Bapak sudah pulang…

*Izin sikat habis semua kategori ya Jeng….. ๐Ÿ™‚ *

*****

Masih kuingat dengan baik tanggal 3 Januari 2009 sekitar pukul 11 malam, tanggal bersejarah yang ga akan pernah terlupakan.

Tiba-tiba handphoneku berdering beberapa kali, aku tak segera mengangkatnya karena nomor itu tidak ada di daftar kontakku. Ya aku memang jarang mengangkat telepon dari nomor yang tidak aku kenal, jikapun dia memang membutuhkan pasti dia akan menelpon kembali atau mengirimkan sms.

โ€œBapak ga ada.” suara di seberang sana memberitahu.

“Bapak memang ga ada, bapak memang ga ada di sini.” Jawabku, aku bingung ini pernyataan atau pertanyaan dan telepon pun terputus, hingga hari ini aku tak tahu siapa yang menelpon.

Selang beberapa menit kemudian telepon rumah berdering, ibu yang mengangkatnya dan tangisan histeris ibu pun meledak memanggil diriku

“Kakak…bapakmu ga ada.”

Aku terdiam sesaat, masih tak mempercayai apa yang kudengar.

“Pastiin dulu bu, telpon yang lainnya.”

Sambil terus menangis ibu mencoba menghubungi teman-teman bapak yang lokasi rumahnya dekat dengan rumah dinas bapak. Sudah lebih dari 3 orang yang ibu hubungi dan sebagian menyatakan bapak memang sudah tak ada.

Aku lemas, benar-benar lemas, aku linglung, bingung…

Dalam hati kecilku, “Alhamdulillah…bapak pulang, Allah mengabulkan permohonanku tapi bukan pulang ke rumah dengan pakaian putin menyelimuti seluruh tubuhnya, terbujur kaku, bukan ini Ya Allah.”

Bapak sudah lebih dari 2 tahun tidak pulang ke rumah, terakhir aku bertemu bapak di tahun 2007 saat beliau menghadiri Rakernas di Jakarta dan kebetulan lokasi hotel tempat menginap beliau tidak jauh dari kantor jadi aku sempatkan untuk mampir.

Andai saja aku tahu kalau itu pertemuan terakhirku, aku pasti bersedia menerima tawarannya untuk menginap, bertukar cerita dan canda.

Aku adalah anak pertama dari istri pertama bapak, sejak keputusan bapak untuk menikah lagi hubungan kami memang menjadi renggang, hubungan kami kaku, menelpon atau mengirimkan sms hanya sekedarnya dan itupun sebulan hanya beberapa kali karena kiriman beliau yang tak kunjung datang.

Beliau tinggal di Palembang karena memang bertugas di sana. Beliau tak mengijinkan ibu untuk menemani karena ternyata istri kedua bapak sudah duluan ada di sana dan sejak itulah bapak sama sekali tak pernah pulang. Padahal bapak cukup sering ke tanah jawa karena istri kedua bapak memang berasal dari Jawa Barat tapi tak pernah sekalipun mampir ke rumah. Benar-benar menyakitkan, aku marah, aku benci.

Berat memang menerima keputusan bapak untuk berpoligami, apalagi aku tahu benar ibu merupakan seorang wanita yang sangat patuh, tak pernah menyusahkan bapak, tak pernah menuntut, selalu menyediakan kebutuhan bapak dengan baik. Entah apa yang membuat bapak mengambil keputusan itu.

Aku masih ingat benar pengakuan bapak bahwa bapak sudah menikah lagi. Sakit rasanya dan lebih sakit lagi saat melihat ibu yang benar-benar terluka dan shock. Ibu berteriak-teriak, “ceraikan ibu, ceraikan ibu.” dan aku hanya sanggup berkata, “nasi telah menjadi bubur yang bisa kita lakukan sekarang hanyalah membuat bubur itu menjadi lebih nikmat, jika bapak memang berpoligami silahkan asalkan bapak bisa adil, adil dalam segala hal.” dan beliau menyanggupi itu.

Sejak saat itu hari-hari ibu selalu dipenuhi tangisan dan pertanyaan “Apa salah ibu? Apa salah ibu?”ย  berulang kali akupun menjawab, “kesalahan ibu hanya satu, ibu terlalu mencintai bapak, Allah ga suka, Allah cemburu sama ibu.”

Aku benar-benar sedih melihat kondisi ibuku yang semakin mengkhawatirkan, berat badannya turun drastis, wajahnya tampak lebih tua dari umurnya. Ibuku benar-benar mengalami depresi.

Hari demi hari kami mencoba melewati hari-hari berat ini di kota yang tanpa saudara dan kerabat, keadilan yang bapak janjikan ternyata hanya ada di awang-awang. Beliau memang masih mengirimkan kami uang bulanan tetapi itupun sekedarnya dan bulan ke bulan makin berkurang ditambah saat itu aku sedang menyusun skripsi tentu membutuhkan biaya yang tidak sedikit akhirnya untuk menutupinya ibu berjualan bakwan dan terkadang menerima pesanan catering. Kami pun hidup seadanya, benar-benar harus mengirit.

Alhamdulillah, kami memang sejak dulu bukan orang kaya, sudah terbiasa dengan kehidupan seadanya meskipun bapak sudah memiliki jabatan pun kami tetap seperti biasa. Mobil yang tersedia di garasi pun jarang sekali kami gunakan, bisa dihitung pergi menggunakan mobil. Kami lebih memilih jalan kaki atau ngangkot.

Sangat jauh berbeda dengan kehidupan istri kedua bapak, begitu menikmati fasilitas kantor, ke sana kemari ada supir yang siap mengantar dan pembantu yang siap melayani 24 jam.

Aku tak membenci bapak, aku membenci sikapnya yang tak tegas, yang ingkar janji akan berbuat adil. Biar bagaimana beliau tetap bapakku. Karena beliau aku ada, beliaulah yang mengenalkan aku pada dunia. Bapak yang selalu ada saat aku kesulitan mengerjakan pekerjaan rumah, bapak yang selalu berdongeng atau mengusap-usap punggungku hingga tertidur, bapak yang menyempatkan memandikan aku sebelum beliau berangkat kerja, bapak yang rajin membelikanku buku-buku. Aku merindukannya.

Ku coba untuk tak meneteskan airmata saat jenazah beliau datang, walaupun sebenarnya aku ingin menangis sekuatnya tapi aku harus mampu menahannya, aku tak ingin memberatkan kepergian bapak dan aku tak ingin terlihat lemah. Aku anak pertama, ibu dan adik-adikku bergantung padaku aku ingin mereka kuat dan tegar karena melihatku mampu melewati ini semua.

Masih terasa benar dinginnya kulit bapak menempel di pipiku. Airmata yang terus mengalir membuat sedikit genangan di kantung mata bapak. Berulang kali kuhapus berulang kali kembali keluar. Aku sudah maafin bapak, bapak ga perlu sedih lagi, aku akan menjaga ibu dan adik-adik. Bapak bisa pergi dengan tenang.

Ternyata masih ada di sudut hatiku yang belum mengikhlaskan kepergian beliau karena hingga saat ini terkadang aku masih merasa bapak masih ada, bapak hanya sedang pergi dinas seperti biasanya dan suatu saat pasti kembali, pasti pulang kembali berkumpul seperti dulu.

*****

Keadilan memang mutlak milik Allah, siapa pun di dunia ini tak ada yang sanggup berbuat adil.

Seburuk apapun yang telah dilakukan orang tua, mereka tetaplah orang tua kita yang tak luput dari kesalahan dan tugas kita sebagai anak adalah membantu mereka memperbaiki kesalahan mereka.

Kebencian hanya bisa menghancurkan.

Allah tak akan memberikan cobaan melebihi kemampuan umatnya. Allah paling tahu kemampuan kita menghadapi setiap permasalahan hidup.

Semua cobaan, ujian, musibah adalah tanda bahwa Allah sangat menyayangi kita.

Cinta yang berlebih hanyalah pantas ditujukan untuk Allah, pencipta dan pemilik apa yang ada di bumi dan di langit.

โ€œIqoh berpartisipasi dalam โ€˜Saweran Kecebong 3 Warnaโ€™ yang didalangi oleh Jeng SoesJeng DewiJeng Nia, disponsori oleh Jeng Anggie, Desa Boneka, dan Kios108โ€.

Advertisements

4 comments on “Bapak sudah pulang…

  1. hiks…sedih yach melihat mayat bapak mengeluarkan air mata…pasti beliau menyesal krna selama ini sudah berlaku tidak adil terhadap istri pertama dan anak2nya….smoga kejadian sprti ini tdk terulang lagi….smoga banyak laki2 yg sadar bahwa poligami hanya akan meyakitkan istri pertama dan anak2nya……

    terimakasih iqoh atas partisipasinya…sdh tercatat sbg peserta…terimakasih sdh ikutan 3 kategori….

    • Banyak pria yang melakukannya dengan cara-cara yang tidak tepat ๐Ÿ™‚

      Terima kasih mba ๐Ÿ˜‰

      Senang bisa berbagi dan semoga ada hikmah yang bisa diambil amiiin….

  2. Bener, nggak kan ada manusia yang bisa berbuat adil. Meskipun bilang ikhlas, hati istri pertama pasti sakit. Pasti. Apalagi kalo memang nggak ikhlas sejak awal. Semoga Bapak sudah bahagia disana sekarang ๐Ÿ™‚

    Makasih atas partisipasinya, sudah dicatat sebagai peserta ๐Ÿ™‚

  3. Maap Say mak Cebong 3 lagi2 ketinggalan kereta ๐Ÿ™‚

    Ya Allah, pasti sedih banget yah yang judulnya di poligami. Meski di dalam agama diperbolehkan, tapi tetap rasanya pasti teriris2 dan nyesek banget. Alhamdulillah Ibunda dikau tegar dan kuat menghadapinya

    Setuju Qoh, apapun yang terjadi, Bapak tetaplah bapak. Kebencian tidak akan memberikan kita apa2, hanya memperburuk keadaan. Mirip case Nenek gw yang dipoligamiin sama Kakek

    Semoga Bapak mendapat tempat yang terbaik. Amien

    Thanks Iqoh Sayang udah ngeramein lagi acaranya Mak Cebong. Kalo mo liat penampakan hadiahnya silahkan mampir ke tempat Mak Cebongs ๐Ÿ™‚

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s