Menikahlah Denganku

“Menikahlah denganku?” pintamu berulang kali dan berulang kali pula aku katakan tidak, ya aku selalu menolaknya tapi sepertinya tak pernah ada kata menyerah dalam kamusmu. Kau selalu mengulanginya…lagi, lagi dan lagi.

Kau tahu pasti alasan aku menolakmu walaupun dalam hati aku ingin sekali berteriak memelukmu mengatakan iya. Tapi kau tak perduli, cintamu padaku telah membuatmu tak bisa berpikir tentang masa depanmu lagi. Kaulah pria terbodoh yang pernah aku kenal.

Aku tak ingin belas kasihmu, aku tak ingin membebanimu, aku tak ingin kehidupanmu yang telah sempurna menjadi rusak hanya karena aku. Aku tak mau hidupmu kau habiskan hanya untuk melayaniku, menemaniku dari satu operasi ke operasi lainnya, dari satu terapi ke terapi lainnya. Aku tak ingin dan tak mau. Aku tak ikhlas membuatmu merasakan penderitaan yang aku rasakan.

Aku bukanlah wanita sempurna, kau paham benar tentang itu, tapi kau tetap ada di sisiku, selalu setia menemaniku melewati hari-hari terberatku, tak pernah sedetik pun beranjak dari sisiku.

”Izinkan aku menemanimu! Izinkan aku merasakan penderitaanmu! Aku mencintaimu bukan karena apa yang terjadi padamu aku mencintaimu karena dirimu adalah Pelangi, pelangi hatiku.” kalimat yang senantiasa kau ucapkan saat rasa sakit di payudara ini datang menyerang memberikan sedikit kedamaian dan ketenangan di jiwaku yang hampir putus asa.

Aku benar-benar lelah dengan apa yang kau telah kau lakukan, hatiku menyerah kau berhasil meyakinkan hati dan penyakitku bahwa aku memang butuh dirimu sebagai kekuatanku.

Tapi hari ini aku menyesalinya, sangat menyesalinya, andai saja aku terus melawan keegoan hatiku, tetap gigih dengan logikaku untuk tidak menerimamu pasti kau telah berhasil menjemput impian-impian hebatmu, menjadi kesatria bagi semua orang bukan di sini di dalam gundukan tanah yang gelap, dingin dan pengap.

Kebodohanmu yang selalu ingin terus menemaniku merasakan penderitaan ini membuatmu tak berpikir tentang kesehatanmu yang dari hari ke hari semakin menurun, tak ada gurat kesakitan yang menghias hanya tawa lepas yang tersisa. Kau lebih menderita dari aku. Aku memang jahat, berhasil memasukanmu dalam penjara penuh penderitaan.

Maafkan aku Tuhan…

*Judul kedua di hari ke 15 #15HariNblogFF*

Advertisements

11 comments on “Menikahlah Denganku

  1. ~membaca postingan ini jadi teringat pada seorang teman’s dbloger mungil dari kota hujan Bogor … apa kabar dgn kesehatanmu sobat … do’a ku selalu utk kesembuhanmu … Amin! 😀

  2. dulu saya pernah merasakan hal itu mbak, dan ketika saya tetep kekeuh untuk menyuruhnya pergi saya malah merasa kalo itu adalah hal terbodoh yang saya lakukan.. hingga akhirnya dia benar-benar pergi, dan penyesalan tidaklah lagi berguna.. semoga tokoh itu bisa merubah cara pandangnya.. siapa tahu itu memang terbaik, dan laki2 itu akan tetap dan selalu bahagia meskipun hidup bersama dengan wanita yang “sakit”.. 🙂

    • Kita tidak akan pernah merasakan begitu berartinya seseorang kecuali saat ia benar-benar telah pergi dari sisi kita. Tak melihat senyumnya lagi, candanya, amarahnya, yang tersisa hanyalah penyesalan karena kita tak membuatnya untuk tetap berada di sisi kita.

      Tetap semangat ya Dhe 😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s