Aku maunya kamu. Titik!

*Akhirnya selesai juga untuk hari keempat #15HariNgeblogFF, sepertinya pas 500 🙂 *

***

“Mas, aku taruh di tempat biasa ya…”

“Taruh apa ‘de?”

“Udah, mas tinggal ambil aja kok”.

“Kamu bawain makanan lagi?”

“Hehehe…kebetulan aku ada perlu, jadi sekalian aja”.

“Besok-besok jangan lagi ya”.

“Iya, ga lagi kok”.

“Ini yang terakhir ya”.

Maafkan mas ya de, mas tahu kamu pasti kecewa dengan jawaban mas. Mas memang jahat, tapi ini yang terbaik, mas ngga mau kamu berharap, harapan yang ngga mungkin mas bisa penuhi.

Biru mencoba menghabiskan makan siang yang telah dibawakan Jingga untuknya, sambil sesekali menghapus air mata yang mengalir di pipinya. Perasaan bersalah Biru semakin menghebat.

Mas tahu kamu berbohong, kamu sengaja membawakan ini untuk mas, kenapa kau lakukan ini ‘de?

Kamu terlalu baik untukku, sudah terlalu banyak hal yang telah kau beri dan tak ada satu pun yang bisa mas balas. Maafkan mas…

Kau yang tak pernah menuntut, kau yang selalu saja menyediakan maaf untuk kesalahan-kesalahanku, keceriaanmu selalu hadir menemaniku, celoteh-celoteh nakalmu, gurauan garingmu memberikan hiburan tersendiri di hati mas. Aaahhh…hatimu terlalu indah untukku dan rasanya tak sanggup untuk menyakitimu ‘de.

Masih jelas teringat wajah manisnya tetap tersenyum saat aku katakan tak bisa melanjutkan hubungan ini. Jingga hanya berkata, “Maafkan aku ya mas”, ahh…kata maaf selalu menghiasi bibirnya meskipun aku tahu dia tak bersalah, “aku tak pernah meminta apapun padamu mas, tapi kini aku meminta, hanya satu hal, aku mohon perjuangkan aku”.

Aku hanya diam mematung, tak tahu harus menjawab apa. Jingga…satu permintaanmu itu teramat berat bagiku, tak mungkin bisa aku penuhi, Tuhan maafkan aku…

“Lupakan mas ya de, carilah pria yang lebih baik. Pria itu pasti akan sangat beruntung memilikimu”.

“Tapi kenapa mas ga mau jadi pria beruntung itu?  Mas, aku maunya kamu. Titik!”

***

Tanpa sengaja mata Biru tertuju pada sebuah kotak makan orange, dan dari bibirnya langsung terucap, “Jingga, ahhh…gadis itu, apa kabar ya…?”

Ternyata sudah hampir satu bulan aku tak pernah mendengar kabar Jingga dan aku pun tak pernah lagi menelpon ataupun mengirimkan pesan singkat sekedar menanyakan kabarnya,  inilah yang terbaik tapi tiba-tiba kerinduanku akan sosoknya hadir menyergap. Mas kangen ade, mas sayang ade, mas butuh ade.

Kontan saja Biru langsung mengemas kotak makan itu dan menancap gas motornya kesetanan.

Iya, mas akan mengabulkan permintaanmu ‘de, mas akan berjuang untukmu, tunggu mas ‘de.

***

“Assalamu’alaikum…”

“Wa’alaikumsalam…”

“Nak Biru….”,  wanita setengah baya terkejut menyambut kedatangan Biru.

“Jingga ada tante?

Bingung dan terdiam sesaat, “Ada, mari ibu antar. Jingga sudah 1 minggu lebih tidak tinggal dengan tante lagi”.

Aku terus berjalan bingung mengikuti langkah Ibunda Jingga.

“Kita sudah sampai ‘nak Biru”.

“Tante…ini….?”, aku benar-benar bingung.

“Iyah, sekarang Jingga tinggal di sini”, tiba-tiba ketenangan wajah Ibunda Jingga lenyap.

Aku langsung terjatuh, lemas, tenaga di kakiku lenyap, pandanganku hanya tertuju pada satu nama yang tertulis di batu nisan itu.

“Jinggaaaaaaa…”, teriakku dalam tangis, “Ya, aku pun hanya mau kamu. Titik!”.

 ***

 “Mas, kamu baik-baik saja kan?!”, tiba-tiba sebuah sms masuk, “Jingga kangen mas”.

“Alhamdulillah, mas baik kok”, jawabku, aku pun kangen kamu Jingga tapi tak kusampaikan, karena tak ingin membangkitkan harapanmu lagi.

Ternyata ini sms terakhirmu, andai saja aku tahu….

Advertisements

5 comments on “Aku maunya kamu. Titik!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s