Jadilah milikku, mau?

*Selesai di detik-detik terakhir, baru hari ke lima #15HariNgeblogFF udah gazebo (ga zelas boooww) 🙂 *

***

”Hai, loe tinggal di sini? Kayaknya baru hari ini deh gw lihat loe”, sapa Bintang sok akrab.

“Hai juga, tidak, sudah hampir satu minggu kok aku tinggal di sini”, jawabnya agak terkejut.

“Kok gw ga pernah lihat loe ya. Oh ya, gue Bintang”, Bintang menyodorkan tangannya mengajak berkenalan.

”Aku Matahari.”

”Wiiihh…silau man…keren juga nama loe.”

”Terima kasih, mamah yang kasih nama itu”.

“Ohh…”

”Rumah kamu yang sebelah mana?”

“Itu yang ada pohon mangganya. udeh ye, gw cabut dulu. Udah telat nih. Selamat datang tetangga baru“.

”Terima kasih”.

Sejak saat itu persahabatan mereka terjalin. Umur mereka yang tidak terpaut jauh membuat mereka cepat akrab, Bintang 3 tahun lebih tua tapi tak menjadikannya lebih dewasa daripada Matahari. Seperti matahari dan bintang mereka adalah dua karakter yang sangat jauh berbeda. Bintang yang sangat pemberani, ceplas-ceplos, tak beraturan, dan mudah tersulut emosinya. Sedangkan Matahari, sungguh sangat pemalu, tertutup, lemah lembut, tutur katanya teratur dan halus.

Bintang selalu hadir untuk Matahari, Bintang selalu menjadi pelindung Matahari. Matahari dengan kelembutannya selalu berhasil meredakan kemarahan Bintang yang meluap-luap dan bertindak semaunya tanpa aturan. Bintang yang selalu berhasil membuat Matahari tersenyum dengan gurauan-gurauannya.

“Bintaaaang….”, Matahari berlari dan langsung memeluk Bintang.

”Ya ampun ‘ri, kenapa bibir loe? Bokap loe mukulin loe lagi? Harus dikasih pelajaran”, wajah Bintang memerah marah dan tangan kanannya mengepal semakin kencang.

”Jangan, biar bagaimana pun dia tetap Ayahku”, halang Matahari dalam tangisnya menahan sakit dengan suara yang hampir hilang. Darah segar terus mengucur dari bibirnya yang sobek.

”Apa loe bilang, Ayah? Loe masih anggap dia Ayah? Gila loe ye, sampai kapan loe bakalan belain dia? Sampai kapan ‘ri?” Bintang benar-benar berteriak-teriak marah, gemrutuk giginya terdengar menahan kesal yang teramat.

”Hanya dia yang kupunya Bintang, hanya dia”, tangis Matahari meledak, “Aku tahu dia jahat, dia bukan ayah yang baik, sejak ibuku meninggal hanya dia yang kupunya. Jika kau menyayangiku, aku mohon jangan sakiti ayahku, Bintang”.

Matahari terus menangis mengiba, kedua tangannya menyatu, memohon Bintang mengurungkan niatnya, Bintang tak kuasa, amarahnya mencair, ia melemah dan tangannya pun menarik tubuh Matahari ke dalam dekapannya, “Jadilah milikku, mau?” tiba-tiba kalimat berbisik itu meluncur begitu saja, melesat tanpa jeda, “maka aku pun akan menjadi milikmu dan kau tak perlu tinggal dengan si tua keparat itu. Jadilah Matahariku”.

Matahari langsung mengendurkan dekapannya, menatap tajam ke arah mata Bintang. Mereka pun saling berpandangan, wajah mereka bergerak semakin mendekat hingga  desahan napas terasa menerpa wajah mereka…

****

“Jadilah milikku, maukah kau?”
“Jadilah matahariku…”

Hanya kalimat-kalimat itu yang selalu diucapkan karena hanya kalimat-kalimat itu yang masih membekas di hatinya dan tersimpan manis di memorinya. Tatapan kosong, wajah sayu, tubuh yang mengecil, tipis dan kuyu.

Aku hanya bisa menatapnya pilu, sakit. Matahariku telah tertutup awan, matahariku tak akan bersinar terang. Matahariku…

“Maaf mbak, jam besuknya sudah habis”.

Advertisements

2 comments on “Jadilah milikku, mau?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s