Saat terakhir…

Ku beranikan diri untuk memeriksa telepon genggamnya, entah ada kekuatan apa yang merasuki tubuhku. Aku cek satu persatu pesan yang masuk…tidak ada yang aneh, semuanya biasa saja, tapi…Ya Tuhan, aku menemukannya, jantungku berdetak lebih cepat, dadaku sesak, tubuhku lemas, tak ada tenaga yang mengaliri kakiku, hanya ada sesuatu yang kurasakan menjalar di hati, sakit, sakit rasanya, air mata ini rasanya ingin tumpah, aku harus tahan, aku harus tahan, dia tak boleh tahu apa yang telah aku lakukan.

Sebuah sms dengan nama seorang wanita di dalamnya berjanji bertemu dan ini baru 2 minggu yang lalu…Ya Tuhan…inikah petunjukMu…

Alhamdulillah, aku segera menyadari siapa diriku, aku memang bukan siapa-siapanya lagi, tak berhak aku melarangnya, kau memang bukan punyaku, kau memang bukan milikku.

Ku coba berlaku seperti biasanya, tetap dengan senyuman terurai menyiapkan minuman hangat dan menunggunya selesai bersiap untuk melakukan shubuh berjamaah. Yah,,,mungkin ini shubuh berjamaah terakhir dengan dirinya.

Aku sudah putuskan, iya ini yang terakhir, tak akan ada lagi jamaah denganmu meskipun hati kecil ini masih berharap kau akan terus menjadi imamku.

Kesediaanmu yang tersisa untuk mengantarku hingga halte terdekat meskipun tanpa harus menunggu bis yang akan mengantarku ke kantor itu tiba, aku tetap sangat berterima kasih dan menghargainya. Segera ku raih dan ku cium tangan mu sebagai tanda perpisahanku, entah kau menyadarinya atau tidak karena kau langsung berlalu pergi. Ciuman hormat dan terima kasih terakhirku untuk semua hal yang telah kau berikan. Ku biarkan kau pergi karena aku tahu kau tak ingin menunggu, kau ingin segera mengakhirinya.

Kini aku hanya bisa menatap punggungmu yang terus menghilang, punggung yang tak akan ku lihat lagi dan menyisakan penyesalan bahwa di pagi ini aku tidak sempat membuatkanmu sarapan, menyemir sepatumu, dan mencium tanganmu setelah shalat shubuh tadi.

Ku masih menunggu sms mu, menanyakan apakah aku sudah tiba atau belum, walaupun hanya sekedar basa-basi tapi hingga hampir satu hari berlalu pun tak kunjung masuk sms darimu. Ku coba menarik napas panjang, mungkin memang ini yang terbaik, tak ada lagi sms dari mu, sehingga aku tak harus mengingkari janji yang telah ku buat sendiri.

Terima kasih Tuhan, permintaanku Engkau terima, menghabiskan satu malam terakhir dengannya, tak akan ada lagi malam-malam berikutnya, karena malam terakhir itu sudah berlalu, hilang tak berbekas, seperti diriku yang telah menghilang di hatinya, berlalu bersama angin.

Hidupmu memang akan lebih bahagia tanpa aku di sisimu.

Jemputlah kebahagiaanmu yang sebenarnya.

Indah ku bersamamu

Bahagiamu bahagiaku

Doaku selalu mengiringi setiap langkah kakimu

.

*nyerpen gantung on the monday 🙂 … maapp ye bozz nyolong lagi diriku…qiqiqi..*

Advertisements

6 comments on “Saat terakhir…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s