Sepucuk surat (bukan) dariku

Inilah akhir dari penantian panjang kami sebagai sepasang kekasih, cinta kami akan segera terukir di dalam buku hijau. Cinta kami akan benar-benar menyatu dalam satu ikatan resmi.

Entah berapa kali aku melihat jam yang melingkar di tangan kiriku, sepertinya jarum-jarum ini bergerak sangat lambat sangat tidak seirama dengan detak jantungku yang bergerak begitu cepat. Huuffft…aku benar-benar gugup, keringat ini sepertinya tak mau berhenti, terus saja bercucuran, tak menyadari hampir satu bungkus tissue aku habiskan.

“Tenanglah Satria, Insya Allah semuanya akan berjalan lancar. Serahkan semuanya pada Allah”, ibu berusaha menenangkanku dengan usapan lembut di punggungku lalu mencium keningku. Ahhh ibu…kau benar-benar membaca kegugupanku.

“Satria, ayo masuk”, ajak Ayah menuntunku memasuki Masjid

“Hapus keringatmu, nanti bedaknya luntur”, canda ibu.
Ya Tuhan, kenapa jantungku semakin tak beraturan, kenapa Masjid ini tiba-tiba menjadi sangat panas.

“Yang ini pengantin prianya?”, tanya Pak penghulu sambil menyodorkan tangan mengajak bersalaman.

“Iya pa, saya Satria”, jawabku gugup menyambut tangan Pak Penghulu..

“Mana pengantin wanitanya?” tanya penghulu

“Sebentar pak, sedang berjalan kemari”, jelas calon ibu mertuaku dan selang 5 menit kemudian

“Nah, itu dia pengantin wanitanya pak”.

Ya Tuhan, apakah itu kamu Mentari, pupil mataku membesar dan bergerak mengikuti gerakan tubuhmu yang mengalun indah. Mentari benar-benar cantik, aku hampir tak mengenalnya.

Rasanya aku makin tak percaya kalau dirimu bersedia menghabiskan sisa umurmu bersamaku. Bersedia menjadikan aku sebagai Ayah bagi anak-anakmu kelak, bersedia menjadi makmumku. Mentari…

Masih segar diingatanku pertama kali kita bertemu, dan selang 3 bulan kemudian kau menerima pernyataan cintaku dan tiga bulan yang lalu kau menerima pinanganku.

“Sudah siap semuanya…”, kalimat Pak penghulu mengagetkanku.

“Siaaappp”, jawab hadirin seretak.

“Baiklah kita mulai”.

“Tunggu Pak Penghulu, ada yang kurang”, kalimatku mengagetkan Mentari dan seluruh hadirin.

“Maaf Mentari, aku tak bisa meneruskannya”.

“Maksudmu apa mas?” wajah Mentari panik, bingung, airmata mulai menggenangi matanya yang indah.

“Iya, bukan aku  yang seharusnya ada di sini. Aku sangat mencintaimu, sangat menyayangimu, tapi ternyata aku lebih menyayangi mas ku, Mas Aryoku, pria cacat yang telah menjadikanku seorang pria hebat”.

“Apa yang kau lakukan Satria, jangan gila”.

“Aku tak ingin menjadi seorang pengecut mas, bukankah itu yang kau ajarkan padaku.

“Mas Aryo, dirimulah yang lebih pantas untuk menemani Mentari. Aku tahu kau pasti akan menjaganya dengan baik, sangat baik. Aku yakin itu”.

“Mas, apa-apaan sih kamu?” Mentari semakin panik tapi kali ini ada amarah di matanya.

“Maaf Mentari, aku tak bisa menyimpannya lagi. Sepucuk surat itu bukan dari aku. Ya, surat yang selalu kau jaga dengan baik itu bukan dariku. Puisi-puisi cinta itu, kata-kata indah itu bukan aku penulisnya”.

Kau hanya diam mematung, tak ada satu pun kata yang mampu keluar dari bibirmu, hanya matamu yang tetap bicara, ya seketika cinta itu telah berubah.

Maafkan aku Mentari, maafkan aku Mas Aryo….

Mentariku kini telah berlalu tergantikan lembayung senja yang bersiap  berteman dengan Mentari baru.

Kau pun pergi  bersama luka yang telah kami torehkan.

*Di tengah hujan dan mati lampu plus batere laptop yang tinggal seemprit, akhirnya ikut ngeramein hari ke tujuh #15HariNgeblogFF * 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s