambah lagi kedewasaan dan kesabarannya menghadapi aku yang masih cukup egoisini memberikan nilai lebih dihadapan ku. Hubungan kami pun meningkat dari hanya sekedar rekan kerja kini menjadi sahabat yang bercerita apapun termasuk masalah pribadi. Aku sudah menganggapnya sebagai seorang kakak laki-laki yang memang tak pernah aku miliki, karena aku adalah anak tunggal dan kedua orang tuaku meninggal sejak usiaku 9 tahun dalam sebuah kecelakaan. Aku pun dibesarkan oleh kakak dari almarhumah ibuku.

Dirinya sangat memperhatikan dan menjaga aku dengan sangat baik. Hingga pada satu titik semua perasaan ini berubah menjadi lebih mendalam dan hubungan kami menjadi lebih dari sekedar sahabat.

“Sejak kapan kau miliki rasa itu padaku?”

“Sejak pria itu terus menyakitimu, mempermainkan cinta tulusmu. Hatiku tidak terima kau diperlakukan seperti itu dan akhirnya rasa sayang ini pun terus tumbuh dan tumbuh. Perasaan ingin menjadi imammu pun menguat, menjagamu selalu, membuatmu terus merasakan kebahagiaan. Kamu marah ‘ra? kamu benci aku ‘ra?”

“Aku ga benci karena aku ga bisa menyalahkanmu, tak ada yang sanggup menahan apa yang ada di hati. Rasa sayang dan cinta tak pernah diundang, dia datangtiba-tiba. Aku hanya meminta jangan biarkan rasa itu terus tumbuh dan menguat lagi ya hingga akhirnya berakar dan tak mau pergi.”

“Kamu terlambat ‘ra…kamu terlambat…rasa ini sudah terpancang kuat. Akarnya sudah menjalar kemana-mana.”

“Tapi…”

“Kamu belum siap dengan takdirmu?”

“Jujur iya, aku belum siap.”

“Insya Allah aku bisa adil.”

“Aku ragu, bukan adil dalam hal materi tapi kasih sayang, waktu. Seorang ibu pun pasti ada yang lebih disayanginya.”

“Rara, please jangan tinggalin aku!”

“Yang aku pikirkan perasaan ibu, I don’t care what the people say, only my mom. Meskipun beliau bukan ibu kandungku tapi beliaulah yang merawatku dengan penuh kasih, aku ga mau menghancurkan perasaan beliau.”

“Apa aku perlu bicara dengan ibumu?”

“Jangaaan…itu sama saja kau membunuhku.”

“Tapi, aku ga mau kamu cari imam lain, hanya aku, cuman aku ‘ra.”

“Samudra…kamu keras kepala…”

“Please ‘ra…aku mohon…mmmhh…baiklah, meskipun ini tidak adil dan berat buatku, izinkan aku menjadi imammu sampai kamu menemukan imammu.”

Dua tahun sudah berlalu dan dirimu masih menjadi imamku. Aku tak tahu kemana hubungan ini akan berlabuh dan sampai kapan akan tetap seperti ini. Kau yang tak pernah pernah berubah sedikitpun, masih menyayangiku dan menjagaku, memastikan aku selalu bahagia dan nyaman bersamamu telah berhasil membuatku semakin terlena dan tak ingin menjauh dari kehidupanmu.

Mungkinkah ini benar-benar takdirku?
Mungkinkah kau imamku yang kutunggu selama ini?
Mungkinkah aku harus setia pada sang waktu hingga memberikan jawaban?

Advertisements

2 comments on “Mungkinkah…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s