100 juta pelanggan 100 juta cerita (1)

Setelah baca postingan teh Nchie mengenai kebenciannya terhadap supermarket yang ternyata dilandasi pekerjaannya terdahulu (kalau mau tahu), melanglang buana di dunia persupermarketan ternyata justru membuat kerinduan saya pada pekerjaan yang lama datang bersilaturahmi… 🙂 pekerjaan yang cukup jauh berbeda dengan pekerjaan saya saat ini.

Ternyata hampir 5 tahun sudah saya bekerja sebagai romusha Jepang, menjajakan resleting ke seluruh dunia…*betah euy…apa mentok yak… 🙂 * selalu berusaha bersyukur masih diberi kepercayaan Allah 😉

Menjajakan resleting merupakan pekerjaan ketiga saya setelah sebelumnya bekerja sebagai tenaga perbantuan di butik pakaian muslim yang maskotnya Inneke Koesherawati selama 4 bulan, lalu sambil menunggu panggilan kerja berikutnya saya sambi dengan memberikan kursus Bahasa Jepang untuk adik teman saya. Walaupun hasilnya tidak seberapa, Alhamdulillah masih bisa berbagi ilmu plus biar ga lupa juga.

Akhirnya di pertengahan 2006, saya diterima bekerja di salah satu provider telepon dengan 100 juta pelanggannya, sebuah pekerjaan yang ga pernah terbayang jangankan terbayang singgah aja ga pernah, sama sekali ga nyambung sama latar belakang pendidikan. Yuppz, saya bekerja sebagai call center officer, si penerima telepon atau operator telepon, penerima berbagai macam keluhan dari A sampai Z. Begitu dapat pekerjaan ini agak-agak bingung juga memang ada yang telepon ya..perasaan selama saya menggunakan telepon genggam, fine-fine aja, ga pernah ada masalah.

Ternyata….setelah terjun langsung, edaaann…banyak juga ya yang telepon, sampai keriting jari sama bibir…huffft….plus kepala berasa ngebul…qiqiqi…

Di awal bekerja, saya cukup kerepotan, pertama karena saya memang masih baru lalu pengetahuan akan produk masih pun minim plus belum terbiasa dengan multitasking karena hampir anggota tubuh bekerja, jari, mulut, telinga, mata, serta otak ga boleh kosong apalagi sampai bengong ditambah menggunakan dua alat bantu yaitu komputer dan telepon secara bersamaan..huffftt…

Karena pekerjaan ini non stop 24 jam, otomatis bekerja dengan sistem shifting yang berbeda setiap harinya dan terkadang hari libur nasional maupun keagamaan dapat jatah masuk. Cukup berat sih di awal memang, jadi ga kenal saudara, yang umumnya orang-orang libur di hari sabtu dan minggu, saya di hari kerja mau ga mau saat libur dipakai untuk tidur.

Sistem shifting yang dipake berbeda-beda tergantung jenis kartunya. Untuk anak-anak pemula alias karyawan baru diterapkan 8 shifting, jam 6, 8, 9, 14, 15,16, 17, dan jam 0.00 (agak-agak lupa saya), 5 hari kerja libur 1 hari, 6 hari kerja libur 2 hari. Untuk yang pulang malam disediakan mobil jemputan, diantar sampai depan rumah tapi kalau mau sampai depan kamar juga boleh kok…qiqiqi…dan saya termasuk karyawan yang sering dapat shift malam, terlalu sering malah sehingga dapat julukan “wanita malam”. Tapi, jujur saya memang lebih suka dapat shift malam karena hanya keluar ongkos berangkat saja *ga mau rugi*, malam kan diantar jemputan terus dapat uang lemburan plus susu, kopi, and mie cup gratisan. Padahal itu mie cup jarang sekali dikonsumsi, hanya menumpuk di locker so saya jual lagi deh…qiqiqi…lumayan untuk nambah ongkos… 🙂

Setiap hari saya selalu punya cerita baru dan seru, dari yang aneh, bodoh, konyol, kocak, beraneka jenis. karena setiap hari ada saja keluhan beda dengan para customer yang beda pula ditambah lagi cerita dari teman-teman saat istirahat. Hidup jadi ga monoton-monoton banget, kalau ditunjukin pakai grafik jadi bergelombang, naik turun, seru euy 😉

Setiap harinya kami diberi target pelanggan, dan itu berbeda-beda. Di awal saya diberi target 215 pelanggan/telepon dan terakhir saya dikenakan target 250. Dalam satu hari 7 jam kerja dan 1 jam istirahat, jika target 215 maka dalam jangka 7 jam itu, 1 pelanggan atau 1 kasus harus diselesaikan dalam jangka waktu antara 1.5 – 2 menit, kebayang dong gimana tuh bibir…qiqiqi…

Mulanya sih keteteran, hampir sebulan jarang sekali tutup target, setelah terbiasa akhirnya bisa nutup juga bahkan bisa dapat lebih. Sesuatu hal yang baru pun bila biasa dilakukan maka akan bisa juga. Tapi, tak ayal ada saja hari-hari dimana sedang apes, tidak bisa tutup target karena dapat pelanggan yang ngeselin atau keluhan-keluhan yang tidak lazim karena harus menghubungi beberapa PIC. Alhasil, jika tidak tutup target, di hari berikutnya jadi kerja rodi, menambah kekurangan yang kemarin.

Demi menutupi target ini juga, tak ayal banyak teman-teman yang akhirnya memilih aliran sesat dengan berbagai macam tipe. Target ini akan sangat berpengaruh terhadap penilaian kinerja dan akhirnya bermuara di penerimaan kantong kami di tiap bulannya.

Pekerjaan ini ternyata memang dunia baru bagi saya dan banyak memberikan manfaat. Saya jadi ga gaptek-gaptek banget, selalu tahu info-info terbaru lagu-lagu yang sedang in di pasaran, kenal banyak karakter orang, melatih kesabaran, tapi efek sampingnya juga ada saya jadi bawel alias cerewet plus jago ngeles…qiqiqi.. *padahal emang dari sononye, cari pelampiasan 🙂  *

Selain itu pula, saya jadi tahu gimana rasanya tahun baruan di kantor, lebaran di kantor plus banjir-banjiran. Karena di saat-saat itu, saya dapat jatah masuk. Sedih campur senang, sedih karena tidak merayakannya bersama keluarga, senang karena dibayar 2x lipat…qiqiqi…

Call center ternyata bukan pekerjaan mudah, butuh fisik yang kuat, kecepatan berpikir, ga boleh lemot, kesabaran tingkat tinggi, pengetahuan yang luas, kecekatan dan ketepatan, pintar menjaga sikap melalui suara yang tetap stabil meskipun sedang kesal tingkat dewa 🙂 Tanggung jawab yang besar pun kami emban karena kami garda utama sebuah perusahaan terutama di bidang jasa, belum lagi kalau harus masuk koran, karena pelanggan merasa tidak puas dengan jawaban padahal kami bekerja sudah sesuai SOP..huuuftt. Tapi, masih saja ada orang yang merendahkan pekerjaan ini, mungkin karena mereka belum tahu seperti apa dalamnya ya…mmmhhh…

Berat tapi ngangenin 😉

*kapan-kapan bakalan aku ceritain lika-liku para pelanggannya yang ga kalah seruuuu*

Advertisements

7 comments on “100 juta pelanggan 100 juta cerita (1)

  1. aduh, bingung mau komennya, secara saya ini paling sering berantem sama petugas call center 😦 soalnya ga pernah puas dengan jawaban yang mereka berikan. Ga tau deh klo ketemunya sama mba Iqoh, mungkinkah pandangan negatif saya ini akan berubah?
    Dan hari ini saya baru tau kalau petugas call center itu dikenai target, pantas saja terkesan buru2 mau tutup telpon. aneh juga ya?! Kenapa harus ditargetkan? oh … kuatir malah ngobrol ga jelas sama penelpon ya? Aduuuh … begitu kah?

    Jadi bingung selanjutnya mau ngomel2 sama petugas call center atau malah nelpon bolak balik agar targetnya terpenuhi? 😀

    • owww…owww…ternyata mba nique ya… 🙂

      sebenarnya hampir semua keluhan sudah ada solusinya masing2 sih mba tapi ada juga yang ga dan ketika ditanya ke atasan pun dia ga tau jawabannya alhasil kita jadi coba kasih solusi yang akhirnya jd terkesan asal2an plus dikenai target and pengetahuan yang minim juga, apalagi klo call centernya masih baru and dia malas nanya ke senior.

      klo ketemunya aq, aq kasih jawabannya lewat blog aja deh… 🙂

      Saya juga bingung kenapa ditarget…qiqiqi…bisa jadi itu salah satu alasannya mba yang akhirnya nanti bikin para penelpon lainnya terbengkalai.

      qiqiqi…dua2nya juga boleh kok mba 😉 lumayan juga

  2. temenku ada yg kerja sebagai customer service di perusahaan profider mbak
    sering denger keluh kesahnya yang macem2
    bahkan ada yg nelpon ngakunya sih pngn tau nada dering / RBT
    eh, dia malah nyanyi2 gtu
    hahahahah..
    temenku gak bisa marah
    karena harus menjaga suaranya agar ttp stabil..
    prnah dpt pnglmn kyk gitu g sih mbak?
    hihiihihih

  3. Waaaa …. kini jadi ‘ngerti bin faham apa n siapa di balik call center … 😉
    hal lain …gak terbayang pekerjaan bidang jasa itu … soalnya dari awal sampai akhir kayaknya cuman jadi ‘pns (mentok dah …) 😛

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s