Andai Saja….

Produktivitas di tengah kegalauan emang ajiiibbb…qiqiqiqi.. 😉

*****

“Kenapa lagi kamu nduk? Pagi-pagi tuh bibir udah manyun.” Sebuah suara membuyarkan lamunan.

“Ngga ada apa-apa kok.” Berusaha menutupi tapi air mata menggenang.

“Jangan bohong….” Sambil tangannya terus mengusap kepala Pelangi, hal yang paling Pelangi sukai, ”Ayo cerita…” terus saja memaksa.

”Hehehe…beneran ngga apa-apa” senyum kecut berhasil menghias wajah Pelangi.

”Ahhh…pria ini, sekuat apapun aku mencoba menutupinya, tapi ia selalu berhasil membaca apa yang sedang aku pikirkan, apa yang sedang aku rasakan. Aku ngga pernah bisa bohong padanya.” ucap Pelangi dalam hati.

”Semalam, entah kenapa perasaan saya tiba-tiba nggak enak, mmmmhhh…Pelangi.”

”Masa sih?!”

”Ayo bilang nduk!”

”Ini“ hanya bisa menyerahkan handphone yang selalu setia di tangannya. Dirinya tak mampu untuk bercerita.

Raut wajah serius pun terlihat, membaca dan memahami kalimat per kalimat yang tertulis di handphone Pelangi.

”Udah ngga usah nangis lagi. Ayo senyum.” wajahnya terus mencoba membuat mimik yang lucu berharap sebuah senyum melingkar di wajah manis Pelangi.

”Mau main apa ayo, disuruh ngapain aja saya rela deh yang penting senyum. Ntar ngga jadi pelangi lagi dong kalau sedih gitu. Ayo, tunjukin senyummu yang lucu itu dong, sedikiiit aja, biar dunia cerah kembali.” wajah menggodanya terus saja bermain.

”Ihhh…lebay deh.” Lidah menjulur meledek, dalam hati berharap Badai yang mengucapkan kalimat-kalimat itu.

Pria yang selalu berusaha membuatnya tersenyum. Pria yang tak pernah bosan dan lelah mendengar celotehan Pelangi yang tak pernah ada habisnya. Pria yang selalu sabar menghadapi kejahilan-kejahilan Pelangi. Pria yang selalu memberikan nasehat-nasehat bijaknya. Pria yang bersedia berdiskusi tentang banyak hal dan bersedia mengalah dengan pendapat Pelangi yang terkadang nyeleneh. Bahkan jika Pelangi sakit pun, tak segan-segan menelpon hanya untuk memastikan Pelangi sudah meminum obatnya atau belum.

”Andai saja dia bukan milik orang lain, mungkin aku akan sangat mencintainya, seperti aku mencintai Badai. Andai saja Badai pria itu, mungkin tak akan pernah ada luka di hati, tak ada air mata di pipi. Sosok pria yang aku hanya bisa menyayanginya sebagai seorang kakak laki-laki yang tak pernah aku miliki, sosok seorang ayah yang selalu kurindukan yang kehadirannya telah menghilang 5 tahun lalu. Pria yang sanggup memenuhi kerinduanku akan sosok seorang pria yang bisa menjaga aku, melindungi aku, bersedia meminjamkan punggungnya untuk ku.” Pelangi masih asyik bermain dengan pikirannya.

“Sebelum turun dari Bis, jangan lupa baca Bismillah dan berjanji untuk menjadi Pelangi yang dulu. Pelangi yang selalu berbagi warna cerianya untuk orang-orang di sekelilingnya. Oke!” Ucapnya dibarengi dengan kedipan mata.

Pelangi hanya menjawabnya dengan senyuman tipis dan anggukan kecil.

Andai saja…..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s