Ada Dia di Matamu

”Kamu tunggu di sini dulu ya Mar. Aku mau ketemu temenku dulu. Dia yang bakal kasih kamu pekerjaan. Kalau ada yang macem-macem kamu tinggal teriak aja, yah…”

“Iya mas, aku ndak akan kemana-mana kok, wong aku ndak tau Jakarta. Aku akan setia menunggumu”.

”Kamu ini bisa aja, kamu memang calon istri yang baik”.

Marni tersenyum manja mendengar rayuan Karto, “Jangan lama-lama ya mas, aku udah lapar nih”, sambil mengusap-usap perutnya.

“Iya  ndak lama kok Diajeng”, kedipan mata kiri Karto membuat Marni tenang.

Akhirnya Marni sampai di Ibukota Jakarta mencoba mengadu nasib dengan bermodal ijazah SMP, Marni berangan-angan memiliki pekerjaan yang lebih layak. Marni ingin membantu bapak yang hanya seorang buruh tani dengan penghasilan tidak tetap bahkan terkadang jika panen gagal, uang sepeser pun tak diterimanya ditambah kondisi bapak sekarang yang sering sakit-sakitan.

Kepergian ibunya lima tahun lalu ke negara Arab yang tak kunjung kembali membuat Marni sebagai anak tertua harus mampu menjadi ibu bagi adik-adiknya.

Dan Karto, Pria yang telah membuat Marni tak ingin menolaknya menjadi suaminya berhasil membawanya meninggalkan kampung halaman, bapak, dan kedua adiknya.

Marni yang tak ingin sedetik pun berjauhan dengan Karto.

“Kamu Marni ya?!” tanya seorang pria tinggi besar dengan banyak tato di kedua tangannya, kepala botak dengan satu anting di telinga kirinya, matanya nanar menatap Marni dari ujung kaki hingga kepala.

“Iya pa, saya Marni”, jawab Marni ketakutan bahkan nyaris tak terdengar, suaranya terjepit di kerongkongan.

Seketika itu juga pria di hadapannya langsung menyambar tubuh Marni dan menaruhnya di bahunya. Marni spontan berteriak dan meronta-ronta, kakinya menendang-nendang tak beraturan, tangannya terus memukul punggung pria itu, mencakar, mencubit, bahkan sesekali giginya turut beraksi. Segala usaha dikerahkannya untuk lepas dari genggaman pria itu, tenaganya hampir habis tapi pria itu sama sekali tak merasakan sakit, bergeming pun tidak. Sia-sia saja usaha Marni.

“Tolooooooong….Mas Kartooooo toloooooong……”, teriak Marni sekuat tenaga tapi sepertinya tak ada yang mendengarnya.

“Hahahaha…..percuma kamu minta tolong….hahaha….simpan saja tenagamu cah ayu”, tangannya menepuk-nepuk pantat Marni yang berada tepat di samping pipinya.
“Lepaasssss….Mas Kartoooooo”, hilang sudah suara Marni, tenaganya benar-benar terkuras, sungguh tak berdaya.

“Dimana aku ini, kepalaku pusing, berat, haus”, Marni terbangun lemas setelah lebih dari 4 jam pingsan. Marni mencoba mengingat kembali peristiwa apa yang baru saja menimpa dirinya, dan Marni terkejut mendapati tubuhnya dengan pakaian sangat minim warna merah tanpa lengan, “bajuku…mana bajuku, baju apa nih, baju siapa ini?” teriak Marni bingung dan histeris.

Lalu masuklah sesosok pria buncit, berambut gondrong dikepang dengan leher dan tangan yang dipenuhi perhiasan mencolok.

“udah bangun kamu cah ayu?”, senyum pria itu dengan wajah penuh nafsu.
“Siapa kamu? Dimana mas Karto? Dimana aku?” teriak Marni ketakutan dan tangis mulai pecah.
“Mas Karto? Hahaha…dia sudah pergi dan kamu dititipkannya padaku…hahaha…” tawanya
“Pergi?”
“Iya pergi”.
Marni duduk terkulai lemas, meratap, memanggil Karto…
“Tidaaaakkk….Mas Karto jangan tinggalin aku”.

***

Enam bulan yang lalu kau ke Jakarta dan sekembalinya kau berubah mas. Sehebat apapun aku berusaha tetap hanya dia.  Hanya ada dia di matamu, hatimu, pikiranmu dan kau sukses mengorbankan aku untuknya, rintih Marni dalam hati penuh kebencian.

*Huuuu….selesai juga hari ke enamnya #15HariNgeblogFF dengan kata hampir mendekati 500*

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s