‘Marunda Kepu’, Sisi ‘manis’ kota Jakarta (part 1)

Mungkin postingan kali ini sedikit memiliki hubungan dengan postingan saya sebelumnya “Being care and sensitive”.

18 Februari 2011 (sudah basi ya,,,maklum belum punya blog :)),  merupakan pengalaman saya pertama kali melakukan sensing. Sensing berasal dari bahasa Inggris sense yang berarti penginderaan atau merasakan, memahami atau mendalami sesuatu hal sehingga kita bisa ikut merasakan dan memahaminya (definisi sendiri, boleh protes kok… 🙂 qiqiqi :)), hal ini kami dilakukan agar ide-ide program yang kami berikan bisa tetap sasaran, sesuai dengan apa yang dibutuhkan oleh warga.

Sensing Journey  ini saya lakukan bersama 2 orang teman saya, Pak Teguh and Pak Jano, seharusnya ada satu lagi Bang Toga, tapi kebetulan beliau sedang ada urusan kepemerintahan jadi sulit untuk mengatakan tidak, maklum salah satu staff menteri :), terpaksa deh bertiga saja. Mereka adalah teman satu kelas kuliah saya dan kebetulan kami memang satu kelompok.

Sensing Journey ini memang sengaja kami lakukan sebagai salah satu tugas kuliah praktek “Atkinson Tools” yang materinya sudah kami dapatkan 2 minggu sebelumnya. Lokasi yang kami pilih untuk melakukan sensing ini adalah sebuah desa tua yang pada abad 16 M merupakan basis penyerangan Mataram atas Batavia, dengan posisi di ujung timur kota Jakarta berbatasan dengan Kabupaten Bekasi, yuppzz, Marunda Kepu, Marunda dari Markas yang tertunda , Kepu, asalnya dahulu banyak terdapat pohon Kepu di desa ini yang sekarang menjadi aliran BKT (Banjir Kanal Timur).

Marunda Kepu, desa nelayan yang beberapa tahun belakangan ini sering sekali diberitakan (sering banget nongol di koran nasional) dan banyak dijadikan projek bagi program kerja para LSM atau NGO. Jadi, pasti sudah banyak artikel yang membahas Marunda Kepu. Saya mengetahui desa ini pun dari Pak Jano yang memang bekerja di salah satu LSM terkenal dan desa ini juga merupakan salah satu area kerjanya.

Kami berangkat dari kantor Pak Jano yang lokasinya berada di daerah Cilincing, sekitar pukul 9 pagi dan langsung menuju lokasi dengan menggunakan mobil Pak Teguh. Tak sampai satu jam kami sudah tiba di lokasi. Jujur… saya tertegun, speachless, tanya kenapa??

Setelah tersadar, saya ga bosan-bosannya bertanya pada bapak-bapak ini, “Pak ini masuk Jakarta?, ga salah?, di Jakarta ada yang beginian juga?” (norak.com #adooohh…tepok jidat deh#)

air laut yang tenang and angin cepoi-cepoi

Ini merupakan pintu masuk menuju Marunda Kepu yang jalannya cukup lebar tapi sayang masih tanah liat, jadi kebayang dong kalau turun hujan dan saya punya cerita yang tak terlupakan terkait hal ini yang bakalan saya ceritakan di part 2. Dari jembatan ini, kami harus masih berjalan kurang lebih 200 meter. Cuaca cukup panas tapi anginnya cepoi-cepoi cukup untuk bikin mata kreyep-kreyep. Dalam 200 meter ini kami disuguhi kanal yang sepanjang sisi kanannya banyak ditumbuhi tanaman eceng gondok tapi di sisi kiri berdiri beberapa bangunan rumah susun, pas kan,,,qiqiqi,,,

Jalanan yang punya story lucu plus,,,,,,

Eceng gondok dan rusun...mmmhhhh....

Akhirnya, kami tiba juga di Desa Marunda Kepu, ini dia…..

rumah warga kepu

rumah masih dengan dinding anyaman bambu

Desa yang terdiri dari bangunan-bangunan yang saya pikir belum bisa dikatakan sebuah rumah yang belum layak huni.

saluran pembuangan air yang bergabung

Sanitasi yang buruk, lingkungan yang kotor dan kumuh. Tempat pembuangan sampah dan rumah yang saling berdekatan serta tersebar di beberapa titik.

salah satu tempat pembuangan sampah warga

Tapi, tak menjadi masalah untuk anak-anak ini, mereka masih bisa santai bermain kok….huuufffttt….

asyik kok main di sini....

dan ternyata juga hampir seluruh rumah yang ada di desa ini berdiri di atas daratan yang mereka bentuk sendiri, yaitu dari tumpukan sampah ini. Mesti kagum atau………

Saya hanya bisa nyengir meringis plus bingung…..

So what do you think guys, still need the next story…….

*udah keseringan nguap plus mata juga menurun watt nya*

Advertisements

5 comments on “‘Marunda Kepu’, Sisi ‘manis’ kota Jakarta (part 1)

  1. wah bagus sekali mbak iqoh telah membuat “sensing journey” ke marunda kepu..saya salut. saya juga akhir tahun ini dari marunda kepu, tapi dalam rangka mengerjakan tugas kuliah, pesisir. btw, rumah kampung nelayan yang mbak foto ini ada di mana ya?ada di balik jembatan yang berseberangan dengan pangkal banjir kanal timur atau di pojok yang pangkal banjir kanal timur?

    • Terima kasih 🙂 tapi maaf informasinya belum semua disampaikan. Seri keduanya belum selesai juga…qiqiqi…aku ke sana juga dalam rangka menyelesaikan tugas kampus. Dua2nya juga punya kayaknya…*loading mode on* 🙂

  2. Pingback: Srikandi in Sensing | iqohchan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s