Rasa itu…

*The journey  that I like  and hate to*

Rasa itu kembali datang, seperti ada sesuatu yang tergores di hati…nyessssss…berat, pedih, benar-benar tak nyaman.  Ugghh…aku ngga suka rasa ini, benar-benar benci rasa ini. Kenapa harus ada rasa ini sih?! Kenapa ngga rasa vanila, strawberry atau coklat aja sih?! Geramku dalam hati.

Kalimat yang meluncur keluar dari bibirnya dan nyatanya bukan untuk aku, dan tak pernah dia katakan itu padaku sebelumnya benar-benar sudah memunculkan rasa yang aku benci.  Berulang kali menarik napas berharap mengurangi apa yang ku rasa justru membuatku semakin terasa sesak, sesak sekali, tak ada satu pun udara yang bisa aku hirup.

Why I become so sensitive ?

Yeah…It’s started since I know you, since I have this feel for you.

Ya Allah…

Ku coba mengabaikannya, pura-pura acuh, mencoba mencari kesibukan, pengalihan atas apa yang berkecamuk di hati dan pikiran.

“Inilah jalan terbaik untuk aku. Ikhlas…ikhlas…ikhlas…Dia bukan untukmu. Inilah resiko yang harus kamu tanggung atas harapan yang kembali kau gantungkan pada orang yang tidak tepat, kekecewaan. Please, don’t cry, don’t cry, don’t cry, tangisanmu hanya pantas untuk mereka yang selalu membuatmu tersenyum bukan untuk mereka yang telah menggoreskan luka di hatimu.Kau ingin bahagia kan?! Mungkin inilah salah satu episode yang harus kamu lewati, terkadang untuk bahagia kamu harus melepaskan orang yang kamu sangat inginkan. Ingatlah ada orang lain yang sedang menunggumu untuk menyembuhkan lukamu dan seorang pria sejati tak akan mampu mematahkan hati seorang wanita.” gumamku tak henti terus memberikan kalimat-kalimat penyemangat untuk diriku sendiri hingga tanpa terasa air mata pun menetes satu persatu.

Semakin ku tekan rasa ini justru membuatnya semakin menguat, seperti layaknya menekan sebuah stereoform yang terapung dalam air, semakin kuat tekanan semakin kuat penolakan.

Hati yang sering terluka harusnya membuatku lebih tegar, mampu untuk menghadapinya,tapi ternyata tidak berhasil untuk kali ini.

Dicintai mungkin pantas untuk ditinggalkannya
Mencintai dengan setulus hati pun ternyata sama, ditinggalkannya.
Haruskah tetap mencinta?

إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

Ya, cinta kepada Sang Khalik. Cinta tanpa takut terluka, cinta tanpa pernah mengajukan syarat apa pun, cinta yang tak pernah berkurang sedikit pun. Diri semakin mendekat Engkau pun akan semakin mendekat lagi, saat diri menjauh pun ternyata Engkau tak pernah benar-benar menjauh, Engkau tetap setia menemani.

فَبِأَيِّ آَلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

Inilah kesedihan terpanjangku dan Allah pasti benar-benar marah…rrrrggghhh….dan bodoh sekali jika aku terus mempertahankannya.

Ya Allah..aku pasti bisa melewatinya kok, aku yakin pasti bisa, meskipun orang-orang yang paham dan menyayangiku setulus hati sangsi tapi aku akan terus berusaha karena aku pasti bisa, akan ku buktikan kalau aku bisa.

Terima kasih untuk rasa yang pernah Engkau titipkan di hatiku untuknya, meskipun bukan untuk selamanya.

فَبِأَيِّ آَلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

Advertisements

7 comments on “Rasa itu…

  1. Waktu muda aku juga sering mengalaminya Mbak. Untunglah masa-masa itu telah berlalu. Tapi pengalaman seperti ini yg akan mengasah kita tumbuh tambah dewasa 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s