Masih adakah asa itu…

“Bagaimana keputusannya?” tiba-tiba sebuah sms masuk.
Langsung saja wajah Aya berubah pias dan panik, akhirnya keputusan terberat dan terpahit dalam hidupnya harus diambil.
”Maaf, sepertinya aku tak bisa mengabulkan permohonanmu. Sebaiknya kau urus saja semuanya.”
”Kau yakin dengan jawaban mu”, sms Aya langsung mendapatkan respon.
”Iya, aku sudah yakin.”
”Baiklah jika itu memang sudah keputusanmu, aku tak bisa memaksamu lagi. Aku akan segera mengurus semuanya.”
**************************

Tiga bulan setelah sms itu, Aya tak pernah lagi mendengar kabar tentang lelaki itu dan memang dirinya tak ingin lagi mendengar apapun tentang lelaki itu. Aya hanya ingin hidupnya kembali normal seperti sebelum lelaki itu memasuki kehidupannya. Tapi hari ini, wanita dengan wajah sayu dan kerutan-kerutan kecil di ujung matanya mengembalikan memorinya tentang lelaki itu.

”Bagaimana nduk, sudah ada keputusan?”

Aya hanya menjawab dengan mengangkat kedua bahunya, malas untuk membicarakannya. Wanita ini seakan mengetahuinya, dan terus mendesaknya,
”Kamu harus tegas ndok, mau sampai kapan kamu begini terus? Dia sudah ndak pernah mengunjungimu lagi, memberimu nafkah lahir maupun batin. Ibu tahu, kamu ndak
usah tutup-tutupin. Sudah waktunya kamu ambil keputusan. Mau sampai kapan kamu digantung?”
”Sudahlah bu, dia sudah janji dia yang akan urus semuanya. Aku udah ga mau peduli lagi.”
”Kalau dia memang mau urus semuanya, tapi ya kok sampai sekarang ga ada beritanya ndok…”
”Entahlah bu…”
”Kamu berhak mendapatkan kebahagian yang lain ndok, kalau kamu digantung kayak gini, sama saja kamu menggantungkan kebahagianmu. Ambil tindakan.”

Aya hanya bisa menarik napas dalam berharap begitu napas dikeluarkan, semua beban langsung menghilang bersama hembusan angin.
*************************

Tiga bulan sudah aku sudah jalani proses ini, tapi belum juga ada titik terang kapan Pak Hakim akan mengetokkan palunya. Benar-benar melelahkan, menguras tenaga dan pikiran, proses yang tak pernah terpikirkan akan seperti ini. Ya Allah…berikanlah hambaMu kekuatan untuk melewati ini semua. Hamba yakin semua ujian yang Engkau berikan sudah disesuaikan dengan kemampuan umatMu.

Alhamdulillah, setelah hampir 6 bulan proses ini kujalani, berakhir juga. Status baru resmi kusandang, walaupun bukan ini yang ku inginkan. Tak pernah terbersit sedikitpun untuk mengalami ini semua, menikah di usia 23 dan harus berakhir di usia 24, itu pun sudah termasuk proses pengadilan. Jadi, hanya beberapa bulan saja aku menikmati indahnya melayani seorang imam, terbangun di tengah malam hanya untuk memasak nasi goreng karena melihat sang suami yang meringis kelaparan, harus bangun lebih awal untuk membuatkan sarapan meskipun terkantuk-kantuk, atau seharian di kantor hanya berpikir tentang menu sarapan dan makanan apa yang akan aku sajikan untuk besok. Subhanallah….

Ya Allah…kapan lagi Engkau ijinkan aku menikmati itu semua. Aku ingin menjadi seorang pelayan bagi suami dan anak-anak ku. Menjadi pengindah bagi kehidupan mereka.
*********************

Satu tahun yang lalu, tiba-tiba dia mengajakku menikah, lelaki yang dulu menjadi teman mainku di masa kanak-kanak, sudah hampir 6 tahun kami tak pernah bertemu dan, kini telah menjelma menjadi seorang lelaki dewasa. Lelaki dengan paras yang sangat jauh berbeda, jujur aku sedikit tertegun melihatnya atau mungkin aku jatuh hati…mmmhhh…entahlah…

Yang pasti tak lama setelah dirinya menyampaikan maksudnya, aku menerima pinangannya, walaupun jujur dalam hatiku belum ada perasaan yang mendalam tapi karena niatku Lillahita’ala, Insya Allah, Sang Pemilik hati akan berbaik hati padaku selain itu karena ia sudah mengetahui benar kondisi keluargaku yang sedang bermasalah, berharap aku bisa bersandar dan merebahkan sejenak kepalaku di pundaknya, memberi aku sedikit kekuatan untuk bisa melewati masalah pelik ini.

Tapi ternyata harapan ku terlalu tinggi padanya, aku terjatuh saat ia tak sanggup memenuhi harapanku. Kesalahan terbesar, jangan pernah berharap pada manusia meskipun ia orang terdekatmu. Dan ketidakpercayaanku bahwa di dunia ini masih ada pria baik pun kembali terpotong hanya menyisakan secuil asa yang hampir hilang.

Aku berharap hanya Ayah yang menyakiti aku, tapi kini teman hidupku pun melakukan hal yang sama. Kembali terluka, di saat luka sebelumnya belum juga mengering. Sepertinya, ada yang salah dalam melaksanakan niatku ini, ada cara-cara yang tidak disukaiNya sehingga kami belum diijinkan berlayar hingga maut menjemput.

Harapan tertinggi memang harus hanya padaMu, pemilik apa yang ada di bumi tanpa terkecuali, termasuk diriku.

Berharap Engkau kan segera menyembuhkan luka ku
Berharap Engkau kan kembalikan senyumku lagi
Berharap Engkau kan kembalikan kehidupan terindahku
Berharap Engkau kan hadirkan Ia yang ada dalam setiap doa-doa malamku
Berharap Engkau kan menjadikanku pelayan bagi kebaikan-kebaikan yang mengindahkanku.
Berharap Engkau kan menghebatkanku di setiap kejadian yang kau anugerahkan padaku.

Sujud panjangku hanya untukMu pemilik hati dan ragaku.

Advertisements

14 comments on “Masih adakah asa itu…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s