Day 9: “Inilah Aku Tanpamu”

*Bertekad harus sampai finish #15HariNgeblogFF, biar telat ga peduli…#maksa# tetep semangat 😉 *

*****

Sudah kuputuskan, berat dan tidak mudah memang tapi harus, aku harus berani, meski hati ini harus terluka dan merasakan perih, tapi setidaknya aku telah berjuang, berjuang untuk kehidupanku sendiri, berjuang untuk masa depanku. Bukankah tiada seorangpun yang bisa merubah kehidupan kita jika bukan kita sendiri yang melakukannya dan inilah hari penentuan itu.

Aku sengaja datang 1 jam lebih awal dari waktu yang telah dijadwalkan, selain karena tak ingin telat, aku ingin segera mengakhirinya. Mengakhiri penderitaanku dan memulai kehidupan baru. Tak peduli lagi dengan gelar atau sindiran yang akan aku terima. Karena akulah pemilik kehidupanku.

Jantungku seakan berdetak sangat cepat saat kaki-kaki ini melangkah mendekati sebuah bangunan yang tidak terlalu besar dengan cat hijau samar hampir mendekati warna dasarnya. Bangunan yang dalam impianku pun tak ingin aku datangi. Bangunan yang sangat dihindari oleh setiap pasangan.

Ya Tuhan ringankanlah langkahku, aku menyadari pasti Engkau membenci cara yang aku pilih. Tapi, Engkaulah yang Maha mengetahui mengapa aku memilih jalan ini.

Ternyata, aku datang tidak lebih pagi, sudah banyak orang yang mengantri di sana. Masya Allah…ternyata tidak sedikit yang mengambil keputusan yang sama dengan diriku. Mengapa harus ada pertemuan jika akhirnya harus terpisah.

…dan diantara keramaian itu, aku seperti mengenal satu sosok wajah itu.

“Sudah siap kau?”

“Insya Allah. Aku pikir dirimu tak akan datang memenuhi undangan itu.”

“Aku pasti datang tapi bukan memenuhi untuk undanganmu tapi menjemputmu. Kau masih bisa merubah keputusanmu dan aku akan siap menerimamu kembali.” pintamu angkuh.

“Maaf, aku tak bisa.”

“Aku mohon…aku akan berubah, aku akan menjadi seperti yang kamu mau. Aku janji sayang.”

“Maaf, jangan lagi kau umbar janjimu. Aku tetap dengan keputusanku.”

“Wanita keras kepala, kamu ga akan bisa hidup tanpa aku. Bukankah itu yang selalu kamu ucapkan?!”

“Ya inilah aku yang sekarang. Inilah aku hari ini. Dirimu takkan temukan Nuke yang dulu. Nuke yang bodoh, Nuke yang naif, Nuke yang penurut.”

“Tapi Radit butuh aku, kamu jangan lupa itu!”

“Kamu memang ayahnya, tapi Radit tidak butuh kamu.” Aku pun berlalu dari hadapannya, membiarkannya merasakan kekalahannya.

*****

Inilah aku dengan kehidupan baruku, kehidupan tanpa rasa takut yang selalu saja berhasil menyelinap masuk memenuhi setiap ruang tubuhku.

Kini aku tak perlu bersembunyi lagi saat kau mengetuk pintu dengan keras memaksa masuk bersama satu botol alkohol di tanganmu. Aku tak perlu meminjam uang tetangga hanya untuk membayar utang-utang taruhanmu yang tak pernah ada akhirnya. Aku tak perlu lagi menangis memohon belas kasihmu untuk berhenti memukul Radit hanya karena ia menangis. Aku tak perlu lagi menerima tamparanmu saat aku telat menyajikan sarapan pagi. Aku tak perlu lagi berbohong pada kedua orang tuaku saat mereka melihat luka lebam di wajahku.

Inilah aku tanpamu, kebahagiaan yang seharusnya sejak dulu aku miliki. Aku telah menjemput impianku.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s