Beliau tetap bapak ku…

Masih terasa dinginnya kulit saat terakhir kali ku cium pipinya, 2 tahun yang lalu, tak ada balasan meskipun hanya senyuman tipis. Ku tarik napas dalam dan berat dari pipi jenazah Bapak.

Penantian panjang kami berakhir, Bapak telah kembali setelah lebih dari 3 tahun tak pernah mengunjungi kami, Ibu, aku, dan Kedua adikku.

Pulang terbujur kaku, tak bernyawa, menyisakan guratan lelah di pipi, dingin.

Ya Allah, tiap malam ku bermunajat kepadaMu, memohon agar Bapak bisa segera berkumpul dengan kami, Alhamdulillah Engkau telah penuhi janjiMu tapi dalam keadaan sungguh diluar harapan kami.

Perjalanan Bapak telah berakhir dengan menyisakan luka yang cukup mendalam di hati kami, terutama Ibu yang telah setia menemani bapak selama lebih dari 27 tahun.

Ya, luka itu telah tergores sejak Ibu mengetahui Bapak telah menikah lagi dan mempunyai dua anak perempuan.

Pernikahan kedua yang telah berlangsung 4 tahun, dan selama itulah semua terbungkus rapi demi sebuah kebohongan. kecewa, marah, sakit hati, bingung, tak percaya, semuanya menyatu dan meledak menjadi kebencian. Rasanya kuingin segera bangun dari mimpi buruk ini.

Peristiwa ini benar-benar membuat Ibu terpuruk mental dan fisik sepanjang aku bersamanya. Berat badan turun drastis, wajah menua dan kuyu, mata meniyipit karena hanya tangis yang selalu dijadikan teman berbagi sepanjang hari.

“Nasi telah menjadi bubur, yang bisa dilakukan sekarang hanyalah membuat bubur itu lebih terasa nikmat, bubur ayam spesial”, tanpa bumbu kemunafikan, yah…benar kukatakan kepada Bapak setelah pengakuan yang menyakitkan.

“Yang kuminta hanyalah Bapak bisa berbuat adil, adil dalam segala hal, waktu, materi dan kasih sayang.”

Semoga Ibu termasuk seorang yang dijanjikan masuk surga dengan mengikhlaskan diduakan seperti janjiNya

Aku tak mungkin meminta menceraikan istri keduanya meski batin ini mengatakan harus, karena ku mau senyuman, tawa dan canda ibu kembali, tapi apa inikah yang disebut adil?

Bukankah yang di sana juga perempuan? Yang pastinya punya pikiran sama denganku saat ini.

Ah tidak..aku tak sekejam itu, apalagi anaknya masih cukup kecil, belum pantas rasanya untuk paham arti sebuah kebencian dan keadilan. Aku bukan orang yang egois tapi aku juga manusia dan lebih-lebih Ibu adalah perempuan yang mau dicintai lebih…

Rasanya tak ada satupun mahluk perempuan di dunia ini yang mau berbagi kasih sayang.

Tahun demi tahun pun berlalu, ternyata Bapak tak berhasil memenuhi janjinya. Keadilan terasa jauh diwang-awang.

Bapak lebih banyak menghabiskan waktunya dengan keluarga barunya dan memenuhi semua kebutuhan mereka, sedangkan kami….. ah berat terasa.

Tapi dia tetap suami Ibuku, Bapakku, dan benar janjiNya, keadilan hanya milikNya….

Advertisements

12 comments on “Beliau tetap bapak ku…

  1. ~kebencian dan keadilan… 2 kata yang sarat makna 😉
    semua orang faham dan maklum artinya,
    namun nafsu membawa angkara murka,
    kurang waspada bisa celaka ,,, akhirnya dapat titel sang durjana? 😦

  2. Sabar ya
    pengen peluk Iqoh..

    Semuanya sudah di rencanakan Oleh Nya
    tidak ada yang bisa menentang kehendakNya

    Semoga Ibu dan kel di beri ketabahan dan kesabaran
    Amin.

  3. Iqoh … saya komen balik dgn m’klik Iqoh dari blog saya ..kok yg keluar blog ini … Iqi Si Perempuan Kental – Aku perempuan yang boleh berdiri di atas kaki sendiri …
    terpaksa saya klik ‘Iqoh dari blog teman (misal blog Orin) baru keluar ‘blog ini …kenapa gitu?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s