Hatimu…

Sudah…cukup…hentikanlah, jangan lagi kau lakukan itu

Tapi aku ingin dan Insya Allah aku ikhlas melakukannya. Menyenangkan seseorang melalui tindakan bukankah lebih baik daripada ribuan kali menundukkan kepala dalam doa, apalagi untuk seseorang yang spesial.

Dirimu ikhlas tapi aku tidak, aku sedih jika kau melakukan itu, batinku tak menerimanya. Apa yang kau lakukan itu sia-sia, itu hanya membuat dirimu seperti orang bodoh. Memalukan

Aku mohon…ikhlaskan hatimu…tolonglah, bukan untuk siapa aku melakukannya tapi ikhlaskan hatimu karena aku yang melakukannya. Kau benar aku memang bodoh, terlalu bodoh malah, logikaku memang mati suri, aku hanya mengikuti kata hatiku.

Salahkah…

Jangan kau tunjukkan wajah melasmu itu, aku semakin terluka bila kau melakukannya. Aku akan mencoba seperti dirimu, tapi aku tak bisa berbohong, aku benar-benar kesal pada dirimu yang seperti ini.  Kata hati memang tak pernah berbohong, tapi kau benar-benar harus bedakan, benarkah itu hatimu atau hanya emosi yang berjiwakan hati…

Tapi, aku benar-benar tulus padanya…

Sungguh kau tulus padanya…

Insya Allah…aku tulus dan jujur padanya.

Ini yang pertama untuk aku, aku tak pernah merasakan seperti ini sebelumnya, jadi aku tidak akan mungkin berbohong pada hatiku sendiri.

Jika kau tulus dan ikhlas, kau tak akan pernah berharap untuk mendapatkan balasan.

Sekarang tanyakan pada hatimu apakah kau berharap dirinya akan membalasmu…

Aku akan jujur menjawabnya

mmmhhh…dulu iya…aku sangat berharap padanya tapi kini tak lagi, cinta tak akan menyakiti, cinta justru akan memberikan bahagia. Aku hanya berusaha memberikan yang terbaik.

Tapi sekarang kenapa kau menangis…menangis saat dirinya tak mengingatmu, menangis saat dia tak lagi peduli padamu, menangis tiap kali kau mengingatnya.

Air mata ini air mata kerinduan…dia tak menyakitiku, aku yang telah menyakiti diriku sendiri

Kau memang  keras kepala, dia tak pantas untuk airmatamu. Menangislah untuk orang yang selalu membuatmu tersenyum bukan dia yang selalu membuatmu menangis.

Tapi dia memberiku keduanya, senyuman dan tangisan, lalu apa yang harus aku lakukan…

Oh ya…kamu yakin…sekarang kau tanya apa yang harus kau lakukan?

Hanya dirimu yang punya jawabannya.

Hatiku?

Ya, tanyakan lagi pada hati nurani yang belum ternodai.

Jangan terlalu naif, dia memanfaatkanmu, dia datang hanya saat dia butuh, kehadiranmu bukan udara untuknya. Kau tak menyadari sikapnya seperti apa padamu sekarang…

Aku tak berbohong,  aku memang naif. Aku tahu, aku memang dimanfaatkan tapi bukankah manusia ada agar bisa memberikan manfaat untuk sesamanya?

Aku memang bukan udara yang kehadiranku selalu dibutuhkan tapi setidaknya aku bisa menjadi  bulan yang bisa memberikan sedikit terang di kegelapan, hadir  saat dirinya mengalami kesusahan. Aku sangat menyadari  sikapnya sekarang seperti apa, cuek, masa bodoh, menjauh, tapi aku yakin ia melakukannya agar aku tak lagi menaruh harapan padanya, tak ingin menyakitiku.

Dia melakukan itu, karena memang dia seperti itu. Dirimu tak pernah ada di hatinya. Dirimu sama seperti bunga-bunga lainnya.  Dia hanya tertarik pada warnamu, ia memetikmu, kau layu, dan ia membuangmu.

Jangan kau katakan itu, pikiranmu jahat sekali.

Aku berpikir seperti apa yang aku lihat kawan…

Sudahlah, jangan lagi kau salahkan dirinya. Bukan dirinya pemilik hati sepenuhnya, dia tak punya hak atas apa yang ada di hatinya. Tuhan yang meniupkan semua rasa yang ada dihatinya. Jikapun hatinya bukan untuk aku, itu berarti karena memang Tuhan yang mengingikannya. Sekarang aku hanya bisa memohon padaNya, mau sedikit berbaik hati padaku

Aku bukan dirimu yang dulu, yang selalu ceria, tersenyum ringan tanpa beban.

Aku masih sama kawan…tak ada yang berbeda dari diriku. Senyum ringan itu masih ada, keceriaan itu belum menghilang.  Sekarang, aku hanya lebih mengenal siapa diriku, seperti apa diriku.  Aku bersyukur, Allah masih berkenan memberikan aku kesempatan itu dan kesempatan itu melalui dirinya.

Terus saja bela dirinya, sepertinya apa yang kukatakan akan sia-sia.

Tak ada yang sia-sia dalam hidup ini kawan…aku pun bersyukur memiliki dirimu. Kau selalu setia menemaniku, kau tak pernah pergi, dan sedikit pun tak ada niat meninggalkanku. Jangan pernah lelah ya kawan… Doakan saja kawanmu ini untuk bisa kuat menghadapinya.

Aku selalu berdoa untukmu kawan… Semoga kebahagiaan selalu mengiringi langkahmu…

Sayup-sayup lagu Maliq D’essential pun terdengar menemani lamunan mereka…

Ketika kurasakan sudah ada
ruang di hatiku yang kau sentuh…oh
dan ketika kusadari sudah
tak selalu indah cinta yang ada..uwo..o..o
mungkin memang ku yang harus mengerti
bilaku bukan yang ingin kau miliki
salahkah ku bila
kaulah yang ada di hatiku
oh…

adakah ku singgah di hatimu
mungkinkah kau rindukan adaku
adakah ku sedikit di hatimu ?
bilakah ku mengganggu harimu
mungkinkah tak inginkan adaku
akankah ku sedikit di hatimu ?

bila memang ku yang harus mengerti
mengapa cintamu tak dapat kumiliki
salahkah ku bila
kaulah yang ada di hatiku
kau yang ada di hatiku

bila cinta kita tak kan tercipta
ku hanya sekedar ingin tuk mengerti
adakah diriku oh singgah di hatimu
dan bilakah kau tau
kaulah yang ada di hatiku
kau yang ada di hatiku
adakah ku di hatimu?

Advertisements

7 comments on “Hatimu…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s