Nyatakah ini…

Entah mengapa tiba-tiba aku terbangun, ku lihat jam dinding, pukul 2 pagi, ada perasaan tak menentu bergejolak dalam hati, rasanya ingin meledak, benar-benar ingin meledak. Ku ambil wudhu bermunajat padaMu, ku ingin menghilangkan segala rasa yang menghantuiku.

Harus kukatakan, iya aku sudah tak sanggup lagi menahannya. Apapun hasilnya Insya Allah akan aku terima, tapi kapan aku akan mengatakannya, besok pagi? Aku tak ingin mengganggunya bekerja hanya untuk masalah pribadi, aku tak ingin. Apa menunggu dirinya pulang kerja, ahhh…pasti dia sudah lelah, penat dengan segala tugas kantor yang menguras tenaga dan pikiran, aku tak ingin membebaninya. Lalu kapan…entahlah tapi aku sudah tak tahan…

Ya Allah, berikan petunjukMu…

Ku coba mengecek si bebe, ternyata dirinya baru saja memperbarui foto. Alhamdulillah, Engkau mengabulkan permohonanku, dia ternyata terbangun. Apakah ini saat yang tepat…

Akhirnya aku beranikan diri untuk menanyakannya.

“Mas, dirimu baik-baik aja kan?”
“Aku baik-baik aja, kenapa?”
“Entahlah aku merasa dirimu tidak sedang baik, perasaanku mengatakan hal yang berbeda. Perasaanku tak pernah bohong, jika ada hal yang berubah padamu, aku tahu.”
“Aku memang baik-baik aja kok.”
“Jujur aja mas, kalau kamu bohong justru menyakitiku.”
“Baiklah”

Akhirnya dirimu menyerah, dan perasaan aneh ini semakin menghebat.

“Orang tua ku tak merestui hubungan kita. Aku tak ingin menyakitimu dengan terus melanjutkan hubungan ini. Semakin dalam perasaan ini akan semakin menyakitkan.”
“Baiklah, orang tua memang selalu menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Aku akan mencoba menghormati keputusanmu. Kau tak ingin berjuang?”
“Aku tak ingin menyakiti mereka. Aku jarang berada di sisi mereka, setidaknya dengan menerima keputusannya, sedikit bisa melegakan hati mereka.”

Kucoba menguatkan hati dan menahan air mata ini, tapi kekuatanku tak banyak, air mata ini terus mengalir, mengalir tanpa henti.

Kau tak menjelaskan mengapa orang tuamu tak merestuiku, aku pun tak menanyakannya hanya asumsiku yang menjawabnya.

Apakah orang tuamu benar-benar tak merestui hubungan ini atau karena dirimu memang sudah tak menginginkanku? Ternyata ketulusan, kesetiaan, dan pengorbanan belumlah cukup. Amarahku tak puas.

Ku coba ikhlas menerimanya tapi nyatanya aku belum bisa, kekecewaanku terlalu besar bukan karena orang tuamu yang tak merestui hubungan ini. Aku tak marah pada mereka, aku hanya kecewa pada sikapmu, sedikit pun kau tak ingin berjuang atau bahkan untuk mencoba pun kau enggan. Semakin menyiksa rasanya.

Aku tak memintamu melawan mereka hanya untuk aku, tidak, tidak sama sekali. Aku tidak mau membuatmu menjadi anak durhaka, akan sangat berdosa diriku menjadikan dirimu seperti itu. Aku tak akan membiarkanmu menunjuk-nujuk muka mereka sambil bertolak pinggang dan mengeluarkan sumpah serapah pada mereka. Tidak akan pernah kubiarkan kau melakukannya.

Yang kumau bukan perjuangan seperti itu, itu hanyalah perjuangan orang-orang bodoh, perjuangan orang-orang yang berputus asa.

Aku hanya minta kau berjuang untuk aku, berjuang untuk kita…dan berkata, “Genggamlah tanganku, jangan kau lepaskan sedikit pun, temani aku berjuang, beri aku kekuatan, kita akan berjuang bersama.”

kriiiiiiiiiiing……..jam weker berbunyi, aku langsung terbangun kaget dan terduduk lunglai….ahhhh…mimpikah aku tapi seperti nyata…
Ya Allah akankah dirinya mengucapkannya jika ini benar-benar terjadi….

Advertisements

10 comments on “Nyatakah ini…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s