Miss that words….

Entah mengapa tiba-tiba kumerindukan 4 kata itu, 4 kata yang biasa kau kirimkan sebelum berangkat kerja dan sebelum beranjak dari kantor di sore hari. 4 empat kata yang sebenarnya tidak terlalu istimewa, sangat biasa, siapa pun bisa mengatakannya tanpa mengenal batasan usia. Tapi karena dikirimkan dari seseorang yang sangat berarti menjadi sangat istimewa. Sebuah perhatian kecil yang mempunya arti mendalam.

Masih terekam dengan baik di hati dan pikiran Ratih, 4 kata itu. 4 kata yang selalu menghantui hari-harinya terutama saat kata-kata itu harusnya sudah diterimanya. Sudah enam bulan sejak peristiwa itu, Ratih benar-benar tak pernah menerimanya, Danang benar-benar telah berlalu dari kehidupannya, menghilang. Jalinan silaturahmi yang pernah ditawarkan Danang pun sama sekali tak terbukti, Ratih tak pernah menerima kabar apa pun dari Danang. Jangankan sepucuk surat, satu pesan singkat pun tak ada yang mampir di telepon genggamnya, walaupun hanya sekedar basi-basi.
“Mungkin memang seharusnya seperti ini ya mas, benar-benar terputus, kau tak lagi mengirimkan kabar apa pun padaku, sehingga tak ada lagi ruang kosong dan harapan  padamu yang tersisa sedikit pun”. Tarikan napas Ratih benar-benar berat, seakan beban itu tak ingin beranjak dari punggungnya.  Ratih benar-benar tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan dengan perasaannya.

Perasaan yang harusnya sudah ia kubur dalam-dalam, perasaan yang seharusnya tidak lagi mengganggu kehidupannya, perasaan yang ternyata masih selalu ia jaga dengan setiap kenangan yang melekat untuk pria yang telah mengisi hari-harinya hampir satu tahun setelah 4 tahun lebih jiwanya tak lagi merasakan cinta seorang pria. Cinta yang membuatnya kembali bersemangat, warna baru yang kembali menceriakan kehidupannya.

Hari-harinya selalu dipenuhi dengan ocehan tentang pria itu, mas Danang yang begini, mas Danang yang begitu, mas Danang yang suka ini, mas Danang yang tidak suka itu. Ratih…Ratih…tersirat jelas dirimu sedang benar-benar jatuh cinta pada pria itu.

Kerinduannya yang makin hari makin memuncak akhirnya berhasil mengalahkan logikanya, bahwa pria itu bukanlah untuk dirinya, pria itu tak cukup pantas menerima semua pengorbanannya, ketulusan dan kebaikan hatinya.
”Assalamu’alaikum…apa kabar mas? Baik-baik saja kan?! Gimana dengan pekerjaanmu?” pesan singkat itu pun akhirnya dikirimkan Ratih.

Cemas Ratih menunggu balasan pesan singkat itu, dan satu jam pun berlalu, jawaban belum diterimanya juga, ”Ahhh…mungkin memang mas Danang sedang sibuk, sepertinya sms ku kurang tepat dikirimkan pada jam segini.” Ratih mencoba berpikiran positif.

Hari pun sudah berganti, jawabannya yang dinantinya tak kunjung hadir, ”Sepertinya memang dirimu sudah melupakan aku, diriku sudah benar-benar tidak ada lagi di hatimu, harusnya aku bisa sepertimu, ajari aku mas”, desahnya dalam hati.

Ya Allah, Engkau yang memberikan rasa ini, maka cabutlah kembali rasa ini, rasa yang seharusnya hilang dan gantilah dengan yang lebih indah yang akan setia menemaniku hingga ujung waktuku.

Sebulan telah berlalu sejak sms terakhir yang dkirimkannya tanpa balasan pun, kerinduannya pada empat kata itu masih bertahan, belum berubah sedikit pun.Tiba-tiba handphonenya berbunyi, dengan gerakan lambat dan malas Ratih mengambilnya, tapi seketika itu mata Ratih langsung berbinar, raut wajah penuh senyum, dalam hanphone jelas tertulis, sms dari pria yang telah ditunggunya.
”Maaf, mohon dengan sangat untuk tidak lagi mengirimkan sms ataupun menelpon ke nomor ini lagi. Terima kasih.”
Ratih hanya termangu tak percaya apa yang tertulis di sana, berulang kali ia melihatnya, berulang kali pula ia tak percaya, tubuhnya benar-benar lemas, seluruh tulangnya seperti telah tercabut dengan paksa, tak ada tenaga yang tersisa, lidahnya kelu, tubuhnya menggigil, hanya air mata yang berhasil menghiasi bola matanya yang indah dan bayangan akan sosok pria itupun bermunculan.
”Ya Allah, aku benar-benar telah salah, tidak seharusnya. Beri aku kekuatan. Aku hanya merindukan empat kata itu dan kata itu benar-benar tak akan pernah lagi aku dengar ‘hati-hati ya de’ dan ‘hati-hati ya mas’ kini hanya bisa terucap dalam hati dan semoga dirimu masih bisa mendengarnya.”

Bukan ‘aku sayang kamu’, bukan ‘aku cinta kamu’, bukan ‘aku rindu kamu’…just that simple words…

Dimulai dari sebuah keindahan akan warna cinta, hidup penuh dengan keceriaan dan kebahagiaan karena dua jiwa telah menyatu. Tuhan menyisipkan kerinduan ke dalam hati terdalam. Sebuah nama telah terukir, hembusan napaspun menyeru namanya, wajahnya hadir dalam setiap tatapan, saat tidur dan bangun pun ingatan tertuju pada kekasih hati. Rindu, rasa yang selalu berisi bahasa kalbu akan cinta, bagai meneguk segelas anggur, mabuk dibuatnya, mabuk akan cinta. Cinta adalah kebahagiaan dan kesedihan yang akan selalu menghiasi kehidupan.

Jika kau mencintai seseorang, ungkapkanlah.. Jika kau merindukan seseorang, katakanlah.. Sebelum terlambat dan ia semakin hilang, karena waktu tak akan pernah kembali, ia kan terus bergulir menjemputnya dan membawanya kian menjauh pergi. Jangan kau dekap erat sang duka. Usah kau simpan lara sendiri. Maka, jemputlah sang cintamu.

Advertisements

3 comments on “Miss that words….

  1. maap saya lagi meng-eja nama … iqohchan 😉
    nama ini campuran … iqoh (sunda) dan chan (jepang or padang) ?
    –> iqochan –> iqoh ceweq jepun
    –> iqochan –> iqoh chaniago –> cew dari suku chaniago (orang padang) ,,hehehe 😛

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s